Cinta Difia

Cinta Difia
DILEMA UJIAN


__ADS_3

Setelah acara selamatan untuk kesembuhan Defano, hubungan Defa dan Marsel semakin dekat, Marsel sering mengantar Defa pulang kerumahnya setelah pulang sekolah, Difia selalu menyambutnya dengan ramah, Marsel juga sering sarapan di rumah Defa karena Marsel selalu mengajak bareung untuk berangkat sekolah.


Defano tak melarangnya tapi dia juga masih membatasi karena Defano ingin Defa punya ilmu dulu dan sekolah yang bener, Marsel juga tak mempermasalahkan itu karena dia juga dalam posisi yang sama.


Hari-hari mereka lewati dengan bahagia, mereka semakin terlihat seperti sepasang kekasih, Defa juga tak terlalu acuh pada Marsel setelah lama mereka bersama. Walaupun begitu masih saja ada yang suka mengganggu hubungan mereka, entah karena Defa yang memang banyak fans nya bahkan pengagum rahasia, Marsel juga begitu, banyak para siswi yang berusaha untuk mendapatakan hatinya, tapi MArsel bukanlah tipe orang mudah jatuh cinta, dia hanya melewatkan begitu saja semua perhatian dari para gadis yang menyukainya itu.


Marsel sudah kelah 12, sebentar lagi akan ada ujian untuk kelulusannya, meskipun dia pintar sekolah tetap mewajibkan dia untuk les yang diadakan oleh sekolah menjelang acara ujian tiba.


“sel udah dapat jadwal belum?” Fino bertanya pada Marsel, karena dia sudah mendapatkan kertas untuk jadwal lesnya.


“jadwal apaan, gue sibuk” jawab Marsel dengan santainya, dia memang tak tau menau dengan semua itu, biasanya dia mendapat info ya dari Fino.


“jadwal les lah, kan kita bentar lagi lulus sekolah”  kata Fino dengan penuh semangatnya.


“gak tau gue, perusahaan juga kayaknya harus menyesuaikan jadwalnya lagi”


“iyalah kalo lo mau lulus”


“gue pasti lulus”


“iya gue tau”


“ngomong-ngomong lo mau kuliah dimana?”


“maksudnya?”


“ya kan pasti lo harus kuliah demi menunjang karir lo, lo mau kuliah disini apa diluar sana?” Sahut Fino lagi, mendengar kata-kata Fino membuat Marsel tediam, dia belum sempat memikirkan itu, dia hanya sedang menikmati kebersamaan dengan Defa, rasanya baru kemarin dia bisa dekat sekarang dia sudah dituntut untuk menentukan masa depan lagi, padahal saat ini dia sedang bahagia dengan keadaanya.


“gue belum kefikiran tentang itu”


“lah ko bisa, ortu lo emang gak nanya?”


“pernah sih, Cuma gue bilang nanti dulu karena masih lama”


“yaudah lo fikirkan karena ini berpengaruh sama lo dan juga Defa”


“gue titip Defa ya kalo seandainya gue gak bisa kuliah disini”


“yakin lo?” gue gak mau sih pisah, tapi mau gimana lagi, pasti ortu sudah nyiapin semuanya buat gue”


“lo emang gak bisa milih apa?”


“bisa tapi berdasarkan rekomendasi ortu gue juga”


“terserah lo aja, atau kalo Defa sama gue dulu aja gimana?” kata Fino sambil menaik turunkan alisnya pada Marsel.

__ADS_1


“jangan harap lo bisa hidup kalo lo niatnya kayak gitu”


“hus..kejam amat” Fino agak mmerinding juga dibuatnya, karena Marsel bukan orang yang suka maen-maen juga, dia kalo memang sudah sayang pasti akan dia bela mati-matian.


“kayaknya udah jam istirahat ini, gue mau ke Defa dulu”


“huh si bucin ada waktu Defa mulu gue ditinggalin” Marsel tak mengindahkan perkataan Fina, dia ingin segera bertemu Defa sang pujaan hati yang selalu ada di hatinya.


Marsel memang hari itu tak belajar dikelas, guru-guru sedang mempersiapkan untun ujian nanti, sehingga para siswa disuruh untuk mandiri dikelas, tapi dasar anak-anak mereka malah merasa bebas karena taka da guru yang


mejaga mereka.


Defa pun terlihat muncul keluar kelas, dia seperti biasa membawa bekal yang akan dia bawa ke taman, Defa juga membawa buku yang sedang jadi paforitnya.


