Cinta Difia

Cinta Difia
Berharap


__ADS_3

Defa dan Mamanya sekarang bisa menemani Defano di ruangan, mereka sangat senang, dengan begitu meraka bisa lebih dekat dengan Defano. Defa mendekati papanya, dia memeluk papanya sambil menangis tersisak.


"papa cepat sembuh ya, Defa kangen sama papa, kangen bercanda sama papa, kangen jalan-jalan sama papa lagi, pokoknya kangen semuanya" kata Defa dalam pelukan papanya.


"iya pak kami merindukanmu" Difia juga memegang lengan Defano" mereka berdua larut dalam kesedihan karena Defano masih belum sadar juga.


Setelah beberapa lama mereka menangis sambil memeluk Defano perlahan mereka melepaskannya. Defa mecium tangan Defano, Difia hanya melihatnya sama sambil sesekali mengusap-ngusap rambut Defano,


"Ya Allah sembuhkan suami hamba kemblai seperti biasanya" do'anya dalam hati. Waktu berlalu, menit pun berganti, seelah beberapa lama ada dalam kesahduan, Difia melihat anaknya masih berseragam, dia merasa kasihan pada anaknya karena harur menemaninya dia rumah sakit.


"Nak udah mau magrib pulang dulu ya, gak baik anak gadis masih disisni"


"Tapi Defa mau disini ma"


"pulang aja ya sayang, besok kalo mau kesini mah kesini aja tapi sekarang pulang dulu ya, biar mandi dirumah kasian nenek juga sendirian"


" yaudah ma kalo gitu, Defa pulang ya" Difia hanya mengamggukan kepalanya tanda dia setuju pada anaknya.


Ditempat lain ada yang sedang galau, dia uring-uringan terus karena belum sempat bertemu Defa lagi, jadwal yang padat karena kerjanya hanya setelah pulang sekolah membuatnya hampir keteteran, bahkan waktu main untuknya pun hampir tidak ada, dia sudah kesal dengan semua pekerjaanya, apalagi dia belum bisa bertemu Defa lagi.


Marsel melirik hapenya, dia berharap ada notif dari Defa, tapi sudah beberapa lama masih belum ada sama sekali, membuatnya sedikit prustasi.


Marsel mencoba menghubungi Defa, tapi tak diangkat


"duh kemana ni anak, ko belum ada kabar ya" gumamnya dalam hati, Marsel pun kerja tak maksimal karena dia memikirkan Defa.


Marsel melihat semua pekerjaanya ternyata masih sangat banyak, dia menarik nafas panjang, sambil mengurut pelipisnya.kemudian segera mempercepat pekerjaanya.


Defa diperjalanan tertidur sehingga dia tidak tau ada yang menghubunginya. Setelah beberapa menit berlalu diapun sampai dan belum sempat memeriksa hapenya kembali.

__ADS_1


Marsel tsk sabar ingin bertemu Defa, dia melihat pekerjaanya "kayaknya gue gakan bisa fokus kalo begini, mending gue temui Defa aja ah, gak bener ini mah"


Marsel pun menyelinap keluar dari kantor, dia tak ingin sang assisten melihatnya, karena pasti bawel sekali padanya.


Marselpun keluar dari kantor dengan cepat, dia menuju parkiran dan segera mencari mobil yang ingin dia kendarai, setelah itu dia segera pergi meninggalkan kantor.


Defa baru saja masuk ke kamarnya, dia jngin ganti baju dan mandi, tapi terdengar ada seseorang yang memencet bel rumahnya.


"siapa sih yang bertamu jam segini, gue gerah nih" gerutu Defa, tapi dia walaupun begitu dia segera turun setelah mengganti baju dulu dengan baju rumahan karena sudah tak nyaman memakai seragam sekolah.


Defa pun keluar kamar dan menuju pintu rumahnya, karena bel yang dipencet beberapa kali membuanya terdengar berisik.


"tuh orang gak ada kerjaanya ya mainin bell rumah, gue jitak baru tau rasa" Defa menggerutu, sedangkan yang diluar rumah sedang berharap-harap cemas karena Defa tak kunjung membukakan pintu rumahnya.


"lama amat nih orang, udah kangen juga, dia gak kangen apa ya?" Gerutu Marsel


 tap..tap..tap..terdengar orang dari dalam rumah menuju pintu yang dia jaga dari tadi, dan peletek suara pintu dibuka, terlihatlah seseorang yang sangat dia rindukan di balik pintu tersebut.


"eh Marsell, ada apa?" Defa heran melihat Marsel atang kerumahnya, dia juga sedang tak ingin menerima tamu siapapun.


"kamu lagi sibuk ya?"


" gak juga, cuma ini baru pulang, yaudah silahkan duduk dulu" Defa segera mempersilahkan Marsell di rumahnya, mereka tak bisa kedalam rumah karena dirumahnya sedang tidak ada orang tuanya, Defa tidak mau ada gosip yan tidak-tidak padanya, dia sangat menjaga nama baik keluarganya.


"pacar.. aku kangen,kamu susah banget dihubungi, kemana aja?" Marsel langsung memeberondong pertanyaan pada Defa, dia sangat penasaran sekali, Marsell memang tidak tau tentang kabar Defa karena kesibukan yang ada di perusahaanya.


"aku ke rumah sakit" jawab Defa.


"kamu sakit apa?, kenapa gak bilang sama aku?

__ADS_1


"aku gak sakit, papa yang sakit, dia kemarin sempat kritis tapi alhamdulillah sekarang sudah baik-baik saja.


"maaf aku gak tau, kamu juga gak ngasih tau"


"aku belum sempat ngapa-ngapain, boro-boro ngasih tau kamu"


"maafin aku ya"


"gak apa-apa ko"


Defa tak mau banyak berdebat, dia juga tak ingin membebani orang lain sehingga dia tak terlalu peduli dengan tanggapan orang lain. Marsel yang juga mengaku sebagai pacar dia tapi Defa juga tak mau membebaninya, toh masih belum siapa-siapa.


Marsel merasa tak enak hati, dirinya sungguh sangat menyesal tak tau Defa dalam keadaan sedih,


"pacar kamu jaga kesehatan ya, aku berharap kamu baik-baik aja, kalo ada apa-apa bilang aja"


"iya makasih, aku gak apa-apa ko"


"kamu harus kuat ya, sekarang papa diraawat di rumah sakit mana, besok aku mau nengok"


"itu rumah sakit yang ada di dekat perempatan"


"kamu kapan mau kesana?"


"tiap hari juga kesana, sebelum kesekolah dan pulang sekolah"


"besok bolehkan aku kesana?"


"boleh"

__ADS_1


Defa dan Marsel terus ngobrol sampai beberapa saat kemudian Marsel melihat Defa menguap, dia merasa tak enak hati dan segera berpamitan pulang.


__ADS_2