
Defano segera melangkahkan kakinya, kalo tak ada nenek rasanya Defano ingin berjalan cepat, menghampiri Difia dan mendampingi Difia, tapi kenyataan tak begitu, ada nenek yang harus dia fahami dan hargai.
Nenek tak bisa jalan secepat Defano, nenek perlu perlindungan karena banyaknya kendaran dan orang-orang berlalu lalang, Defano tak mau nenek kenapa-napa.
Defano berjalan mengimbangi nenek, perlahan tapi pasti sampe juga ke warung Difia , Difia yang sedang sibuk melayani pembeli pun menyempatkan diri menyapa nenek.
"Assalamualaikum nenek, apa kabar? maaf ya nek Difia belum sempat main."
"iya gak apa-apa." sahut nenek sambil menganggukan kepalanya.
" silahkan nenek duduk aja, ini kebetulan kursinya ada yang kosong" kata Difia sambil menyiapkan kursi untuk nenek.
"pak Defano silahkan" Difia berusaha santai walau dalam hatinya dad dig dug juga melihat Defano.
"Defano hanya mengangguk."
"pecel lelenya mau berapa pak, makan disini atau dibungkus?"
" makan disini aja."
"ditunggu ya." Difia berusaha ramah dan melayani dengan baik.
Dengan segera Difia menyiapkan pesanannya, menggoreng lele, menyiapkan nasi, sambal dan lalapan.
"pecel lele spesial buatan Difia udah siap" Difia pun menghidangkanya di depan nenek dan Defano
" heum...wangi kan nek?"
"he...iya." nenek tertawa melihat tingkah laku Difia
"menggemaskan " gumam Defano dalam hati.
"selamat makan nenek." kata Difia sambil tersenyum dan mengepalkan tanganya ke udara, seolah-olah memberikan semangat seperti pada lomba.
"nenek tertawa lagi." Defano pun tersenyum melihat tingkah laku Difia.
Defano membayangkan, seandainya Difia jadi miliknya, hidupnya akan lebih berwarna, Defano harus bersabar tentang itu, dia harus mendekati Difia secara perlahan. Difia punya cita-cita tinggi, sangat susah bagi tipe orang seperti itu menerima seseorang, karena cita-citanya lebih utama.
Nenek makan dengan tenang, dan selalu tersenyum karena mendengar ocehan Difia, Defano pun ikut bahagia, dia yakin Difia adalah sosok gadis yang dia cari, penuh kasih dan mau menerima nenek nya.
Acara makan pun telah selesai, Defano bersiap-siap pulang, tapi nenek diam saja tidak mau beranjak dari kursinya.
"Nek yuk kita pulang."
nenek menggelengkan kepalanya.
"besok kesini lagi ya." Difia membantu Defano mengajak pulang nenek. Nenek diam saja, tak merespon ucapan Difia.
Defano menarik nafas dalam-dalam, perlu kesabaran ektra untuk merawat nenek.
Nenek memang masih mandiri tapi nenek juga perlu perhatian lebih sedangkan Defano sangat sibuk dengan pekerjaanya, setelah bertemu Difia, nenek seakan mendapatkan semangat baru dalam dirinya.
"Nek, kita pulang yuk..nanti kita jalan-jalan lagi, sekarang udah mau malam juga." Nenek tak menggubris ucapan Defano.
"neng Difia, aa Arfan datang."
Difia geleng-geleng kepala, heran dengan Arfan yang tak tau malu, sedangkan ibu warung hanya senyum saja melihat para pemuda yang datang silih berganti mencari perhatian Difia.
__ADS_1
Difia seakan menjadi magnet para pembeli, karena setelah keberadaan Difia, warung pecel lele semakin ramai, para pembeli kadang suka berlama-lama makan supaya bisa ngobrol dengan Difia, adapun Difia orangnya tak neko-neko, dia bisa bercanda dan tak terlalu mengambil hati, dengan begitu pelanggan semakin bertambah ke warung pecel lele.
"Neng Difia aa Arfan kasih yang spesial ya pecel lele nya"
"spesial mah pake telor aja tuh" sahut Difia
"bukan spesial itu, tapi pake cinta neng Difia" sahut Arfan lo.
"huuuuuh.."kata pembeli yang lain
" ist jangan syirik" kata Arfan
" jadi mau gak nih pecel lele nya." Difia balik nanya
"jadi dong, kan kalo neng Difia yang bikin mah jadi spesial buat aa."
