
Hari berganti waktu berlalu, menit demi menit dan detik pun selalu mengikuti arah jarum jam yang selalu sama tiap waktunya. Defa dan Difia sepasang ibu dan anak yang sangat mencintai papanya ini selalu setia menemani papanya di rumah sakit, entah dengan apa dan bagaimana hingga Defano masih belum sadarkan diri hingga kini. Defa kadang merasa putus asa dengan keadaan papanya, dia juga merasa kasihan dengan mamanya yang tak pernah lelah menemani papanya.
Defa tiap hari selalu menyempatkan waktu bersama mamanya bahkan sekarang dia juga belajar di ruangan papanya, Defa tak ingin kehilangan papanya dia selalu berdo’a semoga papa nya cepat sembuh seperti sedia kala. Difia adalah seorang istri yang cerdas dari dulu hingga saat suaminya sakit dia bisa menghasilkan biaya tambahan untuk keluarga kecil mereka, walaupun tak sebesar hasil dari suaminya tapi dia mampu melewati semuanya.
Difia bekerja paruh waktu menjadi penerjemah online, dia bisa beberapa bahasa yang bisa dia terjemahkan kepada bahasa Indonesia. Begitupun dengan Defa walaupun dia tak pernah kekurangan tapi dia juga ternyata bisa menghasilan uangnya sendiri, Defa sangat aktif dalam bidang-bidang olahraga, dia juga pintar dalam ilmu matematika, sehingga dia menjadi tutor on line untuk para murid online nya.
“ma papa masih lama gitu ya tidurnya, Defa kangen”
“do’akan saja sayang, mama juga sama kangen dengan papamu itu”
“mama jangan menyerah ya”
“iya sayang, mama masih kuat ko”
“semoga papa masih sayang sama kita dan kembali pada kita lagi”
“amiiin”
Begitulah mereka selalu saling menguatkan satu sama lain, mereka berusaha supaya papa yang mereka sayangi cepat sembuh.
Hari itu Difia sangat sibuk sekali,dia ingin memeriksa hasil rontgen lagi, apakah ada harapan untuk papanya kembali seperti semula, dia rasanya sudah ingin menyerah tapi dia tak ingin kehilangan papanya juga.
Pulang sekolah Defa langsung ke rumah sakit, dia tak bersama Marsel saat ini karena Marsel juga sangat sibuk dengan perusahaanya. Defa penasaran sekali kenapa papanya masih terlelap padahal banyak juga yang dalam posisi kecelakan yang sama bahkan lebih parah suka ada yang cepat pulih kesehatannya.
Defa sampai ke kamar inap papanya, dia melihat mamanya juga sedang memainkan laptop kesayangannya.
“assalamualaikumma..” Defa datang mengucapkan salam sambil mencium tangan mamanya, Difia
berhasil mendidik anaknya dengan sopan.
“waalaikumsalam sayang, udah pulang aja”
“iya ma udah, mama lagi sibuk ya?”
“gak ko, gimana sayang, duduk dulu yak an cape baru pulang”
“iya ma, bentar nyapa papa dulu” Difia menganggukan kepalanya, Defa memang tiap datang selalu begitu perlakuannya pada papanya meskipun papanya sakit.
“Assalamualaikum pa, Defa udah pulang sekolah ma nemenin papa lagi, papa sehatkan, cepet bangun ya pa biar kita cepet pulang ke rumah” kata Defa pada papanya, Defano masih terdiam dalam lelap tidur panjangnya.
“Defa ke mama lagi ya, papa cepet bangun” Defa pun berbalik ke papanya, teanpa dia duga saat Defa berbalik dan melepas tangan Defano, jarinya Defano bergerak pelan, mereka tak mengetahuinya.
“Ma.. Defa pengen cek papa lagi”
__ADS_1
“kenapa gitu sayang?”
“Defa penasaran aja ma, kemarin ada yang kecelakaan bahkan badannya ada yang patah dan lecet-lecet tapi udah sadar, papa ko udah lama tapi masih belum juga”
“sabar sayang, kan beda-beda cobaan tiap orang itu, mungkin kita disuruh bersabar dan
papa lebih banyak istirahat”
“tapi ma Defa pengen tau, Defa penasaran”
“sayang kan udah sering kita cek, sabar ya”
“tapi ma…hik..hik..” Defa menangis tak kuasa menahan kesedihannya, dia sudah mulai goyah keyakinannya,papanya masih belum siuman, padahal sudah didatangkan dokter terbaik dibantu Marsel, tapi masih saja harus menunggu.
