Cinta Difia

Cinta Difia
pindah ruangan


__ADS_3

Defa terburu-buru untuk pulang, hatinya tak tenang, dia teringat terus dengan papanya, bagaimana keadanya sekarang, tadinya dia tak ingin sekolah saja, dia ingin menemani mamanya di rumah sakit, tapi mamanya menolak, dia ingin Defa tetap sekolah seperti biasanya.


Saat tiba di depan sekolah Defa langsung naik ojol yang ada di hadapanya, dia langsung menuju rumah sakit tempat papanya dirawat.


Sesampainya di rumah sakit Defa langsung menemui mamanya, dia ingin tau kabar papanya.


"ma..papa gimana, udah ada perkembangan belum?" Defa bertanya sambil menyenderkan badanya ke pelukan mamanya yang sedang duduk di kursi.


"belum sayang, do'akan ya" Defa hanya mengangguk tanda menyetujui mamanya.


"Defa lihat papa dulu ya" Difia hanya mengangguk dan Defa pun pergi melihat papanya dari kaca penghubung.


"papa..cepet bangun dong, Defa kangen papa, jangan lama-lama tidurnya pak" gumam Defa, air matanya mengalir tak terbendung.


Tak pernah disangka papanya akan terbaring di rumah sakit, tadi sebelum berangkat sekolah, Defa dan papa masih sempat bercanda, papa sempat mengelus rambutnya, dan menasihatinya.


"sayangnya papa jadi anak baik ya, yang pinter, jangan dulu mikirin cowok, kalo dia jodoh kamu nanti juga pasti sama kamu, yakin aja"


Air mata Defa semakin tak terbendung, dia hampir terisak kalo teringat dengan nasihat papanya.

__ADS_1


Rasanya seperti mimpi yang terbawa ke dunia nyata. Defa menarik nafas dalam-dalam, dia ingin menghentikan air matanya.


"papa pasti cepat sembuh, mama, Defa dan nenek menunggu papa ya" gumam Defa yang seolah ngobrol dengan papanya.


Dibelakang Defa, Difia juga mengalir deras air matanya, dia tak tahan melihat pemandangan dihadapanya.


"hem seandainya kemarin aku larang, mungkin papa tak kan seperti ini" Difia menyalahkan dirinya sendiri dengan kejadian itu.


Defa dan Difia duduk bersama menunggu Defano di rumah sakit, Difia sebenarnya sudah menyuruh anaknya untuk segera pulang ke rumah tapi Defa tak mau, dia ingin menaninya, segala bujuk rayu sudah Difia buat supaya Defa mau pulang, tapi Defa kekeh mau menaninya.


Defa dan Difia menunggu tanpa lelah, mereka sesekali melihat keruangan papanya, sampai pada waktu untuk pemeriksaan papanya, Defa masih disana.


Tibalah dokter yang akan memeriksa.


"gak ah dok, mau nungguin papa" jawab Defa pada dokter. Dokter hanya tersenyum, diapun langsung masuk ruangan papa nya Defa.


Defa hanya melihat dari luar karena belum diperbolehkan untuk masuk.


Dokter memeriksa dengan teliti, Defa menunggu dengan tak sabar diluar, dia ingin segera mendengar kabar papa nya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian dokter pun keluar, dia menarik nafas dalam-dalam. Defa langsung menemui dokter karena penasaran, begitupun Difia, dia juga sangat penasaran dengan kabar suaminya tersebut.


"Ibu sama ade boleh ikut ke ruangan saya sebentar" dokter pun jalan lebih dulu, Defa dan mamanya mengikuti dari belakang.


Sampailah di ruangan dokter, Defa dengan tak sabar langsung duduk sebelum dipersilahkan oleh dokternya, dokterpun mengerti dengan perasaan Defa, dia pun duduk ditempatnya.


"ibu, adek untuk saat ini alhamdulillah pak Defano sudah mulai ada perkembangan, kita bisa memindahkanya ke ruang perawatan." Dokter menyampaikan kabar Defano.


Defa sangat senang, diapun langsung memeluk mamanya.


"alhamdulillah ma, smoga papa cepat sembuh ma" kata Defa sambil terisak.


"insya Allah nak" Difia menjawab dengan memeluk anaknya erat, dia terharu dan bahagia dengan kabar tersebut.


"bagaimana bu, mau dipindahakan sekarang atau nanti?" dokter bertanya pada Difia.


"sekarang aja dok"jawab Difia cepat, dia ingin segera bisa berdekatan lagi dengan suaminya itu.


" yasudah, ibu bisa urus semua pemindahannya sekarang, biar kamarnya dikosongkan saja"

__ADS_1


Setelah diskusi itu, semua bergerak cepat, Defa mendorong brangkar yang diisi Defano.


Defano sudah dipindahakan, Defa pun menunggu di kursi dekat pasien, dia berharap ada keajaiban lainya menghampiri papanya.


__ADS_2