
Mereka tiba di rumah Defa, disana papa dan mama Defa ternyata sedang ada di rumah, papa Defa sedang membersihkan akuarium kecil yang ada di penjuru rumah dekat jendela, ikan kecil nan cantik-cantik disimpan di baskom yang dia simpan di dekat nya bekerja.
Mama Defa sedang membuat cemilan, sudah beberapa toples yang penuh dengan cemilan. Kebanyakan cemilan itu adalah kesukaan Defa.
"Assalamualaikum ma pa" kata Defa lantang sambil masuk dan salam kepada orangtuanya. Marsel juga ikut masuk dan menyalami kedua orangtua Defa.
"Waalaikumsalam sayang, kenapa baru pulang?" Difia menjawab salam dari Defa, dia juga heran kenapa ada Marsel. Marsel hanya senyum-senyum malu, Difia dan Defano melihat ke arahnya serempak seperti menunggu jawaban dari Defano.
Defa melihat itu hanya diam saja, dia iseung ingin tau jawaban Marsel apa. Defa menunduk sambil senyum iseung, dia pun duduk duluan di kursi.
Marsel bingung ingin menjawab apa, dia melihat Defa tak ada niat membantunya.
Marsel hanya berdiri, diapun menunduk, bukan karena merasa salah cuma lagi mikirin jawaban yang tepat.
Melihat Marsel diam Difia merasa kasihan dibuatnya.
"nak Marsel duduk dulu, kayaknya cape ya?" Difia menyindirnya, Defano yang merasa ada kesempatan membuat alasan langsung terang benderang dalam otaknya.
"iya Tan, saya baru pulang dari London" kata Marsel dengan bangga.
"oh jauh juga ya" Difia mengangguk-anggukan kepalanya.
"lumayan Tan" kata Marsel dengan pedenya.
"tadi langsung ketemu sama Defa ya?" Difia masih anteung nanya ke Marsel.
"iya tan" jawab Marsel sambil tersenyum.
"ada apa?kenapa buru-buru nemuin Defa gak pulang dulu buat istirahat" glek Marsel menelan ludahnya saat pertanyaan yang sangat sulit untuk dibuat alasanya.
"awas ya tuh anak gak bantuin, diculik beneran baru tau rasa" gumam Marsel dalam hatinya.
"em..em itu Tan..ya..kebetulan aja"
"kebetulan gimana? kan Defa pulang sekolah bukan pulang maen" Difia terus mencecar Marsel.
Defano melihat Marsel kasihan juga, awalnya dia ingin iseung aja, tapi melihat Marsel yang kabingungan membuat dia ingin menyudahi saja.
"sudah..sudah...kayaknya anak-anak harus mandi dulu,sudah sore" kata Defano.
"selamat-selamat..camer gue emang is the best" gumam Marsel dalam hatinya. Mulutnya menyunggingkan senyum sekilas.
__ADS_1
Defa yang menunggu jawaban Marsel pun agak kecewa, tapi memang mereka harus bersih-bersih jadi Defa langsung ijin ke orangtuanya.
"ma pa Defa mau ke kamar dulu ya?" kata Defa sambil segera menuju kamarnya. Dia melirik sebentar ke arah Marsel yang masih menunduk dan langsung ke kamarnya.
"om..tante saya juga ijin pulang dulu" kata Marsel.
"kenapa?" Difia melihat lagi ke arah Marsel.
"em..itu tante mau mandi juga, udah sore, udah lengket."
"gak mandi di sini?" Difia malahan menggoda Marsel.
"enggak tan, makasih" jawab Marsel.
"yaudah lain kali kalo mau ajak anak tante mesti ijin dulu ya, dia anak tante satu-satunya, tanteu gak Defa kenapa-napa." kata Difia sambil menyunggingkan senyumnya.
"iiya Tan lain kali Marsel ijin, maaf ya" Marsel senang keluarga Defa ternyata sangat menyayangi Defa, dia berjanji dalam hatinya dirinya juga akan menyayangi Defa melebihi dirinya sendiri.
"Marsel pulang dulu ya tan" Marsel mengulangi kata-katanya.
"tunggu sebentar" kata Difia sambil segera ke dapur, entah mau apalagi, tadi saja dirinya merasa jadi terdakwa sekarang Marsel jadi bertanya-tanya.
Tak lama Difia pun datang membawa paper bag dalam tangannya.
Marsel bahagia sekali, orang tuanya tak pernah memperhatikan nya sampai seperti itu.
