
Marsel senang sekali hari itu, dia bisa menggoda dan melihat Defa kesal, entah mengapa semakin hari dia semakin ingin dekat dengan Defa, karena selain cantik dan pintar ternyata dia juga masih banyak kelebihan lain dan tak memujanya.
Marsel tambah penasaran setiap hari apa lagi melihat keahlianya dalam basket. Dia pun segera mancari tempat hanya untuk melihat tampilan Defa pas basket.
Defa telah berganti baju, dia sedang manyiapkan diri untuk segera bermain basket, penentuan kelas mana yang pantas untuk mewakili sekolah ke pertandingan selanjutnya.
Pertandingan pun dimulai, sorak sorai di tribun penonton pun mulai bergema, Defa tak langsung turun kelapangan, dari awal dia adalah pemain cadangan walaupun dia juga adalah bintangnya di lapangan, pertandingan sangat seru, para penonton meneriakan yel-yel dan lama-lama menyuruh Defa turun.
"Defa..Defa...Defa.." suara penonton riuh.
"Defa main..Defa main..." Teriakan penonton bergema di tribun, hasil pertandingan masih seimbang, pada akhirnya ada temanya yang kecapean dan minta istirahat, Defa langsung turun kelapangan , suara tepuk tangan dan suitan dari penonton begitu ramai, Defa benar-benar bintang pada saat itu, banyak yang meneriaki kata-kata cinta dari para pemuda, membuat seseorang tak sabar untuk melihat Defa keluar lapangan.
"anak itu kenapa ngikat rambutnya tinggi gitu, lehernya kan jadi keliatan" Marsel bergumam dan Fino heran.
"kenapa lo Sel, lo gk sakit kan?" Fino bertanya pada Marsel. Marsel hanya diam saja, dia sangat fokus melihat aksi Defa di lapangan.
Fino melihat Tian dan mengkodenya melihat Marsel.
"Menurut lo Marsel kenapa?"
" gak tau gue"
"tapi gue curiga ma dia, liat aja dari tadi gak berkedip"
"semua orang juga sama, lo liat aja" Tian memperlihatkan pandangan semua orang ke Defa, semuanya kagum, Defa memanglah cuek tapi dia juga gak sombong kalo kita sudah mengenalnya.
"waktu terus berlalu, pertandingan pun berakhir, kelas Defa menjadi pemenangnya. Semua bersorak sorai, turut bahagia dengan kemenangan yan diraih Defa.
Marsel langsung turun saat Defa telah keluar lapangan, dia ingin segera menemui Defa tapi sayangnya Defa ternyata sedang bersama teman-teman satu grupnya. Marsel tak ingin Defa terganggu karena kehadiranya, dengan begitu dia membiarkan Defa begitu saja, sebenarnya saat itu Defa juga melihat Marsel ingin mendekatinya, tapi dia pura-pura tidak tau dan saat Marsel meninggalkan ya, dia segera berpamitan pulang kepada yang lainya.
Defa segera mencari ojol panggilanya setelah itu dia pun langsung pulang ke rumahnya.
" mah Defa pulang" Defa pum mencari mamanya, dia pun memeluk mama nya manja.
"mama bisa tebak kamu pasti bahagia ya?" Difia langsung mengerti.
"mama tebak, Defa kayaknya menang ya?"
"wah mamaku hebat syekali, alhamdulillah Defa nanti mewakili sekolah untuk tanding basket.
" alhamdulillah, kamu memang terbaik ya, yaudah sana mandi dulu dan siap-siap makan ya"
"ok mama"
Defa pun segera menuju kamarnya dan mandi.
"mama..Defa mau makan ah"
__ADS_1
"iya dong, yuk kita makan sama-sama"
Mereka pun makan dengan hidmat, menu kesukaan Defa membuat Defa makan dengan lahap.
Marsel agak lama menunggu , dia tak ingin Fino dan Tian mengetahuinya, setelah beberapa menit kemudian dia kembali mencari Defa, tapi orang yang dia cari tak terlihat sama sekali.
