
Esoknya Marsel terbangun, ternyata dia masih diatas meja bersama tumpukan berkas yabg belum selesai.
Para karyawan sudah kembali bekerja, Marsel segera menyiapkan dirinya untuk sekolah, hal dikantor dia percayakan pada assistenya.
Meski lelah badan tapi obat pqling mujarab adaik di sekolah, dia bisa bertemu sahabat sekaligus penyemangat hidupnya di sana.
Marsel tidak sempat sarapan sama sekali dia buru-buru karena mau ke sekolah.
Marsel menghubungi teman-temanya untuk bertemu di depan gerbang sekolah.
"📲..fino lo cepat ya gue tunggu depan gerbang, jangan lupa bawa sarapan. Telpon langsung ditutup tanpa manunggu jawaban dari Fino.
Fino yang menerima telpon hanya menarik nafas dalam, tak aneh dengan sifat Marsel, yang terkesan seenaknya, tapi Marsel adalah teman yang baik, jadi permintaan kecil seperti itu tak dia permasalahkan.
Defa seperti biasa berangkat dengan tangan yang selalu isi dengan buku-buku yang dia pinjam di perusahaan, entah berapa ratus buku yang sudah dia baca, karena hampir setiap hari tanganya tak pernah kosong dengan buku-buku.
Defa naik ojol, hari itu papa nya yaitu Defano tak dapat mengantarnya, jadi ojeg online adalah solusi untuk dia berangkat sekolah hari ini.
Marsel sudah duduk di depan gerbang sekolah, dia sudah ditinggakan sama supir yang mengantarnya tadi, sekarang dia ditemani Fino dan Tian yang juga baru sampai di sekolah.
" Gimana udah dapat orang yanh kamu curigai?" kata Fino pada Marsel.
"kecurigaan mengarah pada satu orang, tapi bukti belum kumpul semuanya, gue masih menunggu bukti yang lainya lagi". jawab Marsel.
" mau ditunggu sampai kapan?" Tian merasa kasian juga dengan Marsel yang sangat sibuk..
" semoga cepat ketemu orangnya ya" Tian dan Fino hanya bisa mendukungnya saja.
Ojol berhenti di depan gerbang sekolah, Marsel melirik sebentar orang yang turun dari ojol tersebut.
Defa pun segera turun, dia tak melirik kiri kanan, langsung saja menuju gerbang untuk segera masuk sekolah.
Marsel yang melihatnya segera mengejar Defa meninggalkan Fino dan Tian yang menemaninya tadi.
Fino dan Tian hanya menggelengkan kepala, saling melirik dan mengendikan bahunya.
Defa yang sedang berjalan tiba-tiba hidungnya mencium farpum seseorang, dia segera melirik nya.
"hai nona cantik?" Marsel tersenyum saat Defa melirik padanya. Defa berhenti sebentar kemudian berjalan agak pelan memberi ruang orang disebelahnya.
"hai juga, Gimana kabarnya?" Deda baliak bertanya.
"baik, seperti kelihatanya" jawab Marsel.
__ADS_1
"sini bukunya biar gak berat" Marsel mencoba membantu Defa tapi Defa tidak mau membebani Marsel.
"gak usah aja, gak apa-apa ko" Defa menolak secara halus.
"gak berat ko, masa cowok kalah sama cewek" Marsel mambanggakan dirinya. Dia tak mau diremehkan oleh Defa.
"yaudah ni kalo mau bawa" Defa langsung memberikan bukunya, dia tak mau berlama-lama berdebat soal buku.
Marsel menerimanya, diatas senang bisa membantu Defa.
"duduk dulu bentar yuk, lumayan masih ada beberapa menit lagi" Marsel merasa ada peluang mengajak Defa, Defa mengikutinya saja, Marsel merasa bahagia melihat Defa yang tak banyak drama tersebut.
"udah sarapan belum?" Defa melihat Marsel agak tak bersemangat, dia berinisiatif bertanya duluan.
"belum, kerjaan banyak banget" jawab Marsel.
"semoga dilancarkan ya" Defa mendo'akan Marsel dengan tulus, nyessss..hati Marsel langsung adeum, semangat nya seakan kembali lagi, walaupun Defa pacar paksaanya, tapi dia bahagia Defa memberi perhatian padanya.
Defa membuka tas nya, dia mengeluarkan bekal yang sudah satu set dengan minumnya, cukup praktis dan tidak makan tempat.
"sarapan ini aja, lumayanlah buat pengganjal perut" kata Desa sambil memberikanya pada Marsel.
"Mau dimakan sekarang atau dibawa aia?kalo mau sekarang masih ada waktu ko" katua Defa lagi.
Defa mambukakan bekal nya, dia menyimpanya di depan Marsel, tak lupa sumpitnya juga dia bawa di berikan pada Marsel.
