
Sampai di sekolah Defa dan Marsel belajar seperti biasanya, mereka tak menghiraukan apa yang digunjingkan teman-teman mereka.
Marsel yang semakin tampan dan terlihat dewasa semenjak dirinya jadi pimpinan membuat para wanita semakin ngantri dibuatnya, mereka berlomba untuk mendapatkan perhatian Marsel, tapi apalah daya Marsel telah menutup pada yang lain, dia hanya menambatkan hatinya untuk Defa, sampai kapan pun dia akan menjaganya dan akan menunggunya.
Defa juga begitu, dia semakin hari semakin bersinar, cahanya hampir menyilaukan semua orang, acuhnya dia menjadi daya tarik tersendiri untuk para siswa bahkan para guru yang masih lajang, apalagi prestasinya yang bukan kaleng-kaleng, semua orang sangat mendambakan seorang putri atau pasangan seperti Defa.
Marsel yang mengetahuinya pun merasa ketar-ketir dengan popularitas Defa itu, dia takut Defa tertarik pada yang lain, dia takut Defa diambil orang lain, makanya sesibuk apapun dia akan menyempatkan diri untuk mendapatkannya dan menemaninya.
Marsel tak akan mengampuni orang yang berani menyakiti Defa, dia juga tak akan membiarkan lelaki manapun mendekati Defa.
Marsel selalu memantaunya walaupun dari jauh.
Saat Marsel sibuk menghalangi fans-fans Defa, Defa tak memikirkan apapun selain kesehatan papa tercintanya.
Hari ini Defa sangat gelisah, dia tak sabar menanti waktu pulang sekolah, saat istirahat tiba siswa yang lain banyak yang keluar sekedar mencari angin atau pun ke kantin untuk makan, Defa hanya modar-mandir saja dikelas, dia tak mampu menahan gejolak hatinya.
"Defa lo kenapa sih mondar-mandir terus kayak setrikaan?"
"gak ko"
"ih lo gaje banget, keluar aja lo kali aja dapet inspirasi"
"owh iya ya" tanpa berpikir panjang Defa langsung keluar kelas, dia pergi ke taman sekolah, tempat yang lumayan tënang dan adem karena banyak tumbuhan yang sengaja ditanam disana.
Defa terus mondar mandir, kadang dia diam, kadang berdiri, kadang balik lagi dan matanya hampir menangis.
"udah cape?" tanya seseorang yang ada dibelakangnya. Defa hanya diam saja, dia tau siapa yang menelpon tadi, orang yang selalu mengikutinya, membantunya dan menjaganya.
"kenapa, kalo mau pulang ya pulang aja" kata Marsel, ya dari tadi Marsel mengikutinya, dia tau Defa disini juga dari teman-temannya tadi.
Defa hanya diam saja dia bingung harus bagaimana, karena kalo pulang dia takut mamanya akan marah padanya, mama selalu ingin Defa pintar dan sukses, karena Difia dulu juga berasal dari orang biasa dan dia ingin anaknha
dtak mengulanginya lagi.
“kalo mau pulang gue bisa bantu lo ijinin ke sekolah” Marsel memberikan solusinya, dia juga kasihan melihat Defa yang sepertinya kebingungan itu.
“em bentar dulu gue coba telpon mama dulu” Defa pun mencoba menelpon mamanya, tapi tak diangkat, kemudian mencoba lagi dan lagi hingga ke beberapa kali, dia semakin gelisah dibuatnya.
Saat Defa sedang dalam keadaan begitu Marsel telah memberikan perintah pada temannya untuk mengurus perijinan Defa, sehingga Defa bisa langsung pergi dari sekolah.
“iya deh aku mau”
“mau apa”
“mau pulang”
“ya hayu”
“tapi aku belum ijin, aku ijin dulu”
“udah kita langsung aja, urusan ijin itumah udah selesai”
“tapi…” Defa ragu dengan pernyataan Marsel.
“kamu gak percaya?”
“emmm” jawab Defa sambil menggelengkan kepanya, tapi dengan cepat Marsel mengajak Defa pergi dari sana.
__ADS_1
Defa kembali kekelas, dia membawa semua perlengkapan sekolahnya, teman-temannya tak banyak bertanya karena Defa memang sudah terbiasa pergi mewakili sekolahnya. Defa pergi denganterburu-buru, dia ingin sekali secepatnya sampai di Rumah sakit, hatinya sudah tak menentu.
Merekapun segera ke parkiran dan mengambil mobil Marsel, Defa diantar Marsel untuk ke Rumah sakit, Defa bukanya tidak mau tau bagaimana Marsel juga ikut yang penting untk saat ini adalah diaharus segera bertemu dengan mamanya dan papanya, dia harus memastikanbagaimanana keadaan papanya.
Diperjalanan mereka tak banyak yang mengobrol, karena Defa tak focus d engan itu, Marsel mengerti keadaan Defa sehingga dia mencoba seceptnya sampai, dia mengemudikan kuda besinya dengan keahlian yang mumpuni sehingga perjalanan yang biasanya membutuhkan waktu yang lama kini hanya terasa beberapa menit saja, tapi beda bagi Defa semuanya terasa lama karena pengaruh dari hatinya itu.