"wlek..." kata para pembeli.
" udah lo kalo mau makan ya makan aja, liat tuh kasian yang antri." kata para pembeli.
"he...iya..iya." Arfan cengengesan.
Defano belum juga berangkat, dia seolah tak ingin pulang, berbanding dengan tadi kata-katanya pada nenek, yang mengajak segera pulang. Saat ini justru dirinya takut, melihat banyak nya pemuda yang menyukai Difia, Defano takut kesempatannya mendapatkan Difia semakin kecil.
Defano gereget melihat bagaimana Arfan mendekati secara terang-terangan kepada Difia, Defano dapat merasakan kalo Arfan memang benar-benar menyukai Difia, dia takut Difia menyukainya Arfan juga.
"Defano, pulang."
"ya nek, kita pulang."
tapi Kenyataanya Defano malah tak bisa berkedip melihat para lelaki yang yang menyukai Difia.
Defano pada akhirnya memutuskan untuk segera pulang.
Sesampainya di rumah, Defano mengantarkan nenek ke kamarnya agar nenek segera istirahat, dan Defano sendiri segera menyelesaikan pekerjaanya.
Jam pun berlalu, pekerjaan Defano telah selesai, Defano kembali teringat dengan Difia, Defano ingin tidur, tapi bayangan Difia bersama orang-orang itu semakin jelas.
Defano berusaha memejamkan matanya tapi bukanya tidur malah pusing dibuatnya, akhirnya Defano memutuskan keluar rumah, Defano membawa mobil tanpa tujuan, tapi hal yang membuatnya terkejut, dirinya kembali ke warung pecel lele Difia lagi.
"kenapa balik lagi kesini sih." Defano menggerutu
Defano melihat Difia sedang beres-beres, dia langsung membantu Difia, Difia pun menoleh.
"ada apa pak ko kesini lagi?"
"Defano hanya diam, dia bergerak membereskan barang yang beratnya, difia merasa terbantu dia langsung membersihkan sisanya."
"makasih pak, udah bantu."
"sama-sama Difia.
"bapak sebenarnya mau kemana?"
"saya hanya bosan di rumah"jawab Defano
" bukanya bapak banyak pekerjaan ya pak?"
__ADS_1
"pekerjaan saya telah selesai Difia."
"owh.." Difia bingung mau ngobrol apa lagi.
"Difia sekarang kamu mau kemana lagi?"
"pulang lah pak, masa tidur disini."
"Defano tersenyum."
"kamu mau gak temenin saya sebentar"
"kemana pak?"
"jalan-jalan aja, nanti saya antar pulang."
"tapi pak?"
"saya mohon Difia, anggap aja ini permintaan seorang teman, saya gak akan ngapa-ngapain kamu, kalo gak percaya kita jalan-jalannya ke tempat ramai, gimana?" Defano berusaha meyakinkan Difia, Defano ingin Difia terbiasa dengan dirinya.
"gimana ya?" Difia bingung.
ibu warung yang melihat kesungguhan Defano akhirnya kasian melihat Defano yang seperti kesusahan dengan Difia, ibu warung pun memanggil Difia.
"Difia.."
"iya bu."
"pak bentar ya saya ke ibu dulu."
"he'em."
"Difia ibu lihat Defano bersungguh-sungguh, cobalah beri dia kesempatan atau paling tidak berteman dulu."Difia melamun.
" udah sana, kasian nungguin, mana ganteng lagi, ntar digondol orang baru tau rasa." ibu membuyarkan suasana.
"biarin ah bu."
"hus pamali, jangan bilang gitu, ntar nyesel lo, udah sana." ibu warung pun segera menyuruh Difia untuk menemui Defano.
"maaf ya nak tadi ibu pinjam sebentar."
"ih si ibu, pinjam-pinjam apa, emang Difia barang?"
"iya barang cantik." kata ibu.
Defano pun memegang tangan Difia untuk masuk ke mobilnya, tapi Difia segera mengibaskan tanganya
"bapak naik mobil aja ngajak gandengan, kayak truk aja."
"masa saya harus kalah sama truk Difia, truk aja kata kamu gandengan masa saya nggak."
Difia bersemu merah pipinya mendengar gombalan Defano.
"ih bapak mah gitu, gak lucu" sahut Difia sambil menggembungkan pipinya.
"saya gak ngelucu Difia."
__ADS_1
"ih yaudah..yaudah males" kata Difia.
Defano gemes sendiri melihat tingkah laku Difia.