
Setelah mengantarkan Defa ke kelasnya, Marsel pun pergi ke kelas juga, disana Fino dan Tian sudah menunggu, mereka seakan-akan bertanya dari ekspresi muka Mereka, sedangkan Marsel hanya tersenyum-senyum, menaik turunkan alis dia kali, menyenggol sedikit ke Fino yang sedang duduk.
Marsel pun duduk di pinggir Fino, Fino dan Tian terus memperhatikan ekspresi muka Marsel seakan menegaskan apakah itu Marsel atau bukan, teman-teman yang lain juga saling senggol dan saling berisik, tapi tak berani mengungkapkan isi hati mereka, karena tak ingin menyinggung Marsel yang sedang dalam mode aneh menurut mereka.
Begitupun dengan Defa, teman-temanya juga berbisik-bisik, saling memberi kode satu sama lain, mereka heran ko bisa Defa diantar Marsel.
Defa mah santai, dia tak terlalu peduli dengan teman-temanya, toh dia juga gak ngapa-ngapain, tapi beda dengan Fira yang kepo maksimal, dia tak ingin kehilangan berita terbaru dan terupdate, apalagi mengenai Defa yang akhir-akhir ini semakin dikenal orang.
"Def gue lihat lo sekarang makin deket ma Marsel ya" kat Fira sambil matanya tek lepas memperhatikan Defa, dia seaka-akan tak ingin melepaskan pandangan dari Defa.
"gak ah biasa aja sama semua juga, muka lo tuh jauhan kenapa sih, kayak mau nelen gue aja" Kara Defa sambil mendorong lengan Fira.
"hihi...abisnya kepo maksimal lah, setau gue lo kan gak mau deket ma cowok, eeeeh giliran Marsel lo sampe dianterin ke kelas, kan sangat wow gitu" kata Fira sambil senyum penuh arti.
"ih lo mah gitu amat, dia gak nganterin gue ko, buktinya gue di depan jalannya" Defa berusaha mencari alasan yang bisa diterima Fira.
"Tapi ko lewat sini, kan kelasnya ke kelas kita jauh banget, masa mau muter gitu, rajin amat" Fira masih penasaran.
"ya mana gue tau urusan orang, aneh banget, tanyain aja ma dia kalo lo masih penasaran" Defa bingung mencari alasan lagi.
"awas ya kalo ada kabar baik lo gak bilang ke gue" Fira mulai mengancam Defa.
"ih gak ada kabar apa-apa, sono ah lo mepetin gue" Defa ber usaha menjauhkan Fira dari hadapanya, dia jadi merasa grogi sendiri kalo Fira kayak gitu.
Defa berusasha membaca buku supaya Fira gak nanya-nanya lagi.
Marsel yang dilihat oleh Fino dan Tian tak mau berbicara, dia hanya diam membiarkan mereka menebak apa yang terjadi dengannya.
Fino dan Tian terus memperhatikan Marsel, Marsel berdiri mereka ngikut,Marsel duduk mereka ngikut, karena kesal Marsel keluar kelas mereka ngikut juga dengan wajah tak lepas dari Marsel.
Beberapa menit berlalu, Fino dan Tian masih mengikuti Marsel hingga Marsel kesal sendiri.
"kalian kenapa?" Kata Marsel sambil seolah-olah tak mengerti.
__ADS_1
"udah deh jelasin ada apa dengan lo ini, dari tadi kelihatan aneh banget, kita tuh khawatir, takutnya lo kenapa-kenapa, kecapean mungkin kerja di kantor atau kenapa?" Fino bener-bener serius dengan kata-katanya.
"woy enak aja, gue masih waras ya, ntarlah lah gue ceritain" Marsel makin membuat temannya penasaran.
"heuh kirain...,awas ya kalo lo kenapa- kenapa"
"gak lah"
"ok gue gak nanya lagi kalo gitu"
Mereka pun tak mau bertanya lagi toh nanti juga Marsel cerita sendiri.
