Cinta Difia

Cinta Difia
Ketemu Camer


__ADS_3

Marsel pulang sekolah masih harus melanjutkan kerja di perusahaan keluarganya, dia dituntut untuk segera bisa mewakili orangtuanya di Indonesia. Makanya Marsel dididik dengan keras, kepintaranya mampu dengan çepat menguasai semua sistem diperusahaan.


Marsel bukan tak ingin main, Fino dan Tian sudah mengetahuinya, sedangkan teman yang main hanya tau sebatas Marsel orang kaya, pintar dan agak sombong.


Marsel langsung menuju tempat yang sudah disediakan untuknya, dia di dandani langsung dengan baju formal ala pembisnis.


Auranya pun keluar tanpa bisa di tahan, dia begitu, tampan dan mempesona, tak salah jika karyawati di kantornya suka ciri-ciri pandang padanya.


"Hari ini kita harus apa aja?" Marsel bertanya pada asistenya Leon, Leon sudah berumur 40 tahun, dia yang selama ini ditugaskan untuk memimpin perusahaan dan mendisik Marsel di Indonesia.


"ada beberapa proyek yang harus ditanda tangani, dan nanti sore juga ada pertemuan dengan klien kita" Leon menerangkan.


"siapkan semuanya dengan baik" ya pak sudah tinggal berangkat nanti.


"mana dokumen yang belum saya pelajari?"


"ini pak, semuanya tinggal mengecek dan bubuhan tanda tangan.

__ADS_1


" ya" Marsel tak bisa berbuat banyak, tanggung jawab yang diberikan kepadanya membuat dia tak seperti anak lain seusianya, makanya dia terkesan arogan karena dituntut untuk selalu sempurna.


Satu persatu dia tanda tangani, beberapa yang menurutnya kurang bagus dia pisahkan, dia juga sangat teliti dalam melaksanakan pekerjaanya.


Jam pun berlalu, waktunya bertemu dengan klien yang sudah menunggunya, menurut informasi yang dia dengar klienya ini cukup hebat dalam berbisnis tapi juga seorang ayah yang baik untuk anaknya.


Marsel masuk ke ruangan meeting, dia berjalan dengan gagahnya, dia hanya mengikuti arahan Leon, tanpa tau seperti apa orangnya yang menjadi perwakilan PT yang datang.


Marsel pun masuk, di dalam sudah ada seseorang yang menunggu nya, dia tak bisa melihat mukanya karena membelakangi pintu, tap..tap..bunyi sepatu Marsel mendekatinya, tamu pun segera bangun dan berbalik menyambut Marsel.


Deg...Marsel kaget ternyata orang yang menemuinya adalah Defano, ayah dari Defa, orang yang selalu dia rindukan.


"duh kenapa bisa ketemu camer disini" Defano bergumam dalam hatinya, dia tak menyesal tak membaca CV orang yang akan bertemu denganya.


"waalaikumsalam, ternyata anda adalah pimpinan disini" Defano menyambut tangan Marsel, dia pun kembali duduk di tempat nya.


"gue malah deg-degan kalo gini caranya, semoga gak mengecewakan" Marsel agak gugup, tapi dia berusaha untuk menguasai dirinya sendiri.

__ADS_1


"em..pak boleh panggil saya Marsel aja, biar tidak terlalu kaku" Marsel berusaha supaya meeting kali ini lancar, dia juga tidak mau di cap buruk oleh Defano, apalagi tugasnya disini juga sebagai pimpinan, dia harus bisa menunjukan kemampuanya.


Acara pun dimulai mereka membicarakan semuanya dengan serius, keuntungan-keuntungan yang akan dimiliki oleh kedua belah pihak dan berbagai aspek pendukung lainya.


Marsel begitu lancar dalam pembicaraanya, Defano sunggujmh memujinya, karena tak banyak yang mempunyai skil seperti dia.


"kamu hebat nak, masih muda sudah mau bersusah payah"


"saya hanya berusaha aja" jawab Marsel.


"smoga kerja sama kita berjalan lancar ya"


"iya pak"


"kalo begitu, saya pulang dulu ya nak"


"Silahkan pak, terimakasih untuk pembelajaran hari ini" Marsel berusaha merendah, dia tak ingin Defano kecewa.

__ADS_1


" saya bangga kenal dengan kamu" kata Defano, dia hanya tersenyum dan pergi dari perusahaan Marsel. Marsel begitu gembira bisa bertemu langsung dan berbicara dengan Defano. Semoga ini adalah awal yang baik untuk hubunganya dengan Defa


__ADS_2