Cinta Difia

Cinta Difia
Difia Jatuh Cinta


__ADS_3

Defano sangat bahagia, saat-saat bersama Difia adalah hal paling dia nantikan, bukan hal yang mahal, bukan juga harus ke tempat mewah, Difia tak menginginkan itu, Defano hanya mengajaknya ke tempat nongkrong muda mudi di tempat lain.


Banyak makanan berjejer, dengan berbagai aneka rasa, ada juga minuman yang unik-unik, semuanya terlihat enak dan menggiurkan.


Dari mulai jajanan tradisional hingga modern tersedia disana, maka tak sedikit turis yang datang sengaja untuk menikmati susana tersebut, acara-acara pun ditampilkan, tidak berbayar tapi sangat menarik, para pengunjung pun rela memberikan sebagian rejekinya jika pertunjukan itu menarik baginya.


Difia terus menyusuri tempat tersebut bersama Defano. Defano pun tersenyum sepanjang perjalanan bersama Difia, tak ada saling tautkan tangan tak ada saling gandeng, hanya berjalan bersama tapi bahagianya tak terkira, beribu-ribu bintang seakan bersinar disekitar ke dua insan itu.


Tak ada rasa cape dan lelah, semua menarik perhatian mereka berdua, terutama Defano yang sering curi-curi pandang melihat Difia.


Mereka seperti anak muda yang sedang kencan berdua, di setiap stan makanan yang baru, Difia melihat-lihat karena penasaran.


"pak itu makanan apa ya, ko pake wajan tapi ngerak gitu?"


"masa kamu gak tau."


Difia geleng-geleng, sambil merenung


"mau beli?"


"gak ah pak."


"yakin?" kata Defano dengan tatapan mautnya.


"uuuh gak tau apa diriku lagi ngirit malah bawa kesini, ngiler kan aku." Difia berceloteh dalam hatinya."


"pak beli satu ya." Defano memesan satu,


setelah makanan dibuat Defano menyerahkan makanan ke Difia.


"ni coba makanannya, biar gak penasaran."


"loh ko dikasih ke saya pak, saya kan gak mau beli"


"gak papa gratis buat kamu, saya yang bayar, kamu tenang aja" kata Defano sambil tersenyum.


"bener ya pak, gak ngutangin kan." Difia menatap penuh selidik kepada Defano, Defano tersenyum manis.


"ih kamu gak percayaan banget, yuk makan aja, saya juga mau coba." kata Defano


" enak ya pak." kata Difia, Defano pun mengangguk setuju.


Akhirnya Defano dan Difia memakan makanan itu ber dua.


"Ini namanya kerak telor Difia, makanan khas betawi." Terang Defano.


"Nah sekarang kita kemana lagi?"


"yuk ah pak masih penasaran nih, kita lanjutkan lagi."


"ok."kata Defano.


Tiap stan makanan Difia membelinya, tentu yang membayar Defano, karena Difia tak pernah memintanya, tapi Defano yang membelinya sendiri.


🐻🐻🐻


Waktu telah tengah malah, Difia akhirnya nguap, Defano melihatanya, Defano merasa bersalah, walaupun tak rela berpisah tapi Defano kasihan melihat Difia yang terlihat kecapean dan ngantuk, Defano mengajak Difia pulang, mereka pun memutuskan untuk segera pulang, tak lama setelah masuk mobil, Difia langsung tertidur, Defano menatapnya.


"seandainya saja kita bisa terus seperti ini, aku bahagia" gumam Defano, dan segera meninggalkan tempat itu.


🐻🐻🐻

__ADS_1


"Difia bangun, ini sudah sampai di kosanmu"


"em.." Difia bergumam


" Difia."


Defano menepuk-nepuk pipi Difia, melihat wajah yang selalu dia rindukan setiap waktu. Mengusap wajah dan memandanginya, menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnya. Difia terlihat bertambah cantik dan sangat lugu, tak ingin dia berpisah.


"Difia."


setelah sekian kali Defano membangunkan tapi tak ada respon dari Difia, akhirnya Defano membawa Difia ke rumahnya.


Sesampainya di depan rumah Defano, Difia tak terusik sedikitpun, Defano membuka pintu dan menggendong Difia ala bridal style, membawanya ke kamar tamu dan menidurkan Difia disana.


Defano memandanginya sebentar, dan tanpa dia sadari cup bibirnya mengecup kening Difia.


"mimpi yang indah ya Difia."


Defano pun keluar dari kamar dan istirahat di kamarnya.


Defano tidur telentang dengan tangan menyangga kepala dan membayangkan kebersamaanya bersama Difia tadi, lambat laun matanya menutup, diapun tertidur sambil tersenyum bahagia.


