Cinta Difia

Cinta Difia
Preman


__ADS_3

Pertandingan akan segera dilaksanakan, karena letaknya yang agak jauh dari rumah Defa dan tim juga diharuskan nginap di hotel yang sudah dibayar oleh pihak sekolah. Defa pun pamit kepada mama dan papa nya, mama yang tak pernah jauh dari Defa merasa sedih tapi papanya menguatkanya.


"ma Defa berangkat ya, tenang aja Defa kan cuma sehari, besok juga udah pulang lagi, disana Defa juga cuma istirahat ma" Defa menghibur mama nya, dia sebenarnya juga sedih tapi mau gimana lagi.


"udah ma, kalo mama mau,kita juga bisa kesana, kita ikut nginap gimana?" Defano menawarkan ide kepada Defia, dia merasa tak tega melihat Difia nangis.


"kan papa besok harus meeting pagi-pagi juga, nanti kalo kena macet gimana?" Difia juga tak mau akibat keegoisannya suaminya jadi terhambat pekerjaannya.


"terus sekarang maunya gimana ma, ada saatnya kita juga harus berpisah, Defa kan mau berjuang, harusnya mama do'ain, kasian tuh anaknya malah gak semangat gitu" Defano mencoba memahami keinginan Difia dan menasihatinya.


Difia sebenarnya tak apa Defa pergi, dia juga sudah mengecek ke sekolah bagaimana persiapan dan keadaan disana, tapi entah mengapa perasaanya merasakan sedih luar biasa seakan Defa akan pergi untuk selamanya.


"hik...hik...gimana kalo Defa gak ikut aja, kan saru tim udah banyak sama cadangan ya" Difia berusaha menghalangi kepergian Defa.


"duh mama sampai segitunya, anak kita mau berkembang ma, Defa disana juga staf inti, gimana bisa ijin gak ikut coba, udah nanti kalo mama kangen atau mama kesepian mama ikut papa aja ke kampus atau ke perusahaan"


Difia pun berfikir lagi dan lagi, mungkin itu hanya efek dari rasa sayangnya yang berlebihan, demi perkembangan anaknya diapun menepis semua perasaan yang ada pada dirinya. Difia oun merelakan Defa pergi dengan semua persyaratan darinya.


Defa harus selalu bawa handphone, jangan lupa ngecas, handphon harus selalu aktif, ngasih info mau ngapain aja, teman siapa aja,kamar nomor berapa, dilantai mana, gurunya yang ikut siapa aja, dan apakah lawan main juga disana. Defano sampai geleng-geleng kepala mendengar semua syarat dari Difia, belum lagi makanan dan cemilan yang sudah dipersiapkan oleh Difia, membuat Defa bingung bawanya.


"ma...anak kita cuma sehari, nginep nya malam ini aja, kasian lo bawa barang sebanyak itu" Difia yang di tegur suaminya pun cemberut dibuatnya, kasih sayangnya membuatnya lupa dengan semuanya, seolah Defa masih anak kecil baginya.

__ADS_1


"Defa bawa sebagian aja ya ma, ntar kalo kurang Defa bisa cari sendiri ko, lagian kan ini semua udah ditanggung sama sekolah Defa tinggal fokus ke pertandingan aja, yuk Defa peluk mama dan papa dulu, mohon do'anya supaya Defa bisa membanggakan orang tua Defa." Merekapun berpelukan semua, Defa berusaha meyakinkan bahwa semua baik-baik saja.


" yaudah ya ma, Defa udah ditunggu, Defa berangkat dulu ya, nanti kita pasti ketemu lagi" kata Defa sambil melepas pelukannya dan pergi ke sekolah untuk berangkat bersama.


Defa pun naik ojol menuju sekolah seperti biasa, dia tak ingin teman-temannya menunggu lama, karena pemberangkatan berawal dari sekolah, Difia dan Defano tak bisa mengantarnya karena takut Difia nangis lagi, lagian Defa sudah biasa pergi ke sekolah sendiri, dia sangat mandiri.


Entah mengapa ojol yang biasa Defa tumpangi mendadak diganti dengan ojol lainya, Defa sebenarnya enggan tapi dia tak ada pilihan lain.


