
Defa akhirnya masuk sekolah, dia diantar oleh papanya. Sampai gerbang Defa pun turun dia segera menuju gerbang sekolah seperti biasanya, sampai gerbang banyak yang menyapanya tak seperti hari-hari kemarin.
"pagi neng Defa" kata pak satpam sekolah, sambil tersenyum kepadanya.
"pagi pak" Defa pun sebisa mungkin ramah padanya, Defa yang biasanya lurus tak banyak ngobrol ataupun basa basi tiba-tiba hari itu dituntut banyak bicara, banyak yang menyapanya, dia jadi agak bosan, ingin perlakuan seperti biasa, tapi mau bagaimana lagi gara-garanya kemarin dia jadi bahan perbincangan semua orang.
"neng kemarin hebat ih, bapak bangga lo neng bisa bawa sekolah kita jadi juara" satpam mengeluarkan semua perasaan hatinya ke Defa. Defa hanya tersenyum kikuk dengan adegan seperti itu, menurutnya itu terlalu berlebihan.
" pak yang main kan bukan saya aja, jadi bapak kasih selamatnya kepada yang lain aja ya, saya cuma melengkapi aja ko" Defa tak enak hati banyak yang melihatnya.
"pak saya masuk dulu ya" Defa segera meninggalkan satpam yang bekerja di depan, dia malas untuk jadi tontonan orang-orang.
Defa berjalan agak cepat, supaya bisa segera duduk di kursi kesayangannya, tapi keinginan hanyalah sebatas keinginan, setiap bertemu siswa lain selalu menyapa dan menyalaminya, para guru ataupun pegawai sekolah juga menyapanya, alhasil dari gerbang ke kelas hampir sepuluh menit, membuat Defa jadi agak malas keluar kelas lagi.
Pas masuk kelas bukanya bisa langsung duduk, teman-temanya malah memberikan kejutan dengan berbagai hadiah kecil dari mereka, Defa dibawa masuk dan duduk terus mereka memberikan orasi yang terkesan berlebihan juga.
Defa sebenarnya kurang menyukai hal-hal seperti itu, dia lebih menyukai dunianya, tenang dan damai tanda kebisingan tapi apa mau dikata dia yang udah memulainya, jadi dia harus mau menjalaninya.
"Defa lo hebat banget sih fa, gue sampe deg-degan tau pas terakhir itu" Fira heboh sendiri.
"iya Defa, lo keren ih, lo bisa buat strategi yang jitu banget, padahal pihak lawan adalah tim yang selalu unggul" kata Dodi sang ketua kelas.
"lo emang bintang di kelas kita ya" kata Jayden, siswa yang suka ngaku-ngaku idola kelas.
"kemarin gue sama teman-teman dan guru-guru juga lihat live penampilan lo sama yang lain, kita ramai lo di sekolah" Dean menimpali.
"ya..ya..ya..makasih ya teman-teman semuanya, makasih udah dukung tim kita, semoga nanti menang lagi, sekarang baiknya kita biasa aja ya, belajar dulu nanti ngobrol lagi kalo mau" Defa segera menghentikan ke hebohan teman-temannya.
Mereka semua akhirnya bersiap belajar kembali, karena bel masuk sekolah sudah berdentang, Defa tak mau dirinya jadi pusat perhatian, dia berusaha normal seperti biasa seperti saat-saat sebelum dikenal orang.
"selamat pagi anak-anak" bu guru menyapa mereka semua.
"pagi bu" para siswa pun menjawab serempak guru mereka.
"Defa udah mas masuk ya? selamat ya sudah membuat harum nama sekolah kita.
" iya bu makasih" Defa menjawab seperlunya. Dia tak ingin lama-lama.
__ADS_1
Istirahat pun tiba, Defa sangat malas untuk ke kantin, disana pasti juga seperti di kelasnya. Defa ingin diam saja tanpa gangguan apapun.
Defa sendirian baca buku di kelas, dia malas bertemu orang-orang lagi, bekal dia bawa dari mama nya.
Tak lama datanglah tiga orang masuk yang sama sekali tak dikenalinya, dia tiba menyiram Defa tapi karena Defa orangnya selalu waspada, air itu hanya mengenai bangku kosong belaka.
