Cinta Difia

Cinta Difia
Rasa tak biasa


__ADS_3

Defa dan Marsel sangat menikmati makan mereka, rasanya apa yang mereka makan terasa nikmat sekali. Apalagi dihadapannya ada orang yang dia harapkan jadi seseorang yang akan selalu bersama nya.


"pacar makasih ya untuk hari ini, semoga nanti kita bisa ada waktu lagi buat main berdua tanpa si kodok itu"


"ya sama-sama"


"ko cuma gitu jawab nya?" kata Marsel dengan cemberut.


"aneh masa preman jadi kayak bayi"


"ih kan sama pacar aja kayak gitu nya"


"udah ah jangan kayak gitu, biasa aja"


"ih pacar...kan manja" Marsel semakin berani mengungkapkan perasaanya pada Defa, dia merasa nyaman walaupun Defa acuh tapi dia yakin Defa sebenarnya orang yang sangat penyayang.


"ih udah gede juga" Defa masih dengan sifatnya, dia tak mau sembarangan dalam memilih orang.


"iya deh gak manja lagi" kata Marsel sambil cemberut. Tapi hatinya menghangat karena Defa semakin mau berinteraksi denganya.


Acara makan mereka pun selesai, mereka bersiap untuk pulang dari sana.


"nanti sholat magribnya mau dimana?"


"em..terserah pacar, akumah ikut aja" Marsel seolah malu karena shalatnya masih bolong-bolong.


"takut nya malah kemaleman, coba tanyain aja ya, kali aja ada mushola disini" Defa berinisiatif sendiri, Marsel hanya mengikuti saja.


Defa pun bertanya pada staf restoran, untungnya ternyata disana juga menyediakan mushola yang digabung dengan karyawan, jadinya Defa dan Marsel sholat disana.


Awalnya Marsel agak canggung, dia merasa malu sama Defa, tapi karena Defa sudah lebih dulu maka dia pun sholat ditempat itu.


Marsel bersujud disana, belum pernah merasa tenang seperti hari itu, Defa selalu mengajarkan pada nya hal-hal baru yang membuatnya semakin betah untuk bersamanya.


Defa pun selesai, dia menunggu Marsel yang masih sholat di tempat laki-laki. Defa menunggu di parkiran, dia ingin segera pulang ke rumahnya.


Tak lama Marsel pun muncul, melihat Defa yang sedang menunggunya hatinya merasa senang, ingin sekali tiap waktu ada yang menunggunya seperti itu.


Mereka segera naik mobil dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Defa.


Mereka diam di dalam mobil, walaupun Marsel selalu mencuri-curi pandang tapi Defa acuh saja.


"di depan berhenti ya"


"mau ngapain, kan mau cepet sampai"


"bentar aja"


"ok nona" jawab Marsel ala-ala.


Marsel pun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, Defa segera turun dari mobil.

__ADS_1


"gue jajan dulu ya" kata Defa sambil pergi meninggalkan Marsel, Marsel baru ngeh ternyata di sana memang banyak jajanan, Defa mampir di stan jagung rebus. Marsel segera menyusulnya, dia tak ingin Defa di kerubuti orang-orang lagi seperti tadi.


"kenapa gak bilang mau jajan, kan bisa ditemenin"


"gak apa-apa ko, cuma jajan aja" jawab Defa acuh. Defa pun mendapat jagung nya, tapi bukannya segera pulang, dia malah menyusuri tiap stand jajanan yang dia suka.


Marsel pun segera turun tangan membantu membawakan jajanan yang Defa beli, kadang ada jajanan yang Defa langsung makan di sana.


Marsel sangat senang bisa menempati Defa, kadang dia juga pesan apa yang di beli Defa, akhirnya tangan mereka penuh dengan makanan yang Defa beli.


"wah seneng ya bisa jajan" Marsel menggoda Defa.


"hooh, kan udah tau gue suka jajan"


"hehe iya juga, nanti aku aja deh ketempat yang lebih banyak jajanan nya dan unik-unik" ajak Marsel


"gak usah, ini juga udah senang" Defa malah menolak dengan halus, dan itu membuat Marsel semakin kagum pada Defa.


Setelah puas dengan semua jajanan nya, Defa dan Marsel pun naik mobil kembali.