“mama gak didik kamu buat jadi orang tak sabaran sayang, kamu harus kuat ya nak”
“tapi ma sampai kapan, apa kita pindahin aja papa ya ma, kita bawa ke tempat lain aja, disini papa gak ada perkembangan”
“mama yakin belum waktunya aja sayang, insya Allah nanati juga ada waktunya kita akan
bahagia kembali”
“kita bawa aja papa ke rumah ma, biar dirawat dirumah aja”
berjaga seperti kita disini”
“terus kita gimana ma, kasihan mama juga kan, cape tinggal disini terus”
“mama gak papa sayang, mama ikhlas, kamu juga harus ikhlas ya, kasihan papa kalo kita tinggalin”
“maafin Defa ma”
“iya sayang, sabar ya” anak dan ibu itu menangis sesegukan, mereka tak kuasa menahan kerinduan pada kepala keluarga yang sangat mereka sayangi itu. Difia juga bukan tak merasakan kerinduan itu atau tak ingin meluapkan emosi pada keadaan mereka, tapi Difia berusaha agar keluarga mereka selalu utuh dan rukun sampai saatnya tiba.
Defa dan Difia masih berpelukan, Difia mengelus rambut anak cantiknya, walaupun sekarang mereka tak perawatan se intens dulu, tapi mereka tetap cantik dan tak berubah. Saat Defa dan Difia menangis bersama kembali jari-jari Defano bergerak, mereka tak menyadari itu, tapi tak lama air mata Defano mengalir dari kedua sudut matanya saat mendengar keluarganya sedang menangisinya.
Defano ternyata sudah mulai sadar dia terbangun dengan suara tangis yang menyedihkan anaknya itu, diapun mulai mengerjapakan matanya, pandangannya agak silau karena sudah lama tak melihat dunia.
Difia masih mengelus anaknya itu sampai tenang, hingga tangin Defa tak terdengar lagi.
“mas cepet sembuh ya kasihan anak kita merindukan kamu” gumamnya dalam hati sambil melirik Defano dengan deraian air matanya, hingga dia merasa bahwa pipi Defano basah, dah dia kaget sekali melihat itu.
“nak udah ya, coba liat sepertinya pipi papamu basah” kata Difia pada anaknya, seketika Defa pun langsung menoleh dan menghampiri papanya itu, dia melihat ada bekas air mata di kedua belah mata papanya, dan mata papanya mengerjap walaupun pelan, Defa pun mulai melihat ke dua tangan papanya, dan alangkah bahagia saat
__ADS_1
melihat tangan papanya juga bergerak sedikit-sedikit.
“ma..papa sadar..papa sadar..”teriaknya pada mama nya itu.
“yang benar nak?” Difia seolah tak percaya, dia sampai menutup mulutnya dengaan tangan
saking bahagianya.
“Defa mau panggil dokter dulu ma”
“iya nak, cepat panggil biar kita tau kondisi papa” Defa pun bergerak cepat memencet bel
yang ada dekat ranjang papanya, setelah itu dia memeluk papanya erat.
“pa maksih ya, Defa kangen papa” sambil menangis terharu Defa mengungkapkan rasa bahagianya.
Tak lama dokterpun datang dan memeriksa keadaan Defano, matanya di sorot lampu, tangannya mulai diusap dan dicek.
“pa…pak Defano sudah sadar, bapak coba buka mata bapak perlahan” dokter memulai arahan
pada Defano. Mata Defano mengerjap-ngerjap seperti sulit untuk dibuka
“ayo pa berusaha, kami menunggu bapak disini” dokter terus menyemangatinya. Defano pun
berusaha membuka matanya perlahan, hingga berangsur-angsur diapun bisa membuka mata sepenuhnya.
“papa bangun ma” kata Defa sambil memeluk mamanya
“iya sayang papa bangun” Defa juga membals pelukan Defa, mereka bahagia sekali, dokterpun
masih mengecek Defano hingga suara Defano keluar terbata-bata.
“De…fa….ma..ma..”Defa dan Difia langsung mendekatinya, Defano yang melihatnya pun tersenyum dengan
uraian air matanya di kedua pipinya.
“gimana dok papa” kata Defa pada dokter, dia sangat penasaran dengan kondisi papanya itu.
“Alhamdulillah pak Defano sudah sadar, kami akan terus memantaunya hingga beliau sadar
sepenuhnya”
“makasih dok”
__ADS_1
‘iya sama-sama, itu memang sudah tugas kami” jawab dokter tersebut.