Mereka sampai di Rumah sakit, Defa segera berlari menuju ruangan orang tuanya, Marselpun mengitkutinya setelah menyimpan mobilnya dulu.
Marsel dan Dafa pun menuju ruangan papanya Defa, dia membuka pintunyakarena tampak hening disana, dan tak lama terlihatlah Difia yang sedang menangis, Defa langsung berhambur memeluk mamanya
itu.
“ma kenapa ma?” Difia hanya diam mengeluarjan air matanya saja, dia tak sanggup untuk berkata-kata, Defa yang
melihat mamanya seperti itu pun ikut menangis, dia tak sanggup melihat keadaan orang tuanya seperti itu. Difia pun sadar dia segera mengeringkan air matanya,dan mengusap air mata Defa.
“udah nak, kamu kenapa ikutan menangis heum..?” Difia berusaha menenanngkan hati Defa, dia tak ingin anaknya
tambah sedih.
“ma..kenapa mama tak menjawab telpon Defa?” Defa bertanya pada mamanya itu, sebenarnya tapi saat Defa menelpon, disana sedang ada dokter yang memeriksanya, dan menyatakan Defano keritis kembali, itu membuat hati Difia hancur sehingga daia tak sadar saat Defa menelponnya.
“tadi papamu sempat drop kembali”
“apa ma, tapi kenapa mama gak
hubungin Defa?”
“karena mama panik sayang”
Difia yang melihat itu hanya bisa diam, dalam hatinya berdo’a semoga suaminya cepat kembali padanya.
“pa.. cepet sembuh pa, papa bangun Defa kangen pa” suara Defa tersendat dan hampir tak terdengar, dia tak kuat
dengan semua itu
“pa…kasian mama, papa cepet sembuh ya pa” kata Defa lagi. Melihat adegan sepereti itu MArsel tak bisa banyak bicara dia hanya memperhatikan saja interaksi ketiganya, dia melihat kesedihan tetrdalam
dalam keluarga kecil itu.
Difia yang juga memeperhatikan kemuadian baru sadar bahwa Defa tak sendiri kesana.
“nak kamu ternyata ikut ya?” Difia pun menyapa Marsel yang hanya berdiri disana.
“iya tan..” Marsel langsung membungkuk dan menyalami calon mertuanya itu.
“maaf ya mngkin Defa merepotkanmu”
“gak ko tan, Defa gak ngerepotin saya, dia tadi kayaknya sedih dan bingung jadi saya inisiatif buat ijinin Defa
kesini, tadi Defa juga kan sempat telpon tante tapi karena tak ada jawaban jadi dia mau buat diajak ijin kesini”
“makasih ya nak”
“iya tan, tante jangan sedih terus om pasti sembuh” Defa hanya menganggukan kepalanya dia tak kuasa untuk
menjawabnya.
__ADS_1
Defa yang masih duduk menghadap
papanya di ranjang masih betah disana, dia ingin selalu bersama papanya itu.
“papa cepat sembuh ya, Defa akan selalu nemenin papa, Defa akan nuruti semua keinginan papa” kata Defa sambil
mengelus tangan Defano.
“pa Defa ke mama dulu ya, kasianmama juga kayaknya sedih banget” Defa segera bangun dan menghampiri Difia, dia memeluk mamanya lagi.
“ma..ini udah siang, kita makan dulu ya” Defa berusaha sebjak mungkin dia tak ingin terlarut dalam keadaan itu, dia
mencoba berfikir hal positif.
“iya nak terserah kamu aja”
“yaudah bentar ya Defa beliin nasi dulu atau kita makan diluar saja?”
“gak ah nak, mama gak mau ninggali npapa sendirian, kamu cari aja dan bawa kesini”
“yaudah kalo begitu mama jangan
nangis lagi, Defa mau cari makan dulu ya ma”
“iya sayang, kamu memang anak yang baik semoga ada yang menyayangimu melebihi kami”
“amiin” Defa tak sadar ada Marsel dia langsung pergi keluar untuk mencari makan, tapi Marsel pun tak tinggal dia
tak ingin terjadi apa-apa pada Defa, dia menyusulnya untuk menemaninya.
“tungguin pacar” Defa pun menoleh
pada Marsel
“eh maaf lupa kirain tadi gak bawa siapa-siapa”
“gak papa santai aja”
“kamu mau juga nanti aku beliin ya”
“udah santai aja, yuk kita beli sama-sama” merekapun mencari makanan disekitar rumah sakit yang sesuai dengan
keinginan mereka, untungnya disana sangat lengkap jadi Defa dan Marsel tak terlalu jauh mencarinya, mereka pun segera mendapatkan yang mereka inginkan.
Defa dan Marsel segera kembali mereka tak ingin meninggalakan mamanya lama-lama, pas mereka sampai mama nya tak terlihat Defa pun mencari mamanya, Difia pun muncul ternyata dia baru saja
selesai melaksanakan sholat dzuhur.
“ma hayu kita makan”
“iya nak”
“Sel lo makan juga ya, tadikan kita beli lebih”
“ok”
Merekapun makan dalam diam, Marsel hanya mengikuti keinginan Defa, dia ingin Defa tenang dan bahagia, itu sudah membuatnya ikut bahagia.
__ADS_1