
Marsel ditinggalkan Defa begitu saja, beberapa saat dia belum sadar, tapi setelah beberapa lama ada seseorang yang menegurnya.
"mas sendiriana aja, mau ditemenin gak?" Marsel belum sadar juga, dia hanya diam sambil senyum-senyum.
"ih mas nya gila ya, senyum-senyum sendiri" deg..Marsel pun sadar, dia menoleh ke sebelahnya, keadaan sudah sepi, dia mencari Defa tapi gak kelihatan, yang ada hanya seseorang bermuka cantik tapi punya jakun.
"mas..noni temenin ya" Marsel pun langsung kaget dibuatnya, diapun segera pergi dari tempat itu, mencari Defa, tapi sayangnya Defa sudah pergi dari tadi, sehingga tak ada orang disana.
"Defa..Defa..kamu bikin kangen...." Marsel bergumam.
"besok pasti ketemu lagi ya.,,
" tunggu ok" Marsel terus bergumam, dia sangat bahagia sekali dan ingin segera bertemu lagi dengan Defa.
Esok harinya Defa sekolah seperti biasanya, tapi karena papanya mau ngajar siang, Defa pun bisa diantar papa nya, Defa pun senang, karena sangat jarang sekali mereka bisa bersama.
"pak makasih ya udah anterin Defa"
"sama-sama sayang, belajar yang pinter ya, jaga diri baik-baik"
"ok papa sayang" Defa pun langsung keluar dari mobil dan mengambil jalan menuju perpus, ada yang ingin dia cari disana sebelum masuk kelas.
selepasnya Defa ke perpus ada seseorang yang baru datang ke sekolah, dia diam di depan gerbang, menunggu seseorang yang dia yakini belum sampai.
Dia menunggu tapi orang yang ditunggu belum juga datang, sepertinya dia mulai cemas, mukanya dari ceria berubah muram.
"Marsel ngapain lo disini, ke kelas yuk" kata Fino yang yang ternyata baru datang.
"duluan aja lo" Marsel acuh saja.
__ADS_1
"yaudah gue temenin" Fino inisiatif buat menemani Marsel. Tapi waktu sebentar lagi masuk kelas, Fino memaksa Marsel segera meninggalkan gerbang.
"lo nunggu siapa sih?"
"lagi pengen aja gue di sana"
"yakin lo" selidik Fino pada Marsel.
" ya"
mereka pun segera menuju kelas. Marsel tak dapat melihat Defa karena kelas dan jurusan yang berbeda, sekolah mereka sangat luas, tiap jurusan dan tingkatan punya kantin masing-masing, makanya selama ini Defa tak pernah bertemu dengan Marsel, selain karena Defa acuh juga.
Defa belajar dengan rajin, dia tak terlalu berbaur dengan teman-temanya, walaupun begitu penampilannya tidaklah cupu seperti kesan yang biasanya pada kutu buku. Defa tetaplah cantik karena perawatan yang selalu dia lakukan di salon bersama Difia, hanya penampilannya sederhana, rok dibawah lutut dengan baju longgar, tak seperti sisiwi lain merombak bajunya supaya terlihat berbeda.
jam istirahat pun tiba, Defa membawa bekalnya ke perpus, dia pergi seperti biasanya tanpa mengajak Fira, karena Fira memang tak mau ke perpus, dia lebih baik membeli buku diluar saja.
"lo mau ke perpus lagi ya"
"lo kan udah terkenal, masa masih mau ke perpus"
"ye biarin ajalah suka-suka gue"
"gak pengen gaul gitu" Fira masih mengajak Defa ke kantin"
"gak ah bay...." Defa pun pergi sendirian ke tempat paforitnya. Sebelum sampai disana Defa duduk di dekat perpus untuk makan, disana memang adeum dan bersih, karena ada pohon-pohon yang sengaja dipelihara disana.
Defa makan dengan khidmatnya, dia tak menyadari ada seseorang yang memperhatikanya tak jauh dari tempatnya duduk.
"gak salah, ternyata lo di sini" Marsel tersenyum senang karena orang yang dicarinya ternyata ada di tempat yang dia cari.
__ADS_1
"untung gue inget he.."
Defa pun selesai makan, dia segera ke perpus untuk melanjutkan kegiatan paforitnya. Defa duduk anteng sambil membaca buku kesukaannya, dia tak menyadari Marsel telah ada dibelakangnya sejak tadi. Marsel yang tidak suka baca menunggu Defa, tapi saking seriusnya Defa tak menyadari sama sekali. Marsel yang menunggu pugn merasa mulai bosan, dia mulai usil dan mengganggu Defa.
gedubrak..dari luar terdengar suara orang jatuh, Defa yang sedang baca pun terganggu. Dia melihat keluar jendela ternyata tak ada apa-apa, setelah memastikan kembali, dia pun membaca lagi, tapi bukunya malah tertutup Defa pun membukanya lagi, Defa heran tapi dia tak ambil pusing.
Tiba-bia ada kelereng menggelinding ke bukunya, diapun mulai curiga, melihat ke kanan ke kiri pas melihat ke arah depan Marsel sedang tersenyum ke arahnya, dia mendengus kesal.
"ah lo"
"yups ini gue, lo gak kaget kan ada yang ganteng di depan lo"
"gak banget" Defa memutar matanya malas.
"Tadi pagi gue liatin lo ko gak ada, lo kemana? "
"kayaknya gak ada yang nyuruh lo nungguin gue" Defa malas ngobrol dengan Marsel.
"Gue mau kita barengan di mana-mana"
"malas"
" gak boleh malas kalo jadi pacarnya Marsel"
" hihi siapa pacar lo enak aja"
"emang enak jadi pacar gue, makanya lo mati jadi pacar gue"
"gak, gue masih sekolah"
__ADS_1
" tapi kan lo bukan anak kecil"
"udah lah gue mau ke kelas lagi" Defa pun segera keluar perpus dan kembali ke kelas.