"anak itu cerdik sekali, awas ya kancil" Marsel segera keluar dan menghubungi seseorang.
"dimana dia?"
"ada bos sedang mandi"
"berani sekali dia melawan Marsel" gumam Marsel sambil bibirnya tersenyum tipis, entah mengapa dia ingin sekali memembuat kesal Defa.
Marsel segera menuju rumah Defa, mulutnya tak henti tersenyum, dia membayangkan Defa yang marah karena dia tanpa ijin bertemu ke rumahnya.
Marsel pun sampai di Rumah Defa.
"Assalamualaikum..." Marsel mengucapkan salam agak keras ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam" dari dalam rumah terdengar jawaban, tak lama kemudian datanglah Difia dari balik pintu.
"Eh nak Marsel, masuk nak?"
"iya tan makasih"
"ada, baru aja pulang, mungkin lagi mandi, masuk aja nak gak baik diluar rumah"
"iya tan makasih"
"bentar ya tante panggilin Defa nya"
" iya tan makasih"
"iya gak apa-apa, duduk dulu aja"
"iya tan"
Difia pun segera menuju kamar Defa
"nak..sayang.."
Difia memanggil anaknya "ada yang mencari kamu nak" Defa yang di dalam kamar merasa aneh, karena dia tidak merasa ada janji ketemu.
"siapa ma, Defa baru beres mandi nih"
"beresin aja dulu, jangan lama-lama ya"
__ADS_1
"ok mama" Defa pun segera memakai pakaian rumah nya, dia segera menuju ruang tamu, saat itu Marsel duduk membelakangi Defa, jadi Defa masih belum tau siapa tamunya dan saat Defa sampai dia terkejut dan kesal melihat tamunya yang tersenyum bangga.
"kamu, ngapain kesini, perasaan gak ada janji dan gak ada keperluan, kita juga bukan teman, sebaiknya pulang aja" Defa langsung nyerocos, pas saya Difia datang membawa nampan untuk tamu.
"Eh nak, kenapa gak sopan sama tamu, mamah gak ajaran untuk begitu lo" Difia menghela nafasnya, merasa heran karena Defa yang kurang baik menurutnya.
"gak apa-apa tante" Marsel seolah mendapat angin segar ada pembelaan dari Difia.
Difia melotot ke arah Marsel sambil mengepalkan tangan nya. Marsel hanya tersenyum mengejek ke Defa.
"Ma..Defa ke kamar lagi aja ya" Defa segera ijin ke orang tuanya.
"ko gitu sayang,gak sopan lo, temenin dulu barang kali ada yang penting"
"iya ma" Defa merasa malas, tapi mau gak mau nurut sama mama nya.
Marsel tersenyum senang melihat Defa yang kesal.
"apa lo? pulang aja gih"
"yakin mau ikut?" Marsel menarik turunkan alisnya dan tersenyum ke Defa.
"gak" Dengan singkat Defa menjawabnya.
"kita keluar yu"
"ogah" Defa makin kesal dengan keusilan Marsel, tapi Marsel malah semakin gencar menggoda Defa.
Waktupun berlalu, Marsel terlihat puas sudah menggoda Defa habis-habisan, diapun segera ijin pulang, Defa merasa lega karena Marsel telah pergi dari rumahnya.
"sayang itu temen kamu ya?" tiba-tiba Difia nongol tanpa di sadari Defa.
"gak ko mah, satu sekolah aja"
"kayaknya dia suka sama kamu lo"
"ih gak ya, Defa gak suka sama orang gak sopan kayak gitu" Defa memang belum suka sama seseorang, Marsel juga bukan tipenya sama sekali.
"jangan gitu lo, kita gak tau besok gimana" Difia menasihati anaknya.
"iya ma, yaudah ya Defa ke kamar lagi"
"iya sayang, udah makan belum"
"belum mah, ntar aja"
yaudah gak apa-apa, tapi harus makan ya, nanti sakit kalo gak makan.
__ADS_1
"iya ma" Defa segera menuju kamarnya, sebelum Difia mengatakan hal lainya lagi.