Defa ternyata seorang putri di rumah itu, dia disayangi dan sangat diperhatikan. Walaupun begitu Defa tidak manja, dia sangat Mandiri dan perhatian sama orang lain, Marsel semakin menyukainya.
Marsel pun pulang, dia menenteng peper bag yang dikasih Difia sambil sesekali tersenyum, kadang dipeluknya, dia berharap Defa dan dirinya bisa terus bersama.
Defa setelah mandi langsung merebahkan tubuhnya, dia senyum-senyum sendiri setelah itu dia membaca buku kembali.
Marsel sampai di rumahnya, di sana sepi, sendiri tak ada yang menemani, teman-temanya akan datang hanya saat dia memanggilnya.
Marsel ingin sekali kembali ke keluarga Defa, tapi kali ini dia masih belum siapa-siapa.
Marsel bersih-bersih dan ganti baju, setelah itu dia merebahkan dirinya. Saat berbalik dia teringat dengan oleh-oleh dari orang tua Defa, diapun bangun kembali, temandang peper bag setelah itu membukanya.
Ternyata dalam paper bag itu ada tiga toples kecil cemilan, lumpia kering isi abon, krupuk tangkil dan pastel mini dengan keju. Semuanya menggugah selera, Marsel membukanya satu persatu, dia mulai mencobanya.
Lumpia kering sangat renyah dimulut, Marsel membayangkan Defa sedang memakanya sambil rebahan dan baca buku, krupu tangkil kayaknya enak buat dimakan sama makanan berkuah dan satu lagi pastel mininya membuatnya tak bisa berhenti memakannya.
__ADS_1
Entah karena enak atau lapar, cemilan yang Marsel makan hampir habis.
"kayaknya gue dapet ide nih, besok gue bisa langsung ke rumah Defa buat ngembaliin ini, sekalian gue kan bisa jemput Defa, memang cerdas kamu Marsel" dia bergumam sendiri, tanganya mengepal dan bersorak kegirangan.
"yess, mama mertua gue memah the best gue jadi bisa sering ketemu Defa haha" Marsel terus bergumam sambil rebahan, dia pun tertidur pulas dengan mulut tersenyum.
Esoknya entah saking bahagia atau apa, Marsel bangun dengan cepat, dia bersiul-bersiul sangat bahagia, dipandangi lagi paper bag nya, dia pun memakan sisa cemilan yang ada dan menghabiskannya, setelah itu dia membersihkan semua toplesnya.
Toplesnya dia keringkan lagi dan dia masukan ke paper bagnya.
Marsel segera mandi dan bersiap untuk sekolah. Dengan bangga dia membawa paper bagnya lagi dan berangkat menuju rumah Defa.
Di mobil dia terus memperhatikan penampilannya, rambutnya, mukanya, jam tangan dan bajunya, dia sesekali memandang paper bag yang akan dia kembalikan.
Dia juga mencium-cium parfumnya, sampai beberapa kali dia menyemprotkannya ke bajunya.
Beberapa menit kemudian Marsel sampai di rumah Defa.
Dia segera memencet bel dan menunggu di depan rumah. Keluarlah sang empunya rumah dari dalam.
"Assalamualaikum Tan?" kata Marsel
"waalaikumsalam, Marsel kamu pagi-pagi udah sampai sini ada apa?" Difia malah bertanya karena heran.
"he..ini Tan mau ngembaliin toples nya he.." kata Marsel.
"hah..he.. ya sudah masuk dulu, Defa juga belum berangkat ko" kata Difia.
Marselpun masuk, dia diajak langsung ke meja makan, disana Defa, papanya dan nenek Defa sudah duduk bersiap untuk makan.
Marsel pun ikut makan bersama mereka. Papanya Defa meliriknya.
"pak" kata Marsel sambil tersenyum dan agak menunduk pada papanya Defa.
Papanya berangkat duluan, sebelum berangkat dia berpesan pada Marsel.
"jaga Defa ya" kata papanya Defa.
Marsel hanya mengangguk tanpa mengerti maksud dari papanya.
Setelah papanya berangkat Defa dan Marsel pun berangkat bersama atas saran mama Defa, menurutnya itu lebih efisien, sebenarnya Defa tidak mau dia tidak ingin jadi bahan gosip di sekolahnya.
__ADS_1
Tapi karena mamanya yang menyuruhnya mau tidak mau Defa, pun menurut dan mereka pun berangkat