
" Nenek pasti bahagia sayang"
Defano yang menjawab Difia
" iya kan nek?, kita bahagia banget ada kamu sayang, makasih udah mau hadir dalam hidup kami"
Nenek tersenyum bahagia melihat cucunya, dia juga menitikan air matanya.
"nanti kita bisa maen bareng nek, ada baby, ada kita dan ada nenek" kata Difia.
Nenek pun mengangguk
"Nenek sudah makan?" kata Defano
"sudah" jawab nenek
"Nenek mau nonton tv sama kita dibawah" Difia mengajak nenek Mirna.
"iya"
Merekapun beriringan ke ruang tv, Defano menjaga kedua wanitanya di belakang, dia tersenyum melihatnya, bahagia dan rasa sukur terus terucap dari mulut Defano.
"sayang, aku ke dapur dulu ya, ngambil minum dan cemilan" kata Defano.
"iya sayang, aku langsung aja ya"
"boleh, hati-hati ya bidadariku"
"makasih mas"
Hari-haripun berlalu, minggu berganti, bulan pun sama, kandungan Difia menginjak usia 4 bulan.
"Mas dalam adat kita, suka diadakan selamatan lo, kita mau ngadain gak mas?"
"boleh"
"aku mau bilang sama ibu ya mas"
"iya sayang, lakukan yang terbaik"
"souvenirnya gimana mas"
"tenang aja, mas punya teman yang suka bikin, jadi bumilnya mas, gak perlu cape ya"
"makasih mas"
"nanti aku siapin cemilan aja ya buat tamu"
"iya sayang"
Defano dan Difia segera menyiapkan acara empat bulanan kandungan Difia, ibu Difia dari kampung pun diundang untuk hadir diacara Difia.
Karena mereka bukan keluarga besar, Difia pun hanya mengundang tetangga, teman-teman kampusnya dan teman-teman Defano.
"Assalamualaikum" dari luar rumah ada yang salam.
"waalaikumsalam" Difia dan ibu pun menjawab serempak. Difia segera membuka pintu, dan tampaklah teman-temanya datang ke rumah.
"selamat ya Difia, gue gak nyangka lo malah yang duluan nikah"
"lo juga cepetan nyusul"
"jodoh gue otw terus"
"huuuuuh" kata teman-teman Difia yang lain
setelah itu mulailah tamu-tamu yang lain berdatangan.
__ADS_1
Teman-teman Defano maka yang menyambut Defano dan Difia, para tetangga juga mulai memadati rumah Defano, para yatim piatu yang sengaja Defano undang pun telah hadir.
Setelah waktunya tiba, maka mulailah acara 4 bulanan.
Lantunan ayat suci yang diperdengarkan terasa sangat indah, Difia terbuai dengan keindahanya tersebut, air matanya menetes, kebahagiaan terpancar diwajahnya, Difia menatap suaminya yang sangat mencintainya, dia tak menyangka, perjalanan hidup yang dia rencanakan akan berubah total seperti ini, tapi Difia sangat bersyukur karena telah dipertemukan dengan Defano.
Acara berikutnya ustad yang membacakan do'a-do'a untuk bayi yang masih dalam kandungan, dilanjutkan dengan pembacaan surat-surat yang biasanya dibacakak untuk orang yang sedang mengandung.
Defano diberi kesempatan membacakan surah ar-rahman, suaranya sangat merdu dan sangat menyentuh semua yang hadir diacara tersebut.
Acara pun berlanjut sampai selesai, dan para tamu pun satu persatu mulai pamit pulang, akhirnya rumah sepi kembali, hanya ada ibu, nenek, Difia dan Defano.
"Alhamdulillah ya mas acaranya berjalan dengan lancar".
" iya sayang, Alhamdulillah"
"semoga anak kita menjadi anak tang soleh atau solehah ya mas."
"amiin."
"kita beres-beres dulu yu mas"
merekapun membereskan semuanya.
"gak nyangka ya mas".
" gak nyangka apanya?" Defano mengerutkan mukanya.
"gak nyangka kita berjodoh."
"Alhamdulillah, makasih..makasih dan makasiiiiih banyak sama istriku tersayang, yang mau repot dan direpotin."