“hai pacar?” Marsel tersenyum manis menyambut Defa di taman. Dia memang sudah tau Defa akan kesana, karena disana juga tempat paforit mereka.


“heum..udah disini aja” jawab Defa kalem


“udah dong, entar kalo gak disini pacarku ada yang ngambil lagi” jawab Marsel sambil tersenyum menggoda Defa.


“udah makan?”


“belum nih, makanya laper dan nungguin pacar”


“kenapa gak ke kantin kalo lapar”


“candu apa ngirit” Defa balik menggoda Marsel”


“gak ada sejarah Marsel ngirit ya, kalo perlu satu mol aku borong semua buat kamu”


“iya..iya yang udah jadi bos”


“tuh tau”


“sombongnya”


“biarin, emang kenyataan ko” Defa hanya geleng-geleng kepala dengan sikap Marsel yang memang agak sedikit sombong itu, tapi apa mau dikata memang kenyataanya Marsel anak orang kaya.


Defa membuka toples tempat bekal makan yang udah Defa isi dari rumah, isinya lengkap sekali bahkan air minum pun sudah dia siapkan, Marsel yang melihat isinya sangat antusias sekali, dia selalu nambah selera kalo


meliahat isis makanan yang Defa bawa.


“dimakan ya” kata Defa dengan lembut sambil menaruh makanannya di depan Marsel.


“iya pacar, makanan kamu itu memang paling nikmat”

__ADS_1


“gombal, ngerayu terus, hayo makan karena gue mau baca buku lagi.


“kamu tuh hobi banget sih baca”


“biarin ah” dengan lahap, mereka segera menyelesaikan makanan mereka, karena Defa masih ingin membaca buku. Sedangkan Marsel sedang enak makanan dari mama Defa sehingga dia selalu selesai makan juga.


“lapar ya?” kata Defa disela mereka makan.


“iya” jawab Marsel sambil tak menoleh sedikitpun pada Defa, dia sangat menikmati makanannya, apalagi keresahan hatinya menambah nafsu makanya bertambah. Dia jadi kefikiran dengan perkataan Fino tentang kuliah,


sungguh berat baginya untuk jauh dengan Defa.


“kenapa?” Defa melihat ekpresi Marsel ynag sepertinya sedang memikirkan sesuatu, dia heran Marsel seperti agak diam pagi itu, padahal dia orangnya aktif dan sering menggodanya.


“kayaknya lagi mikirin sesuatu” kata Defa dengan jujur bertanya pada Marsel, dia tak mau banyak berbasa-basi kareawa waktu yang tak banyak juga untuk mereka bertemu.


“bentar lagi aku kan mau ujian”


“terus” Defa penasaran jug akhirnya


“setelah ujian kita pasti lulus kan”


“iya, terus gimana”


“ya aku pastu harus kuliah dong pacar”


“ya iya, memangnya gak mau kuliah gitu?” Defa makin tertarik


dengan arah pembicaraaan Marsel yang terliahat serius itu.


“otomatis kita akan berpisah, an kita semakin jarang ketemu”


“emang mau kuliah dimana gitu?”


“gak tau juga sih, cuman kayaknya selain kita butuh ilmu kita juga btuh background pendidikan yang bagus, aku bingun harus jauh dari kamu”


“heum…gitu ya..” Defa langsung menerawang dan diam mendengar


penuturan Marsel.


“kayaknya mau gak mau kita harus pisah sebentar, nanti kita bakal ketemu lagi dan kita akan menikah” Marsel mengungkapkan isi hatinya yang sedang galau, dia smembutuhkan sedikit energy untuk bisa berkata seperti itu,


baru bisa mengenal Defa lebih dekat setelah perjuangan yang panjang, sekarang setelah mereka terasa dekat mereka harus berpisah lagi.


“kata pepatah kalo jodoh gakkan kemana, jadi kita jalani aja prosesnya, jangan terlalu difikirkan, mana tau nanti lo dapet jodoh di tempat lain” Defa berusaha menyemangati Marsel dengan sedikit gurauan yang membuat

__ADS_1


Marsel agak marah, Marsel sedang mengkhawatirkan hubungan mereka tapi Defa malah bebicara dengan jodoh lain. Marsel sangat kecewa, dia sedih mendengar ucapan Defa, dia langsung diam dan segera meninggalkan Defa tanpa sepatah katapun. Defa heran dengan sikap Marsel itu, tapi dia tak mau ambil pusing,


setelah waktu istirahat selesai dia segera kembali ke kelas lagi.


__ADS_2