
Hari itu adalah hari sabtu, kebanyakan di sekolah-sekolah digunakan untuk kegiatan ektrakulikuler, Defa merupakan salah satunya, hari itu dia ada kegiatan taekwondo, Defa sudah membawa lengkap peralatan untuk kegiatanya, dari mulai baju, tas, handuk dan air minum tentunya, dia juga tak lupa membawa baju ganti karena tak nyaman kalo selesai kegiatan memakai baju yang sama.
Defa masuk ke tempat latihan, disana sudah hadir teman-temannya, walaupun Defa terkesan cuek, tapi saat bersama teman satu kelompok dia bisa ramah juga.
"halo kak, Assalamualaikum" Defa datang dan menyapa mereka semua, langsung bersalaman tanda mereka adalah teman bukan musuh.
"hai Def gimana kabarnya, selamat ya katanya kamu lolos mewakili pertandingan antar kota ya?" Pelatih menyapa balik, dia bangga ada anak didiknya yang berprestasi di bidang lain, memang Defa merupakan salah satu orang yang berkembang dalam bidang apapun, dia selalu ol out dalam hal yang disukainya ataupun tidak, maka tidak heran dia selalu mendapatkan prestasi di akademik maupun non akademik.
"Alhamdulilah saya baik, gimana dengan kakak-kakak semua, untuk pertandingan alhamdulilah lolos, tapi kan bukan Defa sendiri,kami disana tim jadi jangan berlebihan" Defa selalu merendah di hadapan teman-temanya, makanya banyak juga yang iri padanya tapi hanya bisa dalam hati.
"yaudah segera siap-siap gih, kita latihan bentar lagi" kata pelatih yang bernama Lutfi tersebut.
Defa yang baru datang pun segera keruang ganti, dan menyimpan barangnya khusus di loker cewek. Sekolah disana memang salah satu sekolah paforit bagi siswa-siswa yang punya ekonomi menengah ke atas, fasilitas nya komplit dan bersih, sehingga banyak anak-anak yang berprestasi disana.
Hari sabtu begitu ramai di sekolah, karena aktifitas para siswa yang ikut ektrakulikuler terkesan lebih santai daripada belajar di kelas, mereka bisa sambil beli makanan atau saling bercanda ria dengan kelompoknya.
Defa sudah berkumpul dengan teman-temanya, mereka pun melakukan pemanasan, Defa sangat lihai dalam menakis serangan dan membaca serangan yang akan datang, banyak senior yang memujinya, walaupun badanya aduhai, kulit bak putri dan terkesan diam, jangan remehkan kekuatannya saat dia sedang bertarung, dia bisa manjadi kucing cantik jug mendadak jadi ratu singa.
Semua bertepuk tangan dibuatnya, Defa selalu berusaha sebaik mungkin setiap latihanya.
"tehnikmu makin berkembang aja Def, hebat kamu" Tika memuji Defa.
"ah biasa aja, kamu juga lebih hebat" jawab Defa, dia tak ingin terlalu di puji.
"nyari cemilan yuk, sambil kita istirahat" Aliya datang mengajaknya mencari jajanan di sekitar sekolahnya, dia senang ngemil karena bosan katanya kalo menunggu yang lain latihan.
__ADS_1
Defa, Alia dan Tika pun menuju ke tempat jajanan yang ada di sekitar sekolah mereka, di sana berbaris rapih macam-macam cemilan yang bisa mereka pilih.
"gue beli es buah ah, seger kayaknya" Tika mulai mendapat minuman keinginannya, mereka pun memilih jajanan yang lainya. Defa dan aliya lebih suka jajanan cimol dan cilok, mereka memang penyuka pedas, mereka pun mengantri, tak jauh dari sana Marsel, Fino dan Tian sedang nongkrong disana. Mereka ikut eskul musik kalo dilihat dari tampilanya yang terkesan lebih santai.
"Fin lo lihat sana, di tukang cimol" Tian mengkode Fino yang duduk di sebelahnya, dia sedang makan batagor kuah kesukaanya.
