
Marsel kehilangan kata-kata, dia bingung dengan dirinya sendiri, ingin melarang tapi bukan miliknya dan benar dia bukan siapa-siapa.
"Lo tuh gak baik berdua dengan laki-laki disini, sebaiknya lo tuh segera pulang" Marsel segera membuat alasan yang mungkin masuk akal.
"lo tuh kenapa sih, gue disini gak ber dua tapi banyakan dan ditempat umum, dan lagi apa urusanya dengan lo" Defa segera pergi dari sana dan mencari kedua orangtuanya, dia pun segera bergabung dengan mereka, tapi tak lama kemudian laki-laki tadi pun bergabung bersama mereka, hal itu membuat Marsel gak tahan.
Marsel terus memantau dari kursi yang tak jauh dari sana, melihat keakraban mereka membuat Marsel melangkahkan kakinya kesana.
"malam om malam tante" Marsel berusaha tenang dan menyapa mereka, Defano yang sedang bercengkrama pun merasa heran dengan kedatangan Marsel.
"iya nak, ada apa ya?" Defano berusaha bijak.
"boleh gabung disini om, saya gak punya teman"
"oh boleh"
"makasih om"
Marsel pun ikut bergabung dengan mereka, dia berusaha mengakrabkan diri disana. Tapi sayang dia dibiarkan begitu saja. Defa malah bercanda dengan orang tuanya.
"sayang itu temanya masa dibiarin gitu aja" Defa tak tega melihat Marsel hanya diam sendiri.
"biarin ajalah ma, gak ngundang juga" Defa malah acuh tak acuh, Marsel yang mendengarnya merasa tak enak hati, tapi dia malah merasa semakin tertantang.
"gak boleh gitu sayang, gak baik lo" Defa memberikan solusinya.
"iya mah ih" Defa tak bisa menolak orang tuanya, dia akhirnya menurut saja.
__ADS_1
"kamu tuh mau apa sih" Defa mulai bicara.
"gak mau apa-apa santai aja" Marsel cuek aja.
"terus ngapain ikut duduk disini?" Defa kesal
"mau aja" kata Marsel dingin.
"ih" Defa makin kesal dengan jawaban Marsel.
"nak kamu ngobrolnya bisa pisah ko dari kami" Difia seakan mengerti dengan keadaan.
"ih mama, disini aja" Defa merajuk.
"sana kalian bereskan urusan kalian" Defa memberikan waktu untuk mereka anak-anak muda, walaupun tau kalo anaknya itu belum ngerti dengan urusan hati. Tapi Difia sadar kalo Marsel menyukainya.
"yaudah hayu pindah" Defa segera melangkahkan kakinya, dia tak ingin berlama-lama dalam situasi seperti itu.
"eh kita mau kemana sih, jangan jauh- jauh" Defa sewot. Marsel diam saja, setelah mendapatkan tempat yang cocok, Marsel segera menempatkan Defa di ayunan dibawah pohon dengan arah depan merupakan pemandangan bukit yang indah.
"duduk aja disitu" Marsel memerintahkan Defa diam.
"mau apa sih, lo gak jelas banget, suka banget ganggu orang"
"gue gak ganggu lo, yang nyuruh lo kan ortu lo, lagian emang kalo gue disini gak boleh apa?".
" huh alesan aja, yaudah kalo emang gak ada yang mau lo omongin, gue kembali lagi ke ortu aja, gak jelas banget"
__ADS_1
Marsel menggenggam tangan Defa, menariknya dan mereka hampir berpelukan.
"ist lo ini gak tau malu banget sih" Defa berontak, tapi Marsel semakin merasa penasaran.
"gue gak kan lepasin lo, lo tenangkan diri lo atau gak gue cium lo, gimana? lo mau kan?"
"jauhan sana, awas lo ya, gue aduin ke papa"
"aduin aja, paling kita nikah"
"hei jangan ngomong yang nggak-nggak ya"
"emang gue ngomong apa, cuma ngomong nikah, gitu aja"
"Marsel kita ingin masih muda, banyak yang belum kita lakukan dan belum kita raih, usah ah males ngobrol sama kamu"
"tapi gue gak males"
"ih" Defa pun secepatnya pergi daru Marsel, dia kesal dan sangat kesal dengan sifat Marsel. Sementara Marsel teramat senang, dia senyum-senyum sendiri, bahkan terkadang tertawa.
Defa segera menemui orang tuanya.
"ma kita pulang yuk" Defa heran anaknya biasanya sangat senang kalo diajak liburan selalu bahagia,/tapi kali ini terlihat kesal dan ingin buru-buru pulang.
"sayang kenapa?"
"gak ko mah, tapi kayaknya kita enakan makan di resto yang deket jembatan sana, Defa kangen makan di sana" Defa memberi alasan yang bagus, dia tak ingin mengecewakan orangtuanya.
__ADS_1
"yaudah yuk, keburu gak kebagian tempat" Difia mengajak keluarganya segera menuju restoran yang disebutkan Defa.
Merekapun berangkat sambil bercanda , Defa senang kembali.