Marsel begitu lahap, makanannya habis tan bersisa. Ada juga beberapa potong buah yang sudah tinggal makan, Defa juga menyuruhnya memakannya.
Melihat semua makanan habis, Defa tersenyum setelah itu memberikan bekal minumnya juga pada Marsel.
"makasih ya, makananya enak banget, pantesan kamu jarang beli dari kantin, bekal kamu lebih enak dari ternyata" Marsel memuji bekal yang dibawa Defa, Dafa tak menggubris apa yang dikatakan Marsel, dia hanya tersenyum saja.
"waktunya mepet, gue duluan ya mau masuk kelas" kata Defa sambil segera jalan meninggalkan Marsel sendirian, Marsel hanya diam tapi tak lama kemudian dia menyusul Defa.
"Defa makasih ya" kata Marsel sambil merasa tak enak hati pada Defa.
"santai aja, gak apa-apa ko" kata Defa.
Defa pun segera masuk kelas dan Marsel pun malakukan hal yang sama, dia menuju ke kelas nya.
Pulang sekolah ini Marsel tak bisa menemui Defa, karena ada pertemuan klien yang sangat mendadak, Marsel dijemput dan segera bersiap menemui klien tersebut.
Marsel di dandani dengan cepat di dalam mobil, dia harus bertemu klien di luar, semua Materi sudah disiapkan, Marsel hanya membacanya sebentar, tapi dia berusaha fokus dalam mempelajarinya.
__ADS_1
Mobilpun mengantarkan mereka ke restoran elit yang sudah di pesan sebelumnya. Marsel pun masuk dia menemui utusan dari PT luxiapro, mereka berbincang agak lama, banyak hal yang dibicarakan, pada akhirnya dengan penuturan Marsel yang begitu detail dan sempurna membuat mereka sangat puas sekali.
Pertemuan pun selesai, Marsel di antarkan lagi oleh asistenya ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan lainya.
Marsel mulai meneliti lagi kacurangan di perusahaan, dia mendapatkan bahwa ternyata aliran uang selama ini masuk ke bagian ke uangan tidak sepenuhnya, dia menelusuri lagi, mengecek tiap rekening dan bertumpu pada seseorang yang selama ini dia curigai.
Bukti-bukti sudah dia dapati, dia juga mewawancara setiap orang yang masuk dalam tim akunting dan keuangan.
Orang yang dicurigai Marsel adalah orang kepercayaan keluarganya, dia begitu marah, bagaimana bisa orang yang telah hidup dari perusahaanya malah dia sendiri yang akan menghancurkanya.
Marsel tak bisa membuat keputusan sendiri, dia memutuskan segera menemui keluarganya di luar negeri.
Marsel bimbang, kalo dia pergi dia tak bisa menemui Defa, tapi kalo dia tak pergi perusahaan akan semakin kacau.
Dengan tekad yang bulat Marsel ingin segera mengakhiri semua ini.
Malam pun tiba, Marsel ingin bertemu dengan Defa, tapi dia belum ijin dan tidak punya nomor ponselnya, dia ragu..
"duh gimana ya? ko gue jadi takut gini ya?" Marsel berfikir bolak-balik, akhirnya dengan tekad yang kuat dia pun memutuskan menemui Defa di rumahnya.
"tok..tok..Assalamualaikum.." Marsel bertamu ke rumah Defa, dari dalam rumah terdengar suara kaki mendekati pintu.
"deg..deg..deg.." Marsel grogi tapi dia sudah disana.
"waalaikumsalam, eeeh nak Marsel, ada apa malam-malam kesini, tumben..." ternyata itu Difia, dia heran ada Marsel, padahal tak pernah sekalipun datang malam-malam kerumahnya.
" Defa nya ada tante?" Marsel memberanikan diri.
"ada, duduk dulu, tante panggil Marsel ya" Marsel mengelus dada, untungnya punya camer yang baik hati jadi mengijinkan dia bertemu Defa.
"Marsel, ada apa? Defa langsung bertanya, karena heran dengan kedatangan Marsel.
" em..Defa gue cuma sebentar ko, em..malam ini gue mau berangkat ke London, kita takkan bertemu sebentar, mungkin beberapa hari gitu" kata Marsel gugup.
"emang ada acara apa?" Defa baliak nanya.
"ada yang harus diselesaikan, gitu aja sih, jadi lo jangan selingkuh ya jangan lupain gue, do'ain supaya urusannya cepat selesai" Kata Marsel, dia seolah manjadi orang lain dihadapan Defa, manja dan selalu minta perhatian lebih.
"iya, hati-hati ya" kata Defa sambil tersenyum.
"yaudah gue berangkat nya sekarang, sampai ketemu lagi nanti" kata Marsel pamit dan langsung naik mobil.
Defa hanya bisa mengantarkannya ke depan, diapun segera masuk kembali ke dalam rumah.
__ADS_1