Cinta Difia

Cinta Difia
Jadikan aku siapa-siapamu


__ADS_3

Difia seakan tak percaya dengan yang dilihatnya, dosen yang dia lihat sangat menjaga sikap ini ternyata bisa melakukan hal yang absurt.


"pak ada apa?"


Defano diam saja.


"maksud bapak bawa saya kesini mau ngapain."


Defano masih diam.


"pak...?"


"pak Defano?"


Karena Defano masih diam, Difia pun kesal, dia greget sendiri kepada dosenya itu.


"ini dosen kenapa sih, gak jelas banget."Difia mengumpat dalam hatinya.


"yaudah pak saya pergi kalo gitu, saya lapar mau ke kantin." Difia segera meranjak pergi dari tempat itu, Defano baru sadar setelah Difia melangkah pergi, secepat kilat Defano segera menyusul Difia dan menyamakan posisi dengan Difia.


"Difia..aku gak suka kamu sama laki-laki lain." katanya dalam hati, tapi yang terucap dari mulutnya malah lain lagi.


"Difia bukanya kamu ke kampus mau belajar, jadi jangan sekali-kali kamu menggoda laki-laki, fokuslah belajar."


"maksudnya?"


"maaf pak siapa yang menggoda laki-laki? dan kenapa bapak repot-repot mengurus urusan saya."


"pak kita hanya sebatas mahasiswa dan dosen, tidak lebih, jadi saya mohon bapak mengerti batasan kita."


Defano seakan tak menerima perkataan Difia, dia yang dielu-elu kan, digilai, dan dicintai oleh banyak wanita, tapi gadis ini kenapa sangat tidak menghargai perhatianya, Defano merasa tidak dihargai dan tidak terima diperlakukan seperti itu.


Difia segera berlari melihat Defano lengah, dia segera menuju kantin, karena sudah janjian sama Rini, jantungnya berdegup tak karuan mengingat kejadian yang baru saja terjadi, tak habis fikirnya dengan Defano. Rini yang melihat Difia melamun segera bertanya.


" Difia kamu dari mana, kirain tadi udah sampe kantin , aku cari-cari kamu gak ada, yaudah aku pesan duluan deh."


"gak ko tadi ada keperluan sebentar, aku pesan dulu ya."


"ok cantik."


Dari kejauhan Defano melihat Difia, dia tak percaya dirinya melakukan itu, dia merasa tak kuat hati melihat Difia dengan laki-laki lain, baru saja Defano mau pergi, Defano melihat Arfan duduk mendekati meja Difia, entah apa yang dibicarakan, tapi sepertinya Arfan sedang merayu Difia.


Defano benar-benar sulit menguasai diri, dia segera pergi dengan hati dongkol.


Melihat Difia dindekati Arfan seakan tak terima


"ada apa dengan hatiku, apa benar aku sudah ada rasa padanya, apa yang harus aku lakukan?"


Defano prustasi, akhirnya duduk diruanganya, merenung dan berfikir.


"tak mungkin secepat ini, apa yang istimewa dari anak itu, sehingga hatinya cepat sekali suka padanya, ya suka dia suka dengan Difia, akhirnya Defano mengakui bahwa dirinya suka, dan dia berjanji untuk mendapatkan cintanya Difia."


Defano terus bergelut dengan fikirnya dan membuat keputusan masa depan ya.

__ADS_1


Sedangkan yang terjadi sebenarnya di kantin adalah saat Difia dan Rini sedang makan datanglah Arfan dengan teman-temanya.


"neng Aa Arfan ikut semeja dengan neng ya"


"terserah"


walaupun dijudesin sama Difia tapi Arfan tak patah arang, dia selalu berusaha mendekati Difia. Keadaan itu membuat Dini tak suka.


mereka kembali lagi ke kelas, satu persatu mereka masuk, Dini telah menyiapkan jebakan untuk Difia, sedangkan orang yang dimaksud sebentar lagi masuk.


semua sudah ada di kelas, Dini mengancam semua orang untuk diam di tempat, saat itu Dini menyiapkan tepung terigu diatas pintu, sehingga kalo pintu di dorong dari luar, terigu akan tumpah mengenai orang yang mendorong.


Dini mengira semua sudah masuk tinggal Rini dan Difia, padahal Arfan aaat itu belum masuk juga, Arfan terus mengikuti Difia, hingga pas masuk kelas Arfan ingin membuat Difia merasa tersanjung, dia membukakan pintu.


