
"Haid?!" Lea langsung bangkit berdiri lalu melongok ke antara kedua kakinya.
Ia terkejut saat Raymond menanyakan apakah ia sedang haid, berarti kewanitaannya mengeluarkan darah dan itu tidak mungkin karena ia sedang mengandung.
"Hati-hati, Lea!" seru Raymond saat melihat istrinya bergerak dengan cepat.
"I-ini bukan haid, Bang."
"Terus apa??"
"Antar aku ke rumah sakit ya," kata Lea pelan.
"Mau ngapain? Kamu mau melahirkan sekarang?!, tapi kan belum waktunya Lea? Raymond terlihat panik.
"Antisipasi aja, Bang. Yuk." Lea berusaha terlihat tenang.
"Oke, oke." Dengan tangan bergetar Raymond membantu istrinya memakai pakaian. Setelah selesai, ia langsung membopong tubuh Lea dan berjalan ke arah pintu kamar.
"Bang!"
"Kenapa?, ada yang sakit??" Raymond menatap istrinya khawatir.
"Abang keluar kamar jangan telanjang gini dong, pakai baju dulu." Raymond melihat ke arah tubuhnya, ia baru sadar kalau belum berpakaian sama sekali.
"Ah, iya. Tunggu di sini ya." Raymond meletakan istrinya kembali di atas ranjang dengan sangat hati-hati.
"Iya, aku ga pa pa. Abang ga perlu panik, tenang aja." Raymond tidak menjawab, tangannya masih terus bergetar saat berpakaian.
"Aku bisa jalan sendiri, ga perlu digendong." Lea menolak saat Raymond akan mengangkat tubuhnya lagi.
"Kamu berdarah, sayang."
"Aku ga berdarah, itu hanya flek. Abang bawakan tas itu aja ya, aku jalan sendiri." Lea menunjuk satu tas besar yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Tangannya dingin banget," goda Lea saat suaminya menggandeng tangannya.
"Jangan bercanda sekarang, Lea." Rupanya Raymond sudah tidak bisa diajak bersantai karena terlalu tegang.
"Tunggu, aku mau bilang Mbok Nah dulu."
"Aku aja, kamu tunggu di sini," perintah Raymond. Ia setengah memaksa mendudukkan Lea di sofa ruang tamu.
Tidak berapa lama dengan tergopoh-gopoh, Mbok Nah keluar dari kamar, "Alhamdulillah, sudah mau lahir, sehat-sehat ya, Nduk." Mbok Nah mengusap-usap perut Lea.
"Mbok Nah kok panggil Nduk, emang tau kalo ini anak perempuan?"
"Ga sih, cuman kata orang tua-tua dulu kalo bentuk perut ibu hamil bulat seperti ini, anaknya perempuan." Mbok Nah tersenyum malu.
"Mau laki ato perempuan yang penting sehat ya, Nya."
"Ya, Mbok. Terima kasih. Titip anak-anak ya."
Melihat Raymond sudah keluar dari kamar William, Lea berdiri di bantu oleh Mbok Nah.
"Nyonya tenang aja, anak-anak aman sama saya. Semoga lancar persalinannya, hati-hati di jalan ya." Mbok Nah masih berdiri di depan pintu dengan wajah khawatir, saat mobil yang membawa Raymond dan Lea keluar dari halaman.
__ADS_1
"Kamu ga apa-apa?, apanya yang sakit?, bilang ya jangan diam aja." Selama menyetir, Raymond kerap kali melirik ke arah istrinya.
Telapak tangannya sudah basah oleh keringat. Ia sangat gugup dan khawatir, bayangan saat Lea kesakitan saat akan melahirkan Maura masih terbayang di matanya.
Jadwal Maura lahir maju dari yang seharusnya, karena Lea mengalami kontraksi setelah shock akibat salah paham dengannya waktu itu.
Darah yang mengalir di kaki Lea lalu membasahi bangku mobilnya saat itu, melintas lagi di kepalanya.
"Darahnya keluar lagi?" tanya Raymond, ia melirik ke arah kaki Lea.
"Ga ada, itu cuman flek bukan darah," ulang Lea.
"Abang jangan panik, semua akan baik-baik aja. Menyetir aja yang tenang." Lea menyentuh tangan Raymond yang memegang stir.
Ia tidak ingin suaminya panik, walaupun sejak di rumah tadi, perutnya sudah mengalami kontraksi dengan periode yang teratur. Ia sangat hafal dengan kondisi ini, rasa sakit pengantar sebuah kehidupan yang baru.
Ia berusaha tetap tenang di hadapan suaminya, meskipun keringat dingin sudah mengalir di punggung dan pelipisnya.