"nih jajanan ya dibagi dua ya" kata Defa pada Marsel dan memang Defa sudah membaginya pada dua peperbag yang ada di mobilnya.


"lo ko malah dikasih, buat pacar aja gak apa-apa"


"udah jangan nolak"


"duh masa hari ini di traktir terus"


"biasa aja, besok-besok boleh ko balik traktir kalo mau"


Defa mengangguk tanda setuju. Marsel senang bukan kepayang, mudah baginya untuk mengeluarkan uang berapapun, tapi beda dengan Defa yang seperti nya hidupnya sudah sangat cukup, walaupun masih dibawah kekayaan keluarganya, tapi Defa pun tak kekurangan.


Mereka pun sampai di rumah Defa, Marsel tak mau di cap laki-laki tak bertanggung jawab, diapun ikut masuk ke rumah Defa.


"Assalamualaikum ma, Defa pulang" ucap Defa sambil masuk rumah diikuti Marsel.


Difia pun datang menyambut anaknya, dia tersenyum melihat Marsel ternyata masih ada.


"gimana anak tante gak ngerepotin kan nak?" goda Difia.


"gak ko tan, udah baik ko sekarang"


"syukurlah, duduk dulu nak"


"gak ah tan, udah malam, Defa juga harus istirahat, saya pulang dulu"


"yaudah kalo gitu hati-hati ya dijalan"


"iya tan makasih" Marsel pun pergi dari rumah Defa, dia tersenyum bahagia, apalagi dengan sambutan mama nya Difia yang begitu ramah, membuatnya merasa punya keluarga baru.


"duh yang habis jalan-jalan"goda Difia pada Defa.

__ADS_1


" ih mama, kita bertiga ko ma, jangan mikir yang aneh -aneh"


"siapa yang mikirnya aneh, kamu aja tuh kali"


"gak ah mama" Defa tersipu, semburat merah dipipi sangat jelas terlihat oleh Difia.


"ma tadi Defa jajan di pinggir jalan, barangkali mama mau ini Defa bawa banyak"


"boleh deh, nyogok ya"


"ih nggak ma, biasanya juga Defa jajan"


"yaudah sini buka, mama gak sabar, udah lama gak jajan-jajan, papanya sibuk terus, gak bisa deh nemenin mama jajan"


"ehm..ehm..kayaknya ada yang ngobrolin papa ya"


" tuh mama, katanya papa sibuk terus" jawab Defa.


Ternyata Defano sudah pulang, diapun ikut bergabung memakan jajanan yang Defa bawa.


"ini dapet jajanan dari mana?" tanya Defano sambil menikmati martabak krispi di tanganya.


"dari Defa, tadi dia maen keluar"


"sama siapa"


"sama anak ganteng itu pak"


"yang mana?" Defano menghentikan makanya sebentar sambil melirik Difia.


"Marsel pa"


"oh..jangan terlalu dekat dengan laki-laki, kamu masih kecil" Defano menasihati Defa, dia merasa tak ditunggu lagi oleh anaknya, padahal dulu Defa sering merengek minta diantar jajan, sekarang anaknya sudah ada yang nganter sendiri.


Defano agak cemburu, tapi dia tak ingin menampakanya pada Defa dan Difia.


Difia paham, tapi dia santai saja menyikapinya, sambil melanjutkan makan jajanan yang Defa bawa.


Defano merasa serat tenggorokanya, dia batuk-batuk Difia segera memberikannya minum.


"Jangan berlebihan, dia masih temenan ko" ucap Difia.


"papa seret aja" Jawab Defano, padahal hatinya mulai perih, takut ditinggal anaknya.


"papa santai aja, Defa bakal ada terus ko buat papa.


" iya kamu yang rajin belajarnya, jangan dulu cinta-cintaan, kalo jodoh nanti juga gak kemana" ucap Defano.


"iya pak" jawab Defa.


"udah ah malah ngelantur kemana-mana, cepet habiskan, ini enak-enak semua lo" ucap Difia sambil membagi makanan ke piring masing-masing.

__ADS_1


"ini disimpan di kulkas ya, kalo masih mau tinggal ambil"


"iya ma" jawab ayah dan anak itu serempak.


__ADS_2