" sama-sama sayang"
Setelah selesai semuanya, rumah sudah bersih kembali, ibu dan nenek pun ke kamar-kamar masing untuk segera istirahat.
Difia dan Defano pun ke kamar mereka, untuk membersihkan diri.
"mas dulu aja ah.." kata Divia sambil merebahkan badanya di ranjang.
"cape ya?" kata Defano.
"iya, tapi seneng banget mas, gak sabar sama debaynya"
"iya mas juga, yaudah mas duluan ya, ntar gantian"
"heeh"
Defabo pun segera mandi,Difia yang ditinggalkan malah rebahan, dan tak terasa tertidur karena kelelahan. Defano yang baru selesai mandi pun dibuat geleng-geleng dengan bumil yang satu ini.
"Sayang bangun..bersih-bersih dulu gih"
"ngantuk mas"
"iya, tapi kalo kotor badanya kan gak nyenyak tidurnya sayang"
"uuh mas gitu"
"sini sun dulu biar gak manyun"
"ih mas kesempatan deh"
"biarin, sama istri sendiri ini"
"ih" Difia terus merajuk.
"mau mas yang madiin?
__ADS_1
" gak ah"
"yaudah bersih-bersih dulu ya biar tambah cantik"
"iya deh"
Akhirnya dengan segala bujuk rayu Defano, Difia pun segera membersihkan dirinya, walaupun ngantuk berat tapi kebersihan menurut Defano adalah hal utama, makanya Difia selalu berusaha menuruti kemauan Defano.
Defano yang telah mengganti bajunya duduk diatas ranjang, dia memeriksa pekerjaanya sambil menunggu Difia keluar dari kamar mandi.
Difia pun selesai,dia keluar dari kamar mandi dengan segar. wangi sabun mandi dan shampo yang dipakainya membuat Defano melirik. Difia yang masih memakai handuk diatas lutut dengan rambut yang basah menjuntai, membuat Defano tak dapat mengontrol dirinya.
Defano segera menyimpan pekerjaanya dan langsung menggendong Difia.
" Mas ih ngapain?" Difia menggelinjang layaknya ulat terkena sinar matahari, Defano terus membuat cap di badan Difia.
"gemes ih" kata Defano sambil tak berhenti membuat cap.
"rambutku masih basah mas" Difia beralasan
"biarin, udah lama juga" kata Defano
" ih mas segitunya" Kata Difia
" boleh ya sayang???" Defano memohon dengan suara seraknya.
Difia pun mengangguk dan terjadilah apa yang sudah menjadi rutinitas, mendaki gunung turun ke lembah, lewati hutan dan sampai ke sawah, dengan semangat mereka lakukan , yang akhirnya keringat pun keluar, dan mereka pun lemas bersama-sama.
Walaupun cape tapi tapi mereka sangat menyukainya, selama ini ditahan karena takut dengan si kecil tapi akhirnya mereka bisa bekerja bersama lagi.
Mereka pun tertidur pulas berdua, sambil berpelukan, sampai pagi tiba mereka hanya bangun sebentar kemudian tidur kembali, melakukan aktifitas yang sama dengan yang mereka lakukan waktu semalam, aktifitas yang menjadi paforit Defano.
Matahari datang mengusik dua manusia yang tidur nyenyak, dari balik kaca besar di kamarnya, matahari mulai membuat silau mata mereka. Akhirnya Difia pun terbangun dan segera membersihkan badanya kembali.
Setelah dirinya selesai Difia pun segera membangunkan Defano.
"mas..bangun"
"heum.."
"mas..ke kantor gak?"
"siang"
"ini dah siang mas"
"jam berapa?"
"sebelas mas"
"bentar lagi ya"
Difia cekikikan dengan tingkah suaminya
"sayang tadi jam berapa?"
"jam sebelas mas, mas mau makan gak?"
"what???" Defano terbangun dengan kaget.
"sayang kenapa gak bangunin dari tadi?."
"udah mas, masnya aja yang ngantuk banget"
"habisnya serasa kangen banget, jadinya keenakan pengen lagi terus"
"ih dasar,kecapean sendiri kan?"
__ADS_1
"he.."
Defano pun segera bersih-bersih, Difia menyiapkan baju dan segera masak, ibu dan nenek sedang becengkrama di teras belakang.