Saat mobil memasuki pelataran rumah sakit, Lea sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang, "Arrgghhh." Tangannya mencengkram lengan Raymond.
"Sabar sayang kita sudah sampai." Raymond menghentikan mobilnya di depan pintu rumah sakit, dan segera memanggil petugas kesehatan yang berjaga untuk membawa istrinya ke ruang bersalin.
Raymond tidak melepas tangan Lea selama perawat menyiapkan perlengkapan persalinan.
"Dokter Ira sudah dipanggil, Sus?" tanya Raymond.
"Dokter Ira sedang di luar kota, Pak. Jadwal Bu Lea bersalin harusnya dua minggu lagi, jadi Dokter Ira ambil cuti dulu satu minggu."
"Lalu??"
"Mana Dokternya, Sus??" tanya Raymond semakin tak sabar.
"Dokter sedang menangani operasi caesar di sebelah, Bu Lea juga masih pembukaan lima, jadi bersabar dulu ya."
"Ga bisa dipercepat bukaannya, Sus?!"
"Ibu masih kuat untuk melahirkan secara normal, Pak. Kita tunggu dulu keinginan calon bayinya keluar ya." Beberapa perawat yang berada di dalam ruangan tampak menahan tawanya.
"Ibu posisi baringnya miring ke kiri ya, biar si adek cepat keluar." Dua perawat membantu Lea memiringkan tubuhnya yang terasa berat dan kaku.
"Bang, duduk sini dulu," pinta Lea lemah. Ia pusing melihat suaminya mondar mandir gelisah mengintip di depan pintu.
"Mana yang sakit?, gimana sih mereka ini, kamu kesakitan gini kok malah ditinggal pergi!" seru Raymond kesal. Ia mengusap keringat yang ada di kening istrinya.
"Memang belum saatnya lahir. Kita harus tunggu, perawat memang ga bisa berbuat apa-apa saat ini."
Lea mengambil tangan Raymond dan meletakkan di perutnya, "Coba Abang bicara sama dia."
Raymond mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Dia sudah ngerti loh, sudah bisa dengar suara kita."
Raymond mendekatkan kepalanya ke perut istrinya. Terdiam cukup lama akhirnya ia membuka suara, "Cantik, cepat keluar ya. Papi, Mama, Kakak William dan Kakak Maura juga Mbok Nah ga sabar mau ketemu adek. Keluarnya nanti, jangan bikin Mama terlalu sakit ya," bisik Raymond di perut Lea.
Raymond kembali terdiam sambil menempelkan keningnya di perut Lea.
__ADS_1
"Abang ... kenapa?" Lea merasakan ada cairan hangat yang mengalir di kulit perutnya.
Terdengar suara isakan halus, suaminya menangis. Lea mengusap rambut suaminya perlahan.
"Kenapa sejak kamu hamil aku jadi melow gini," ucap Raymond di sela-sela tangisannya.
"Aku jadi kelihatan lemah, cengeng dan ga perkasa." Raymond masih menyembunyikan wajahnya di perut Lea.
"Abang masih kuat dan perkasa kok," sahut Lea. Ia menahan rasa geli melihat suaminya yang mempunyai badan besar itu, menangis sesenggukan sambil memegang perutnya.
Tiba-tiba rasa mulas luar biasa menghujam perutnya, "Aarggh, Baangg." Lea menjerit dan menghujamkan semua kukunya di lengan Raymond.
"Susterrr!!"
"Sepertinya dia denger permintaan Papinya." Lea tersenyum lemah.
"Saya periksa dulu ya," Seorang perawat memasukan tangannya di pusat tubuh Lea, untuk memeriksa kesiapannya bersalin.
"Pembukaannya sudah sempurna, siap ya sebentar lagi Dokter datang."
"Pasien sudah siap?" Seorang pria berjubah putih dan berkepala plontos masuk ke dalam ruangan.
"Siap, Dok," sahut salah satu perawat.
Raymond membesarkan matanya saat melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan.
"Sus, ga ada dokter lain? saya minta yang wanita aja!" bisik Raymond, saat Dokter itu sedang bersiap di sudut ruangan.
"Hanya satu dokter kandungan yang bertugas malam ini, Pak. Kalau Bapak minta dokter wanita, yang siap malam ini adanya Dokter penyakit kelamin, bagaimana?"
...❤❤...
Harap maklum ya kalo up tidak bisa tiap hari apalagi dobel up, karena sekolah sudah mulai PTM jadi namanya emak-emak tersita lagi waktunya 🙏
follow ig : ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol 👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Mampir ke karya teman aku ya, ramaikan di sana 🙏🤗
__ADS_1