
Seperti kebiasaannya, Defa pas jam istirahat pergi ke perpus, hampir seperempat dari buku di perpus pernah dia baca, Defa selalu penasaran dengan Ilmu baru, dia selalu ingin tau semuanya, makanya walaupun dia tidak populer seperti orang lain, dia tau bagaimana perkembangan yang ada di lingkunganya.
Hari ini perpus kedatangan buku baru, Defa penasaran buku apa saja yang datang, walaupun koleksi bukunya sudah banyak tapi dia tetap penasaran.
"Bu katanya ada buku-buku baru ya yang datang?" Defa bertanya pada pegawai kampus.
"iya cantik, tapi belum beres Ibu kasih nomor, masih numpuk di gudang, besok kayaknya baru bisa baca, sabar ya" Petugas perpus menerangkan sambil tersenyum pada Defa, mereka sudah saling kenal saking seringnya Defa ke perpus.
"emang bukunya apa aja bu?" Defa masih penasaran.
"itu banyakan buku-buku ekonomi dari pakar ekonomi Amerika dan Eropa, juga banyak buku-buku motivasi dari ekonom di negara Inggris, Jepang dan Cina, kalo untuk buku scients banyak juga sih, Ibu gak belum sempat lihat semua, karena datang nya baru tadi pagi, sabar ya"
"jadi penasaran bu" Defa menunjukan minatnya.
"apa sih yang gak kamu penasaran kalo hubunganya dengan buku. "
"he...Ibu tau aja," Defa baca lagi ya.
"ok" Defa pun membaca kembali, sambil sesekali dia melihat jam tangan suapaya tak terlambat masuk kelas.
__ADS_1
Defa begitu anteng membaca buku, dia ingin segera menamatkan membaca buku itu, baginya sungguh tak enak kalo ada buku baru, buku yang lama tak dia selesaikan.
"anteng banget" Marsel tiba-tiba sudah ada di dekatnya. Defa diam saja, pandanganya tak lepas dari buku. Marsel mencoba cara lain agar Defa melihatnya.
"kemarin aku ketemu papa mu lo, ternyata papa orang hebat ya, pantesan anaknya juga pintar banget. Defa yang fokus akhirnya melirik dirinya, dia mendelik tanda kesal karena Marsel telah mengganggunya.
"he...maaf" Marsel cengengesan. Defa segera berpindah tempat, Marsel mengikuti nya, hingga beberapa kali berpindah terus saja menganggunya.
Defa menggembungkan mulutnya, matanya memberi isyarat malas meladeni Marsel tapi bukunya pergi Marsel malah gemas melihat Defa.
" ih kalo udah jadi istri, ku comot tuh mulut" Marsel berkata sambil alisnya turun naik, matanya berbinar dan mulutnya tersenyum.
Defa berdiri dan meninggalkan perpustakaan, dia akan masuk kelas lagi, tapi sebelum dia bisa melangkahkan kakinya Marsel telah memegang tanganya lebih dulu.
"apaan sih, gak jelas banget, minggir mau masuk kelas" Defa menghempaskan tangan Marsel, tapi Marsel tak semudah itu melepas Defa, dia tak ingin jauh dari Defa.
"mulai sekarang kita pacaran" ungkap Marsel tanpa basa basi dan sikap romantis seperti dalam cerita novel atau TV, dia tak pernah melakukan hal seperti itu, karena cewek-cewek yang bilang duluan.
"hah...sadar lo apa yang lo ucapin?" Defa bengong dengan ucapan Marsel yang terkesan Maksa.
__ADS_1
"gue Sadar se sadar-sadarnya, lo pacar gue sekarang" dengan bangga Marsel mengaku.
"ih pede lo, gue gak mau pacaran dulu, mau fokus sekolah, gue masih kecil,masih butuh ortu, cari yang lain ajalah" Kara Defa sambil ber usaha melepaskan tanganya, tapi Marsel tak semudah itu melepas kanya.
"diam, nanti tandanya sakit, pokonya sekarang kita pacaran, gak nerima penolakan"
"ih maksa, gak ya"
"mulai saat ini kamu gak boleh deket sama cowok ataupun ngobrol sama cowok lain selain gue, ingat itu." Ancam Marsel, dia tak suka dibantah, apapun harus sesuai keinginannya.
"lepasin gak, gue mau masuk kelas"
"gue anterin" Marsel secepatnya menjawab dan mem bawa Defa menuju kelasnya.
"eeeh...malu tau, kayak bayi aja di anter" Defa sungguh tak percaya dengan Marsel.
"eeeh kamu tuh ya, yang lain bangga kamu malu, awas kamu ya" Marsel kesal karena Defa malah malu padanya, jelas-jelas orang tau bahwa dirinya cowok populer dan sangat tampan.
" gak kelas banget" Defa segera masuk kelas, Marsel pergi dengan hati dongkol, kenapa dia dan Defa tak bisa romantis seperti yang lain. Apapun itu yang penting sekarang Defa miliknya, dia takan membiarkan orang lain merebut Defa darinya.
__ADS_1