"emang apaan?" Fino makan sambil mencoba mencari tukang cimol, tapi dia belum ngerti maksud Tian.
"euh elo mah, tuh ada Defa tuh" Tian menunjuk Defa yang sedang antri.
Fino dan Marsel berbarengan melihat orang yang ditunjuk Tian, benar saja Defa ada disana sedang mengambil cimol pesanannya.
"Gue baru tau kalo Defa juga suka latihan kalo hari sabtu, gue kira dia tuh cuma buku aja yang dilihat, wah gue kagum nih ma cewek kayak gitu, tau gini dari dulu ya kita kenalan" Fino malah memuji Defa di depan Marsel. Tian menyikut Fino karena memuji Defa, sedangkan Marsel diam saja, dia senang sekali melihat Defa, ingin menyapanya, tapi khawatir Defa masih marah padanya dan makin jauh nantinya.
"iya Sel, masa cowok populer cuma sampe segitu kemampuannya, lo pepet aja terus, sampe dia mau maafin lo" Tian malah menjadi kompor buat Marsel.
"gue gak yakin" Marsel malah galau, dia benar-benar kangen dengan Defa, saat kesalnya, saat marahnya, Marsel selalu tak bisa melupakannya.
"ah elo, apa gue aja yang maju, ntar Defa malah milih gue lagi" Fino memanas-manasi Marsel, karena banyak juga yang ngefans pada Fino, karena dia tak kalah ganteng dari Marsel.
"awas lo kalo deketin dia" kata Marsel sambil mencengkram kerah baju fino sebentar.
"yaudah ayo cepetan, keburu pergi lagi dia, tuh dia udah dapat cimol nya. Fino menunjukan Defa yang akan segera pergi dari tukang cimol.
Fino awalnya ragu, tapi dia tak rela juga kalo malah Fino yang deketin Defa. Dia oun segera mengejar Defa.
__ADS_1
" Defa.." Marsel memanggilnya.
"Defa, kayaknya ada yang manggil lo" mereka pun berbalik dan melihat siapa yang memanggil Defa. Tika pun merasa takjub melihat Marsel datang menemui mereka, sedangkan Defa diam saja dan malah akan puter balik lagi meninggalkan mereka.
"Defa boleh gue ngobrol bentar ma lo" Defa diam saja, dia masih teringat malunya saat di mall, melihat Marsel memegang perlengkapan wanita, dia geli sendiri.
"Def gue mohon, bentar aja" Marsel memohon dan mengkode kepada teman-teman Defa, Aliya dan Tika pun langsung faham.
"selesaikan dulu masalahnya ya, gue sama Tika duluan" Tika dan Aliya pun segera meninggalkan mereka berdua.
"Defa gue mohon maaf ya atas kelancangan gue, waktu itu gue cuma becanda ko" Marsel mencoba menurunkan egonya, dia akan berusaha sebisa mungkin mencari kepercayaan Defa. Defa hanya diam saja.
"Def, plis ya" Marsel mencoba merubah mimik mukanya menjadi wajah penuh penyesalan. Defa melihatnya dan menelisik kejujuran dari wajahnya.
"yaudah" kata Defa akhirnya bersuara.
"maafin ya" Marsel mencoba mengulanginya untuk memastikan pendengaranya, hatinya sudah bermekaran mendengar suara Defa.
"heum.." kata Defa sambil pergi meninggalkan Marsel. Marsel yang kelewat senang langsung tersenyum cerah, diam..muka bersinar penuh cahaya.
"woy sadar woy, orangnya dah pergi juga, masih aja senyum-senyum" Fino menepuk pundak Marsel, Marsel pun terkejut, dia langsung sadar dan mengubah ekspresinya jadi biasa lagi, padahal hatinya penuh dengan bunga.
"duh banyak kupu-kupu nih dekat kita" kata Tian
"iya nih, gue semprot aja kali ya" Fino menambahkan. Marsel cuek aja, dia kembali duduk di tempat mereka.
__ADS_1