🐻🐻🐻


Pagi menjelang Difia pun bangun, dia masih menutup matanya, meraba-raba kasur yang dia pakai.


"kenapa rasanya empuk sekali." Difia bergumam.


Difia bangun dan berusaha mengumpulkan kesadaranya.


"Semalam kan bersama pak Defano, setelah itu masuk mobil untuk pulang, dan...aku tidur...ya tidur..berarti sekarang ini dirumah pak Defano dong."


Difia segera keluar dari kamarnya, hal yang pertama dia lakukan adalah mencari Defano. Difia sudah pernah ke rumah Defano, jadi dia tau dimana letak kamar Defano. Difia pun mengetuk pintu kamarnya Defano.


pintu belum dibuka, tapi dari dalam terdengar suara langkah kaki mendekat, tak lama pintu pun terbuka dan terlihatlah Defano yang sudah segar dan rapi habis mandi.


Difia terkesima melihat penampilan Defano, sampai menelan ludahnya sendiri. Defano tersenyum, dia ingin menggoda Difia.


"Difia..."


Defano malah sengaja berlama-lama di depan Difia


"ehm..ehm..."


"eh...hehe.." Difia malu, mukanya berubah semerah tomat. Maaf pak menganggu.


"ada apa Difia?"


" pak maaf ya semalam saya merepotkan bapak."


"ah gak apa-apa Difia, saya malah seneng bisa sama kamu jalan ber dua."


pipi Difia semakin merona


"ih bapak ko gitu, saya malu pak."


"kamu ngegemesin Difia." ucap Defano pelan


"hah apa pak?"


"gak ko.."

__ADS_1


"Pak saya ijin pulang ya, hari ini jadwal pagi"


"makan dulu saja disini."Defano menawarkan sarapan pada Difia.


"Nanti saya kesiangan pak."


"saya antar."


"pak jangan baik banget, ntar gimana kalo saya suka sama bapak."


"itu yang saya tunggu, kamu jatuh cinta pada saya."


Defano menjawab Difia dengan sungguh-sungguh, dia tak ingin lama-lama menunggu Difia, hatinya menghangat mendengar Difia akan suka padanya, dia menjadi lebih bersemangat mendekati Difia.


Difia pun sarapan di rumah Defano bersama nenek Mirna. Nek Mirna kelihatan senang ada Difia. Setelah beres sarapan Difia pun segera pamitan.


"Pak saya sarapanya udah ya, mau ijin pulang"


"yaudah hayu saya anterin."


"tapi pak, nanti bapak telat."


"gakan telat, tempat kita kan gak jauh-jauh amat Difia, hayu." Tanpa sadar Defano segera menyambut tangan Difia , Difia pun terdiam, dan deg...deg ..deg...jantung Difia berdegup, pipinya merona dengan perlakuan sepontan Defano itu.


Difia mengikuti langkah Defano ke mobil dan pulang ke kosanya.


Hari itu wajah Difia cerah berseri-seri, mulutnya selalu tersenyum manis, perlakuan Defano selalu terbayang di mata Difia, sepintar dan sehebat apapun dia berusaha menyimpan perasaanya, Difia tetap terlihat bahagia.


Di kampus Rini merasa heran dengan tingkah laku Difia, gak biasanya Difia senyum-senyum sendiri sambil melamun.


"Difia...Difia..."


Rini memanggil Difia, tapi Difia masih berada dengan hayalanya, seolah tak terusik dengan panggilan Rini, Rini pun kesal.


" Difiaaaaa...." Rini memanggil Difia setengah berteriak sambil memukul lengannya sedikit.


"ih apa sih" teman sekelas yang lain pada komen


" iya kamu kenapa sih Rin, berisik banget, mana tanganku sakit lagi." kata Difia


"he...tenang..tenang semua..." sahut Rini


"apa sih Rin, kamu tuh ribut banget." sewot Difia


"habis dari tadi kamu kayak kesambet, dipanggil-panggil gak ngejawab, malah senyum-senyum sendiri."


"iya gitu, kayaknya gak deh." Difia seakan tak percaya.


"huh...gak apanya, kalo gak gtu mana mungkin tadi diriku teriak."


"he...." Difia cengengesan


"roman-romanya kamu jatuh cinta ya?"


" hah...seorang Difia jatuh cinta? gak mungkin."


"yakin..kamu jatuh cinta pokoknya."


"buktinya apa?"


"tuh tadi udah buktinya, senyum..senyum..padahal gak ada yg ngajak senyum."

__ADS_1


"ah masa sih jatuh cinta."Difia sebenarnya bukan menyangkal tapi dia tak tau rasanya jatuh Cinta, karena dia sangat menutup diri selama ini terhadap mahluk yang namanya laki-laki.


__ADS_2