Cinta Difia

Cinta Difia
Extrapart 3


__ADS_3

Pagi hari seperti biasa, Defano dan keluarga sedang sarapan, mereka sesekali ngobrol, memang tak ada aturan untuk tidak berbicara saat makan, Defano tak mempermasalahkan itu.


"Sayang makan yang banyak ya." Kata Defano sambil mengelus perut Difia yang mulai kelihatan menonjol sedikit.


"Iya papa" jawab Difia sambil tersenyum, menirukan suara anak kecil.


Defano tersenyum simpul, panggilan papa membuatnya senang dan bertambah semangat, dia memegang pipi Difia.


"Ya sudah sekarang tambah porsinya"


"kenyang papa"


"uh dasar" Defano gemas dengan ulah Difia, ibu


dan nenek yang melihatnya hanya tersenyum.


"kamu juga makan yang banyak nak, biar sehat" ibu menasihati Defano.


"iya bu, makasih""


"sama-sama"


"sayang mas pulangnya agak sore ya"


"iya mas gak papa, aku juga hari ini ada tugas kelompok, tapi pulangnya paling jam dua, ijin ya mas"


"iya sayang, hati-hati ya nanti, ingat si kecil"


"iya mas"


Setelan acara makan selesai, mereka pun mulai aktifitas masing masing.


Difia segera bersiap-siap untuk ke kampus, begitupun Defano, Defano hari itu jadwal mengajar di kampus juga., mereka pun berangkat bersama-sama ke kampus.


Setelah sampai di kampus, Defano mengantar Difia ke kelasnya.


" mas gak papa ko gak usah diater, aku udah biasa ko, nanti mas telat"


"yakin gak mau dianter?"


"iya mas gak papa"


"ya sudah mas duluan ya mau ke kantor dulu, baru ngajar"


"iya mas makasih"


"iya sayang, udah kewajiban mas buat selalu jagain kamu, apa lagi bentar lagi ada baby yang nemenin kita"


Mereka pun berpisah sementara, sibuk dengan urusan yang harus mereka kerjakan.


Sore pun tiba, Difia sudah ada di rumah bersama nenek dan ibu.


"nak, kayaknya itu mobil Defano pulang"


"iya bu, mas Defano pulang kayaknya, Difia mau liat dulu ya"


"iya sambut sana, itu kewajiban istri yang harus kamu lakukan pada suami" ibu memberikan wejangan pada Difia.


"iya bu, siap, Difia selalu ingat wejangan dari ibu ko"


" harus nak, karena dia adalah suamimu, pemimpin dalam rumah tanggamu"


"iya ibuku yang cantik"


"kamu malah ngeledek ibu." Difia terus menggoda ibunya. Ibu pun geleng-geleng kepala dengan sikap anaknya.

__ADS_1


"Semoga kamu bahagia nak, maaf ibu dulu tak bisa menjadi ibu yang baik untukmu" ibu bergumam sambil menitikan air matanya.


Difia segera pergi menyambut suaminya.


"Selamat datang sayang" Kata Difia sambil mengambil tangan suaminya.


"Assalamualaikum sayang, dan anak papa?" Defano senang atas penyambutan Difia, dia mengecup kening Difia dan mengusap perut Difia.


"Waalaikumsalam papa sayang" kata Difia menirukan suara anak kecil.


"hehe" Defano tersenyum


"masuk yuk" Difia menggandeng tangan Defano dan segera masuk rumah.


"sudah pulang nak?" ibu menyapa Defano.


"Alhamdulilah bu sudah" Defano pun segera mengulurkan tanganya kepada ibu Difia.


"bu Defano ke kamar dulu ya"


"iya silahkan" kata ibu


Defano pun langsung masuk ke kamar ditemani Difia.


"sayang mau dibantu gak buka bajunya" Difia menawarkan diri membantu Defano.


"ih istriku nakal?"


"mas ini, ada-ada aja"


"iya deh boleh, cape banget hari ini"


"kerjaan banyak ya mas?"


"lumayan sayang, tapi mas tetep usahakan pulang lebih cepet, supaya bisa cepat ketemu kamu sama buah hati kita"


"iya mas makasih"


"iya"


Defano pun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Difia segera membereskan baju Defano, setelah itu ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk suaminya.