Defa pun sudah ditengah perjalanan, walaupun tempat itu padat, tapi rata-rata hanya daerah perkantoran, jadi jam segitu lumayan sepi disana, tiba-tiba ojol yang ditumpanginya mogok di tengah jalan, Defa pun berhenti sebentar, dia tak punya waktu lama, harus segera sampai ke sekolah, mau tidak mau Defa memberhentikan motor yang melintas di hadapannya.


"Pak tolong saya pak, motornya mogok, saya harus cepat ke sekolah, bapak tolong anterin saya ya, nanti saya bayar ko" Defa meminta bantuan pada motor yang berhenti itu, tanpa satu kata ojek nya pun mengangguk, Defa pun naik dan motor melaju, anehnya motor yang ditumpangi malah memilih jalan yang berbeda ke arah sekolah.


"pak saya sekolah bukan lewat sini tapi lewat jalur itu" Defa mencoba memberitahu orang yang dikira tukang ojek itu, tapi bukanya langaung ke arah semula tapi malah berhenti di tempat sepi dan diam.


"dapat buruan lo" kata salah seorang dari mereka.


"bukan, dia yang mau duluan sama gue" kata si tukang ojek yang Defa tumpangi.


"ha..ha...ha...mana ada yang mau lo"


"ni buktinya..ganteng kan gue" mereka pun tertawa,

__ADS_1


Defa yang baru sadar dengan siatusinya, segera mencari cara untuk pergi dari tempat itu, tapi salah seorang dari mereka mendekatinya.


" hai neng cantik mau kemana?"


"sama abang aja,abang kan ganteng juga" mendengar kata ganteng dari temannya, semua tertawa lepas, badan tinggi kerempeng, penuh tato, kuping bertindik besar malah terlihat seperti cacat, tapi mengatakan ganteng, menjadi candaan teman-teman nya yang lain.


"yuk neng cantik ikut abang yu"


"gue mau ke sekolah bang, kasihan gue bang"


"ha...ha..jangan dilepas wei, ini buruan paling cantik lo"


Tak lama salah satu preman mendekatinya, akan memegang tangannya, tapi Defa cepat menyingkir, preman itu pun berusaha lagi mengambil tas Defa, Defa pun berkelit ke pinggir, preman yang satunya pun mendekatinya, Defa berusaha mencari celah, dia jongkok ke bawah dan berusaha lari, tapi preman yang lainya menghadangnya.


"cantik kamu luwes juga ya, biarkan kita yang nganter kamu ya" Defa hanya mentapnya, dan bersiap-siap pergi dari situ.


"ayoo bro, masa lo kalah sama anak kecil, cewek lagi" kata temanya yang lain, preman yang menghalangi Defa pun merasa tertantang, dia segera marimaih tangan Defa, tapi karena Defa atlit taekwondo, dia bisa menghindarinya.


Preman itu pun geram, merasa dilecehkan diapun menyerang Defa. Defa berusaha menghindar, dia melihat jam tangannya, waktunya sudah mepet, ho berdering, dia ingin segera keluar dari sana.


Melihat Defa yang terus menghindar preman malah kesal, dia menyerang Defa membabi buta, Defa pun menakis, menahan, melompat, menukik, dia membaca kelemahan lawan, saat Defa melihat ada kesempatan Defa pun menyerang preman itu, menendang alat fitalnya supaya cepat beres, alhasil preman itu langsung menjerit dan mengaduh memegang alat pusakanya.

__ADS_1


Teman-teman yang lainya pun turut membantu, Defa diserang beberapa preman, Defa mencoba untuk terus bertahan, dia memindai pergerakan lawan, hp nya terus berdering, dia ingin cepat mengakhirinya, saat preman menyerang semuanya Defa pun melawan dengan sekuat tenaga, dia tak punya waktu lama, Defa mencoba kekuatan penuh darinya saat preman itu melawannya secara bersamaan, Defa melompat keatas, menendang kepala preman, ada yang dia banting badanya, ada juga yang alat fitalnya dia tendang juga, ada juga yang sampai patah tangannya karena dia puter ke belakang.


Setelah perjuangan begitu lama, preman pun sudah kalah semua, Defa juga sudah kecapean. Defa segera pergi dari sana, dia mencari jalan yang tadi dia lewati dengan sisa tenaga yang ada.


__ADS_2