
Defa masuk sekolah seperti biasa, beberapa hari lagi Defa akan melakukan pertandingan sebagai wakil dari kota, dia sudah banyak mempersiapkan diri, dari mulai jaga makan, jaga stamina, dan berlatih semaksimal mungkin, walaupun. kenyataanya dia masih hobby baca.
Defa selalu menyempatkan diri untuk membaca buku-buku kesukaannya, terutama buku - buku Biologi, karena menurutnya semua berawal dari alam, dan banyak yang ingin dia fahami dari alam.
Defa ke sekolah naik ojol seperti biasanya saat papa nya tak bisa mengantar, makan dia naik ojol yang sudah jadi langganannya.
"Defa gimana persiapan tim kita, udah siap belum, gue ntar mo ikut ah dukung lo" Fira duduk disebelah Defa.
Mendengar Fira membicarakan pertandingan teman-teman yang lain langsung mengerubungi Defa.
"Defa tolong pertahankan ya, smoga lo bisa bawa nama sekolah kita" teman-teman satu kelas pun mendukungnya.
"gue berusaha udah, tapi kita kan tim jadi bukan gue aja ntar yang maen, makanya do'ain semuanya." Defa merendah
"lo emang paket komplit Fa, udah cantik, pinter, gak neko-neko lagi hidup lo" kata Adi, dan semua menganggukan kepalanya tanda setuju.
"gue tuj biasa aja, semoga kata-kata kalian jadi do'a"
"amiin" semuanya serempak mengaminkan kata-kata Defa.
"kita bangga punya lo di kelas kita, gak nyangka lo hebat gitu" Fedi seolah menjadi fans Defa.
"lebay kalian semuanya"
"ha..ha..tapi bener ntar beruntung banget yang jadi cowok lo"
__ADS_1
Sementara di kelas lain ada yang sedang gelisah, dia hanya bisa diam, teman-temanya yang lain bercanda dia hanya menatap tatapan kosong, fikiranya hanya teringat dengan Defa, dia takut Defa tak mau lagi kenal dengannya.
" Sel lo kenapa sih akhir-akhir ini berubah, kemarin-kemarin lo exited banget, hari ini lo lesu banget, ceritain dong ma kita, kali aja bisa bantu" Fino tak kuat untuk bertanya pada Marsel, dia sudah menahannya beberapa hari, tapi melihat keadaan Marsel sekarang sepertinya ada hal yang membuat fikiran Marsel terganggu.
Marsel diam saja tak menggubris pertanyaan Fino.
"Sel...sel...lo masih waras kan" Tian memperhatikan Marsel dari depan, seolah ingin memastikan keadaan Marsel, otomatis Marsel langsung mendorongnya dan Tian terjungkal dari bangku tempatnya duduk.
"ha..ha..lo jam segini dah mau duduk dilantai aja" kata Fino.
" gue masih waras sekarang, lo jangan dekat-dekat, gue masih suci ya" Marsel malas meladeni teman-temannya.
"ntar gue ceritain di bascame, sekarang gue keluar dulu" Marsel melenggang keluar kelas, dia tak mempedulikan pelajaran yang akan segera dimulai.
Marsel adalah anak cerdas, nilainya hampir sempurna, tak mengikuti pelajaran takan membuat nilainya anjlok, tapi sayang orang tuanya tak pernah menghargainya, dia menang sendiri, ngasih penghargaan sendiri dan membuat kejutan sendiri, sungguh menyedihkan hidupnya.
Marsel, Tian dan Fino masuk bascame, mereka menutup rapat pintunya, karena kalo pintu terbuka dan ada fans mereka yang tau, bisa-bisa banyak yang ijin keluar kelas dan menemani mereka di sana.
"Sekarang lo ceritain ma kita, lo kenapa?" Tian so bijak membuat Fino menjitaknya.
"kayak guru lo, gak pantes" Fino gemas dengan sikap Tian.
"iya lo kenapa sih, masalah dengan ortu lo, atau dengan perusahaan lo atau dengan fans-fans lo itu?" Fino mencoba menebak kegalauan Marsel.
"lo pasti gak nyangka" Marsel ngobrol sebagian membuat temanya penasaran, duduk dan memperhatikan Marsel mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
Marsel sebal dengan tingkah sobatnya, dia langsung melemper mereka dengan pensil dan membalikan badanya.
"lo ingat gak, dengan cewek yang ketemu di perpus itu?" Fino dan Tian berfikir dan lama-lama mengangguk.
"lo hamilin dia ya?"
"lo di tendang dia ya?"
Fino dan Tian langsung berpendapat semau mereka.
"enak aja lo, gue tuh sekarang kefikiran dia terus, dia susah banget di deketin, kamarin gue ngikutin dia ke mall, tadinya gue niat pengen deketin dia aja, eeeh sekarang dia malah diam tak menganggap gue ada"
Fino dan Tian diam, lama-lama saling melihat dan "ha..ha..ha. " pecah ketawa mereka semua.
"Baru tau cowok populer ada yang berani nolak ha.."
"lo kurang ganteng kali"
"gue lagi pusing, lo malah buat gue ruwet" Marsel kesal dengan teman-temannya.
"lo itu masa cuman segitu kemampuan lo, ntar lah kita bantu, kasian liat lo galau" kata Fino.
"hooh,lo tenang aja, dia pasti suka sama lo ok.
" em.." Marsel hanya diam saja, fikiranya belum mampu berfikir lebih selain takut Defa tak mau mengenalnya lagi.
__ADS_1