Defano pun selesai mandi, dia melihat baju dan perlengkapan lainya sudah ada di atas kasur, Defano tersenyum bahagia, dia bersyukur telqh menikah dan punya istri sebaik dan sepengertian Difia, walaupun usianya masih muda, tapi sudah bisa menjadi istri yang baik untuk dirinya.


Defano pun segera memakainya bajunya setelah itu segera menyusul Difia ke dapur. Wangi masakan tercium dari dapur, Defano yang lapar karena pulang kerja pun menghampiri istrinya. dia langsung memeluk istrinya yang sedang menata makanan di meja.


"sayang" Defano memeluk manja Difia.


"apa mas" kata Difia, dia membiarkan suaminya memeluknya. Difia sangat menyukai sifat manja Defano pada nya, ya hanya padanya tidak pada yang lain


"kangen ih"


"sama"


"beneran ih" kata Defano sambil mengecup Difia dari belakang.


"iya beneran, tapi sekarang makan dulu ya, biar gak laper, kasian nanti perutnya kelaparan .


" iya makasih sayang, kamu tau banget aku lapar hihi"


" tau dong"


Difia pun segere menyiapkan piring untuk Defano, dan menyimpan nasi serta lauk pauknya.


"mas, aku mau manggil ibu dan nenek ya"

__ADS_1


"iya sayang, mas tunggu"


Difia pun segera mencari nenek dan ibu untuk mengajaknya makan bersama.


Difia mendapati nenek dan ibu di ruang tv sedang melihat acara gosip.


" Ibu, Nenek yuk makan"


"iya nak"


Nenek dan Ibu pun mengikuti Difia ke ruang makan, mereka pun makan bersama dengan tenang.


Acara makan pun selesai, mereka kembali ke kamar mereka masing-masing. Defano dan Difia menyempatkan diri mengantar nenek ke kamar.


" nek nanti kita shalat bersama ya"


"iya" kata nenek sambil tersenyum, mengangguk tanda menyetujui usulan Defano.


"nenek sekarang mau ngapain dulu?"


Ditanya seperti itu nenek malah melihat perut Difia, Defano yang melihat pun langsung mengerti.


" Nenek mau mengelus cicit nenek ya?"


"iya" nenek mengangguk tanda menyetujuinya. Difia pun langsung duduk disebelah nenek, dan nenek mengelus perut Difia.


" nenek yang sehat ya, biar nanti bisa maen sama cicitnya" kata Difia.


"iya" nenek mengangguk.


yaudah sekarang kita siapin mukena nenek, kita nanti shalat bersama, Difia bawa duluan ya mukena nya.


"iya"


"nanti Defano jemput nenek disini, atau mungkin nenek mau nonton tv dulu?"


"tv" kata nenek.


"yuk Defano anterin ke ruang TV.


Difia dan Defano juga nenek beriringan ke ruang TV yang ternyata ibu juga baru datang kesana.


" bu, nitip nenek,kami mau ke kamar dulu,nanti kita shalat bareng semua ya"


"iya nak"


Defano dan Difia pun segera meninggalkan ibu dan nenek di ruang tv, mereka langsung menuju kamar mereka sambil menyiapkan keperluan shalat yang sebentar lagi akan dilaksanakan setelah adzan berkumandang.


"yang gimana keadaan anak kita?" Defano mengusap perut Difia.


"Alhamdulilah sehat mas"


"Alhamdulilah, mas kangen banget sama kamu dan anak kita"


"kita juga kangen mas, mas kan bisa nlp pas ada waktu" Difia mengelus pundak Defano, memberikan kekuatan dan do'a supaya suaminya sabar.


"iya sayang, makasih ya"


"iya mas, yuk kita wudhu dulu, ibu dan nenek pasti nunggu kita di bawah.


" kamu cantik banget sayang"


"Alhamdulilah mas"


"mas sayang banget ma kalian semua".

__ADS_1


"iya mas, udah tau ko".


Merekapun berjalan beriringan ke mushola untuk melaksanakan sholat bersama.


__ADS_2