Cinta Difia

Cinta Difia
Bertemu Keluarga


__ADS_3

Marsel dan keluarga besar meeting sampai berjam-jam, mereka tak habis fikir dengan Mr. Diego yang mereka percayai justru dialah yang menghancurkan juga.


Bertahun-tahun mereka bekerja bersama, dari mulai hanya 2 cabang sampai berkembang keluar negeri.


Mr. Diego selalu diajak dalam acara-acara resmi perusahaan, di beri fasilitas yang mewah, tapi malah ingin menghancurkanya.


Padahal jika Mr. Diego menginginkanya, bukan tidak mungkin dia akan diberi salah satu anak dari perusahaannya.


Mereka membicarakan segala kemungkinan yang ada, begitu juga kandidat pangganti untuk Mr. Diego.


Banyak hal yang mereka sampaikan hingga pada akhirnya Marsel meminta ijin untuk pulang duluan, dia sudah terlalu lelah dari mulai perjalanan hingga meeting yang tak berkesudahan.


Bagi Marsel sikap keluarganya mampu meningkatkan kesiapan dirinya dalam berkarir, sehingga dia lebih bersemangat lagi untuk kedepanya.


Marsel tak pulang ke rumah, dia sudah memesan hotel yang dekat dengan perusahaanya.


Saat Marsel ingin merbahkan dirinya, masuklah telpon dari orang tuanya.


"Marsel dimana?"


"Dia hotel bu"


"kenapa tak pulang ke rumah?"


"buat apa bu, kan ayah dan ibu juga gak ada di rumah" diseberang telepon ibunya Marsel terdiam, manarik nafas panjang, memang salahnya tak pernah mengurus Marsel, dia hanya mengikuti suaminya berpindah-pindah tempat ke berbagai negara, sedangkan Marsel hanya tinggal bersama pembantunya saja.


"bisa ibu ketemu?" terdengar suara mengiba di seberang telpon.


"bisa bu, kesini saja, Marsel ingin istirahat" Kata Marsel, karena memang dirinya sedang kecapean.

__ADS_1


"kirimkan alamatnya, ibu sama ayahmu kesana" kata ibunya lagi, sambil segera menutup telponnya.


Marsel mencoba menuruti kemauan ibunya, bukan hal mudah bagi Marsel bisa menerima orang tuanya, tapi dia juga ingin seperti Defa yang bisa dekat dengan ayah dan ibu, dia rindu pelukan kedua orangtuatuanya.


Beberapa menit kemudian terdengar suara seseorang dari luar, Marsel hampir terlelap.


Marsel segera bangun, dia mambukakan pintu, terlihatlah kedua paruh baya ada di depanya.


Ibunya Marsel langsung memeluknya, manangis tanpa suara, dia hanya mampu memeluk erat seakan tak ingin lepas.


"Marsel kamu sudah besar, maafkan ibu yang tak bisa bersamamu, kamu ganteng nak" kata-kata ibunya membuat Marsel mengeluarkan air matanya, dia diam tak bersuara,Tanganya mengepal, tak kuasa untuk memeluk, terlalu banyak hal yang dia lalui selama ini, tanpa dukungan dan kasih sayang orang tuanya.


Merasakan Marsel tak membalas pelukanya, ibu Marsel tak bisa berbuat apa-apa, dia pun melepaskanya kembali.


"Marsel ibu bangga kamu sudah besar, sudah bisa mengurus perusahaan sendiri, itu yang kami tunggu-tunggu dari dulu, kamu manjadi orang kuat dan mandiri nak"


Ibunya Marsel berkata sambil tersenyum pahit.


Ibunya Marsel merasa sakit hatinya melihat sikap anaknya yang dingin.


"mau berapa hari kamu di sini?" kata ibunya Marsel sambil menatap ibunya.


"kalo beres tinggal pulang aja"


Mendengar itu ibunya hanya menarik nafas dalam.


"kamu tidak ingin jalanjalan dulu di sini?"


"saya harus sekolah tidak bisa lama-lama ijin" Marsel membuat alasan logis pada Ibunya.

__ADS_1


"yasudah kalo memang kamu ingin segera kembali, masalah perusahaan, nyanyi ayahmu akan mengutus seseorang untuk membantumu menyelesaikannya, Mr. Diego bukanlah orang sembarangan, berhati-hatilah."


Ibunya Marsel pun tak bisa memaksakan kehendaknya untuk mengajak Marsel tinggal di London lebih lama, Marsel sangat canggung padanya.


Melihat Marsel yang sepertinya ingin istirahat, ibunya segera pamitan, dia juga tak bisa lama- lama karena masih banyak yang harus dia urus.


"ibu pergi dulu ya, kalo ada apa-apa kamu bisa langsung hubungi ibu" kata ibunya Marsel sambil segera berangkat.


Marsel melihat kepergian ibunya dengan diam, dia kesal dengan ibunya, diapun segera merebahkan dirinya.


Defa di kamarnya menatap malam dari jendela, dia merasakan ada ruang yang kosong dihatinya. Setelah kedatangan Marsel ada warna baru di hidupnya, kini Marsel pergi entah akan kembali ataupun tidak sama sekali.


Esoknya Marsel kembali ke perusahaan, disana Marsel mencoba membereskan dokumen-dokumen yang ditangani oleh Mr. Diego, dia berniat membawanya ke indonesia sebagai bahan untuk memperkuat bukti yang ada, jangan sampai ada celah untuknya lepas dari jerat hukum yang ada.


Seminggu sudah Marsel tak ada kabar pada Defa, Defa hanya berharap semoga Marsel baik-baik saja, walaupun kenyataanya dia ingin sekali bertemu denganya.


Marsel turun dari pesawat, dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Defa, Marsel pun naik mobil jemputan dia mengarahkanya ke sekolah.


Defa pulang sekolah dengan gontai, Fira menemaninya.


"Defa kenapa sih lo akhir-akhir ini, kayak kurang semangat gitu?" Fira menatap Defa, seolah ingin menelisik kebenran yang ada.


"biasa aja gue, emang kenapa sih?" kata Defa seolah smuanya baik-baik saja.


"gue ngerasa lo beda aja" kata Fira sambil mencoba menerka-nerka.


Saat mereka sampai gerbang ada seseorang yang sedang menunggunya tanpa Defa tau, dia duduk seorang diri mamakai denim, style yang sangat membuatnya tampan berkali-kali lipat, banyak cewek-cewek yang mencoba mendekatinya, tapi dia diam saja tak merespon apapun, Saat melihat Defa keluar diapun langsung berdiri dan segera menyambut Defa.


Defa diam, matanya bersinar, mulutnya tersenyum kecil, dia bahagia sekali melihat Marsel telah kembali. Orang-orang yang melihtnya hanya kasak-kusuk saja bersama yang lain.

__ADS_1


Marsel mengambil tangan Defa, dan membawanya pergi dari lingkungan sekolah.


__ADS_2