Defa menghindar, mereka mendekati Defa mau menjambaknya, tapi tak mengenai rambut, beberapa kali terus berusaha tapi hanya sia-sia, Defa tau mereka tak bisa apa-apa, tapi dia juga tak mau tersakiti, sampai mereka lelah sendiri dan menggerutu.
Dari luar seseorang memperhatikan mereka yang ada di dalam kelas, tangannya mengepal kuat, dia memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya.
"awas ya kamu, ini baru awal" Defa tak mengerti maksud dari ke tiga cewek ini, cewek dengan baju sekolah pas badan, dan tampilan yang cantik tapi sayang cukup kasar untuk seorang wanita.
Defa tak mau ambil pusing, toh ntar juga pasti bakal tau. Dia membiarkan saja ke tiga cewek itu kesal padanya.
Sementara seseorang yang melihat mereka diluar segera pergi karena ada beberapa siswa masuk kelas lagi, mereka biasanya hanya jajan saja dan membawanya ke kelas.
Ketiga cewek tadi pun pergi tanpa pamit, seorang yang diduga pemimpinya komat-kamit sambil jalan dan pergi dari kelas itu.
Marsel hari ini belum bertemu Defa, saat istirahat tadi dia juga mencari Defa di perpus tempat ternyaman buat Defa, tapi ternyata Defa tidak ada, akhirnya dia mencoba mencarinya ke kelas Defa dengan melakukan penyamaran, tapi alangkah kagetnya saat dia sampai, dia melihat Mona dan gengnya melabrak Defa, Marsel tak terima, dia tak ingin Defa disakiti siapapun, walaupun sebenarnya Defa juga cukup kuat untuk melawan Mona.
Selepas ketiga cewek itu pergi, datanglah Fira, dia kepo dengan kedatangan Mona, sedangkan Defa tak mengenal mereka.
"gak tau, datang langsung maen serang"
"hah ko bisa"
Defa hanya mengendikan bahunya, tanda dia tidak tau dan tidak peduli.
" menurut info Mona itu kan suka banget sama Marsel, cuma Marsel nya yang kurang suka sama Mona, jadi apa mungkin dia cemburu sama kamu"
"gue tuh gak hubungan apa-apa sama Marsel, aneh banget"
"tapi setau gue Marsel beberapa kali selalu deketin kamu lo"
"ah biarin ajalah"
"hati-hati lo, Mona orangnya nekat,ortunya kaya raya, dia bisa berbuat apa aja sama kamu"
__ADS_1
" ah biarin ajalah"
"yaudah hati-hati"
"heum"
Marsel yang sudah tau identitas Mona segera dia mengambil tindakan. Ternyata orang tua Mona masih karyawan di perusahaanya, Marsel mencoba mengumpulkan bukti kecurangan orang tua Mona dia tak mau orang yang menyakiti Defa bisa leluasa bekerja di perusahaanya.
Mona merencanakan setelah pulang sekolah dia menjebak Defa di jalan yang di lalui Defa, dia menyuruh teman-teman untuk menyebarkan minyak di jalan, sehingga kako Defa lewat maka dia akan terjatuh disana.
Persiapan pun sudah selesai, dia mengkode temanya untuk membuat Defa berjalan ke arah yang sudah direncanakan.
"Fen lo ajak Defa cepat"
"gimana caranya?"
"gimana ke, rayu atau baik-baikin atau terserah lo aja"
"ok gue coba ya"
Mereka pjn mencari Defa, dengan segala bujuk rayu Defa pun pergi ke arah ya ditujukan. Teman Mona merasa berhasil, dia segera mengabari Mona, Mona yang menunggu merasa tak sabar, Defa tak kunjung lewat sana, ternyata Defa di tengah jalan bertemu Fira, Defa diajak fira jalan bareung ke depan sekolah untuk pulang.
Mona masih menunggu Defa, dia akhirnya kesal karena seharusnya Defa sudah kesana. Mona menelpon temanya.
" katanya Defa kesini, mana?"
"udah ko"
"mana?"
"yaudah tunggu" Temanya Mona segera menghampirinya, dia lupa kalo Mona telah mengucurkan minyak disana.
blug " aduh"..temanya Mona jatuh.
"lo itu udah tau gue kasih minyak masih lo jalan kesana" Mona pun membantu Risa, tapi bukanya malah bangun mereka berdua malah jatuh bersama disana.
orang-orang yang kebetulan lewat sana malah tertawa.
__ADS_1
"kena batunya ya ha..."