Cinta Difia

Cinta Difia
Heran


__ADS_3

Pulang sekolah Defa sudah ditunggu orangtuannya di depan gerbang, kali ini Defa diajak orang tuanya untuk makan siang bersama diluar rumah, itu sudah menjadi kebiasaan sebutan sekali di keluarga Defano.


"assalamualaikum mah" Defa keluar dari pintu gerbang sekolah sambil merentangkan tanganya menuju pelukan kedua orangtuanya, Defa sangat menyayangi kedua orangtuanya, dia tak malu bermanja di tempat umum sekalipun kepada kedua orang tuanya.


"waalaikumsalam sayang, yuk langsung berangkat, mama udah bawain baju ganti buat kamu, nanti langsung ganti aja, atau mau ke salon dulu?"


" makasih mamah, memang mamah adalah mama terbaik untuk Defa" kata Defa sambil terus memegang lengan Difia.


"kamu ini manja banget,gak malu apa sama temen-temen kamu?"


"gak dong, justru Defa bangga punya orangtua seperti kalian, mereka belum tentu punya"


"hus jangan kayak gitu, gak baik lo" Difia menasihati anaknya.


"ih mama, tapi benerkan"


"udah yuk kita langsung jalan, malah debat" Defano pun menengahi. Tak jauh dari mereka bertiga ada seseorang yang melihatnya, tadi nya dia ingin menggoda Defa lagi, tapi diurungkan ketika melihat Defa ternyata bersama orangtuanya, dia segera menelpon supirnya.

__ADS_1


"pak kesini sekarang" Marsel menghubungi supirnya.


Defa dan keluarga pun segera berangkat menuju lokasi yang mereka tuju, ternyata tempat itu adalah sebuah villa yang ada di daerah bukit, letaknya tak jauh dari kota, tapi tetap memberikan pemandangan yang menakjubkan, villa di desain modern dengan peralatan canggih tapi tetap memberikan kesan elegan.


Defa terkesan dengan tempat itu, dia sangat menyukainya. Defano manyiapkan makan untuk kedua wanitanya, Defa menempel pada mamanya.


"Anak gadis kita udah besar lo pah, udah ada yang suka" Difia menggoda anaknya, dia melihat Marsel suka pada Defa tapi Defa masih belum memahaminya.


"ih mama, Defa belum suka-sukaan, masih pengen sama mama dan papa" Defa merajuk.


"anak gadis papa masih kecil, belajar dulu yang rajin, nanti kalo udah besar baru boleh" Defano belum siap kehilangan anaknya.


"heum.."


"selalu aja begitu jawabanya" Difia menyindir suaminya.


"udah ah ma pa, Defa belum kefikiran ko, Defa mau raih cita-cita dulu" Defa menengahi.

__ADS_1


Seseorang tak jauh dari sana memperhatikan interaksi keluarga Defa, dia tersenyum tapi terlihat sedih, dia ditinggal sendiri di rumah, keluarganya sibuk berbisnis, jarang bertemu dengan orang tuanya, melihat kaharmonisan keluarga itu membuat dia membayangkan jika dirinya berada disana, bisa bercanda dan bermanja dengan orang tuanya, sungguh hal yang luar biasa.


Dia terus memantau dalam kesendirian. Pada malam harinya Defa dan keluarga diundang ke acara koleganya, dia berdandan cantik seperti peri, membuat kedua orang tuanya terpukau.


"anak mama cantik banget, pasti papa makin susah tuh ngelepasnya"


"siapa dulu papanya" Defano mengeluarkan suaranya, anak dan mama itu malah tertawa dengan candaan papanya yang datar..


"yuk sayang kita berangkat" Difia mengajak Defa segera ke tujuan, Marsel dari kejauhan melihat Defa yang begitu cantik mempesona, dia semakin tak bisa menahan diri untuk melangkahkan kakinya menuju Defa, tapi sayang Defa sudah berangkat menuju mobilnya, Marsel ketinggalan.


Marsel segera menuju mobil miliknya, dia tak ingin jauh memantau Defa, berusaha menyusul mobil yang ditumpangi keluarga tersebut. Setelah aksi ngebutnya itu Marsel melihat Defa dan keluarganya di sebuah restoran, Defa sedang bercengkrama dengan seorang laki-laki seusia Defa yang cukup tampan, membuat Marsel ketar ketir dibuatnya.


Marsel terus memperhatikan Defa hingga saatnya Defa terlihat sendiri dia segera menemui Defa.


"lo kelihatan seneng banget" Defa langsung melirik, dia heran kenapa Marsel ada di sana.


"maksud lo apa? kayaknya gak ada urusanya dengan lo ya?"

__ADS_1


"jangan ngobrol dengan laki-laki lain"


"masbulloh" Sahut Defa


__ADS_2