Waktunya pulang pun tiba, Marsel dengan semangat membara pergi menuju kelas Defa, Fino dan Tian yang biasanya bersama hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Marsel.
"virus nih" Tian bergumam.
"bahaya gak ya" Fino ikut komentar.
"semoga baik-baik aja" Kata Tian diangguki Fino, mereka pun langsung pulang.
"Defa...Defa...kayaknya ada yang mulai nungguin deh dari sekarang" Fira menyenggol lengan Defa.
"maksud lo apaan, kayaknya kayak biasanya aja" Defa belum ngeh dengan maksud Fira, dia merasa biasa-biasa aja.
"tuh kayaknya ada yang nungguin lo" Fira menunjukan ke luar dengan dagunya.
Fira yang sudah tinggal pulang pun me lirik sambil jalan keluar untuk pulang. Dia melihat Marsel tersenyum, Defa celingak celinguk mencari kepada siapa Marsel tersenyum. Tapi tak lama dia langsung berjalan ke luar kelas, teman-temanya pada bisik-bisik di belakang Defa.
Defa berjalan tanpa menghiraukan Marsel, dia mengira Marsel bukan mau bertemu dengannya, Marsel yang ditinggal Defa segera menyusul.
"hai pacar, kenapa malah ninggalin, udah ditungguin juga, masa udah tampan gini dicuekin" Marsel menggerutu, dia tidak seperti Marsel yang biasanya, malah lebih terkesan manja.
"kenapa sih lo, lo sakit ya?"
__ADS_1
"eh enak aja, kan kita udah resmi pacaran, jadi mulai hari ini siapkan dirimu untuk dijemput,diantar dan dimanjakan oleh pacarmu yang ganteng ini"
"kapan kita pacaran, lo ngelantur aja"
"tadi setelah dari perpus"
"owh..ya ampun Marsel ..please deh jangan becanda, gue mau pulang ah, pusing"
"kita ke dokter aja kalo pusing gimana?"
"au ah." Defa mempercepat jalannya, dia malas meladeni Marsel, tapi Marsel malah mengikutinya,.
"sekarang kita naik mobilku ya, tuh pak supir udah nungguin" kata Marsel sambil memegang tangan Defa dan membawanya ke mobil.
" gak mau ah, udah biasa gue pulang sendiri"
"mulai saat ini tidak, dijemput dan dianterin ok"
"hah..lo ngatur gue?"
"gak ada bantahan ok" Marsel segera menutup pintu mobil dan menjalankan mobilnya.
"sekarang harus terbiasa ya, gak boleh ngebantah"
Defa kesal, Marsel benar-benar mengatur hidupnya, dia menggerutu dalam hatinya.
"kurang kerjaan banget si Marsel, seenaknya banget ma gue,awas aja" kata Defa dalam hatinya.
Mobilpun menuju halaman rumah Defa, Marsel membukakan pintu, dia mempersilahkan Defa keluar, dengan wajah tak lepas dari senyuman.
Defa hanya memutar Bola matanya malas, dia tak habis fikir dengan Marsel yang segalanya tiba-tiba, Bagaimana kalo orangtunya nanyain dan gimana kalo Marsel bilang langsung ke Mama atau Papa nya, pusing Defa dibuatnya.
"lo pulang aja gih, pusing gue tuh ya sama lo" Defa sudah tak tahan lagi dengan sikap Marsel, dia ingin jauh-jauh darinya. Tapi melihat cara Marsel yang pemaksa bagaimana dia bisa menghindari Marsel.
__ADS_1
"pacar gk boleh lo ngusir, kita baru hari pertama pacaran masa udah berantem lagi, kita tuh harus akur dan saling sayang ok" Defa menghentak-hentakan kakinya, dia kesal, pusing, marah dan greget sekali dengan Marsel, tapi Bukan tipe orang pemarah.
"terserah lo aja lah.." dengan malas Defa men jawabnya. Marsel tersenyum bahagia melihat Defa seperti itu, dia gemas sekali melihatnya.