Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Mantan istri


__ADS_3

“Kamu baik-baik aja?” tanya wanita itu setelah meregangkan pelukannya.


“Kenapa banyak darah Gheaa??” seru Wanita itu panik, saat baru menyadari keadaan putrinya.


“Eriikk, Maa ...” Ghea kembali meraung.


“Kenapa dengan Erik?? mana dia?” tanya Mama Ghea panik.


“Erik kecelakaan, Tante. Ditabrak mobil, saat mau beli minum untuk Ghea di seberang butik,” jelas Nina setelah memberi salam pada kedua orang tua Ghea.


“Astaga, Nak.” Mama Ghea kembali memeluk putrinya.


“Kamu pulang aja, masih banyak teman-temannya yang menunggu dia di sini. Toh kalian belum resmi jadi suami istri, dia belum jadi tanggung jawabmu,” ucap Papa Ghea dingin.


“PA!” seru Ghea tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Papanya.


Ia memang mengerti jika Papanya tidak pernah suka dengan Erik, karena telah berselingkuh dari istrinya.


Bagi Papanya kesetiaan itu nomer satu dalam pernikahan, dan seorang suami jika sekali berkhianat, bakal ada kedua dan ketiga kalinya. Papanya hanya khawatir jika putri satu-satunya, akan mengalami hal yang sama dengan nasib mantan istri Erik.


“Pa, dia calon suami aku.” Ghea memohon.


“Baru calon, belum tentu jadi kalo sudah begini ceritanya,” Papa Ghea tetap bersikukuh.


“Paa, sabar dulu. Kita tunggu kabar lebih lanjut, jangan emosi!” tegur Mama Ghea yang jengah melihat sikap suaminya yang dirasa sudah melewati batas.


Papa Ghea mendengus kesal. Baginya ucapan istrinya saat marah seperti ini, tidak boleh diabaikan kalau tidak mau perang berlanjut di rumah.


“Kalian teman Erik?” tanya Papa Ghea saat duduk berdekatan dengan Raymond dan Lea.


“Iya, kami teman Erik,” sahut Raymond cepat sebelum istrinya yang menjawab. Menurutnya jauh lebih baik, kalau Papa Ghea untuk saat ini belum mengetahui siapa Lea sebenarnya.


“Keluarga Erik Prasetya?” Seorang perawat wanita keluar dari ruangan.


“Bagaimana, Sus?” Ghea segera berdiri.


“Kamu bukan keluarganya!” seru Papa Ghea.

__ADS_1


“PA!” sergah Mama Ghea memperingatkan dengan kesal.


“Bagaimana kondisi calon suami saya, Sus?” Ghea tidak menghiraukan perkataan Papanya, ia tetap mendekati suster untuk mengetahui kondisi Erik.


“Pasien sempat mengalami pendarahan hebat, tapi sudah berhasil kami atasi.” Ucapan syukur bersahut-sahutan terdengar dari arah belakang Ghea. Perawat itu menarik nafas panjang sebelum melanjutkan.


“Lalu bagaimana, Sus?” tanya Ghea tidak sabar.


“Pasien masih koma, belum melewati masa kritisnya.” Ghea terduduk lemas, mendengar penjelasan lanjutan dari petugas kesehatan itu.


Seharusnya ia sudah tahu saat melihat kondisi Erik yang terbaring di aspal. Darah yang terus mengalir dari mulut dan telinga Erik, sempat membuatnya histeris tadi.


“Satu lagi ….” Petugas kesehatan itu ingin menambahkan, seolah tidak cukup berita menyedihkan yang ia bawa tadi.


“Pasien mengalami cedera tulang belakang agak parah, dan ada kemungkinan akan sulit berjalan kedepannya.” Sontak kabar yang terakhir membuat Ghea dan Lea semakin menangis histeris.


“Pasien masih membutuhkan transfusi darah, stok kami untuk golongan darah pasien menipis. Pihak keluarga bisa membantu untuk mencari donor darah dari luar,” tambah perawat tadi.


“Golongan darah saya sama, Sus. Bisa ambil punya saya dulu,” desak Ghea.


“Bisa, asal calon pendonor dalam kondisi fit dan lolos checkup.”


“Please, Pa. Biarkan kali ini aku melakukan sesuatu yang benar.”


“Kamu harus istirahat sama makan dulu kalo mau donor,” saran Nina yang prihatin melihat kondisi Ghea yang hampir sama dengan korban kecelakaan.


“Iya, Ibu harus fit dulu agar bisa memberikan donor darah. Stok kami masih cukup untuk sementara waktu.”


“Kita pulang dulu, Ghe. Besok kembali lagi ke sini,” bujuk Mamanya.


“Saya mau lihat Erik dulu boleh, Sus?” pinta Ghea memelas.


“Boleh, tapi hanya maksimal dua orang ya, Bu, dan tolong jangan terlalu menyentuh tubuh pasien,” pesan perawat sebelum kembali masuk ke dalam ruang tindakan.


Ghea berbalik memandang kedua orang tuanya dan teman-temannya satu persatu, tatapannya berhenti di Lea, “Bisa temani aku?” Ghea memohon.


Lea memandang suaminya meminta persetujuan. Raymond mengangguk pelan seraya berbisik, “Mama Maura wanita yang hebat, kamu pasti bisa … pergilah temani Ghea.” Lea tersenyum pilu, lalu melangkah maju mendekati Ghea.

__ADS_1


Kedua orang tua Ghea memandang Lea dengan heran dan penasaran, sedekat apakah hubungan wanita itu dengan calon suami putrinya.


Sedangkan yang mereka tahu, Erik adalah putra tunggal dan tidak mempunyai sanak saudara lagi.


“Siapa?” tanya Papa Ghea yang tidak tahan dengan rasa penasarannya.


“Istri saya,” sahut Raymond tak acuh. Jawaban Raymond yang tidak memuaskan itu, membuat kening Papa Ghea semakin berkerut kesal.


“Itu yang namanya Lea, Om. Mantan istrinya Erik,” jelas Nina sopan pada kedua orang tua Ghea. Papa Ghea dan Papanya sudah bersahabat sejak lama, hingga mereka mendirikan perusahaan bersama-sama yang sekarang dikelola oleh putri mereka masing-masing.


Penjelasan Nina itu, membuat mata kedua orang tua Ghea  membelalak.


“Tidak apa-apa, hubungan Lea dengan Kak Erik sejauh ini baik-baik saja,” ucap Nina menenangkan kedua orang tua Ghea, yang menghawatirkan situasi di dalam ruang tindakan.


...❤❤...


dobel up dong 🥰


Mampir ke karya ku yg lain yaa 🙏🤗



follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟

__ADS_1


Votenya doong 🥰


__ADS_2