"silahkan neng nya Aa masuk"


Dini yang melihat tegang seketika, semua tak sesuai rencana dan wurrr tepung terigu tumpah ke badan Arfan, semua orang melotot, Dini pun kaget, Arfan yang terkena tepung pun mengepalkan tanganya, dia malu dan kesal, Difia yang melihat hanya acuh tak acuh, tak mengindahkan tatapan orang-orang.


"hah siapa yang berani melakukan ini?"


mereka diam tak bersuara, Arfan menatap nyalang kepada semua yang ada di kelas, katakan siapa yang melakukan ini?"


Arfan menggebrak meja, akhirnya mereka semua melayangkan pandanganya ke arah Dini. Dini yang ditatap pun merasa terpojok.


"gak fan sebenarnya itu bukan untuk kamu, tapi untuk anak lusuh itu."


"siapa yang sebut kamu lusuh."


"anak kampung yang sok cantik, itu si Difia."


"Kamu berani sama neng Difia maka berhadapan denganku Dini, awas kamu." Arfan memperingatkan Dini.


"brengsek.. sekarang Arfan pun berpihak pada gadis sok cantik itu, awas aja." Dini berbicara dalam hatinya, dia semakin benci kepada Difia.


Difia tak memperdulikan ke dua orang yang saling berdebat, sampai jam pelajaran selanjutnya pun mulai lagi.


pelajaran berakhir, Difia segera siap-siap pulang


"Rin aku duluan ya."


"emang mau kemana?"


"ke kosan lah kemana lagi?"


"kita ke toko buku yu?" Rini ngajak Difia


"gak ah dompetnya tipis, dari perpus ajalah, ntar kalo ada uang baru beli."


"kamu kapan ada uangnya."


"kapan ya? he....?"


"hayulah anter, boring di kosan terus mah."

__ADS_1


"kata siapa, aku mau tidur, udah kangen tidur dikosan." Difia keceplosan


" Emang malem tidur dimana, ko bisa kangen?"


"eeeh ya di kosan lah, kan tidurnya cuma bentar Rin, tau kamu juga diriku kerja, jadi wajar dong ngantuk"


Difia membuat alasan yang bisa dimengerti


"kapan atuh nganter?"


"besok aja ya, kan besok ada matkul yang kosong kita bisa jalan-jalan bentaran."


"ok dech...gitu dong baru namanya Difia he..." Rini akhirnya setuju dengan ide Difia, dan Difia pun bisa pulang ke kosanya dengan tenang.


Begitu Difia mau masuk ke kosan tiba-tiba ada orang yang memanggilnya


"Difia..."


"hadeuh gatot nih bobo siangnya. siapa lagi sih, ganggu aja, gak boleh istirahat bentar gitu, kan kasian kasur aku yang tipis belum diboboin" gerutuan Difia.


Difia mencari asal suara, dan pas dia nengok ke belakang sudah ada Defano diam dibelakangnya


"Pak Defano ngapain?" Difia merasa heran


"ada yang perlu dibicarakan Difia"


" tentang apa? neneknya kabur lagi?"


Difia asal tebak aja, ikut saya sekarang


"Pak jangan asal suruh ya, ini diluar jam kampus, saya juga mau solat, makan, dan istirahat, nanti saya juga harus kerja, jadi bapak jangan seenaknya nyuruh-nyuruh saya."


Defano tak mempedulikan cerocosan Difia, dia langsung menyeret Difia ke dalam mobil, mobil langsung dikunci oleh Defano.


"pak mau apa, mau kemana inih?"


"duduk."


"iya mau kemana dulu?"


Defano diam dan langsung menancapkan gas, pergi dari kosan Difia. Setelah beberapa menit mereka sampai di sebuah danau buatan yang terlihat asri penuh bunga dan ada ikan-ikan mas besar warna kuning dan merah, diatas air, bunga teratai mekar sangat cantik membuat pemandangan sangat indah disekitar danau itu.


Mereka duduk berdua, Defano menyimpan kepalanya di bahu Difia


"eeeh...." Difia kaget


"biarkan seperti ini dulu."


"gak bisa dong pak, kita bukan siapa-siapa, ngapain kayak gini."


"kalo gitu jadikan aku siapa-siapamu."


"haaaaah ..."Difia melotot sempurna...

__ADS_1


dukung...dukung....dukungannya...🙏absurt.


__ADS_2