Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Ternyata dia


__ADS_3

Raymond tersenyum licik melihat Lea yang tegang selama perjalanan.


Sepanjang perjalanan pulang tidak banyak yang mereka perbincangkan, Lea terlalu tegang Raymond pun terlalu gugup.


Perasaan hati Raymond saat ini seperti kembang api, sehari menghabiskan waktu berdua dengan Lea meski hanya urusan pekerjaan membuat moodnya naik drastis.


Bodohnya ia tidak memahami arti perasaannya sendiri, apa mungkin terlalu lama menjomblo atau rasa sakit hati masa lalu sehingga tidak lagi peka dengan rasa kebat-kebit di dadanya.


Ditambah berbagai alunan lagu romantis mengiringi perjalanan mereka, membuat senyuman manis selalu menghiasi wajah tampan Raymond.


Namun tidak dengan Lea, permasalahan hidup yang beruntun, membuatnya tidak mau ambil pusing dengan masalah asmara.


Lea belum pernah merasakan apa itu yang dinamakan cinta. Walaupun sudah dua orang pria yang pernah menjamah tubuhnya, tapi mereka tidak meninggalkan jejak perasaan yang indah pada hatinya.


Yang dia bawa hanyalah rasa sakit di hati, saat ini hanya Maura fokus hidupnya.


Hari sudah gelap saat mereka sampai di rumah Raymond. Dari luar sudah terdengar suara riang khas anak kecil sedang bermain.


"Maa ... mamaaa ..." tertatih Maura mendekati mamanya yang baru masuk ke dalam ruang tamu diikuti oleh Raymond di belakangnya.


"Eeh, tunggu dulu sayang mama masih kotor belum cuci tangan dari jalan." Lea beringsut cepat menghindari Maura yang segera ditangkap oleh Mbok Nah.


"Toilet ada di bawah tangga," tunjuk Raymond.


Sebelum Maura menangis kencang, Lea segera menuju arah yang ditunjukan Raymond.


"Dok?, kok ada di sini?" Lea terkejut melihat Lukman yang baru keluar dari kamar mandi.


"Loh kamu?" Lukman pun sama terkejutnya melihat pasiennya yang sudah lama tidak berkunjung ada di rumah sahabatnya.


"Jangan-jangan kamu mamanya Maura?" lanjut Lukman.


Lea mengangguk, terbesit rasa was-was dalam hatinya. Tidak menyangka bertemu dengan dokter Lukman yang mengetahui dan menyimpan semua rahasia hidupnya di rumah atasannya, membuat kepalanya mendadak pening.


Setelah berbincang sejenak dengan dokter Lukman di depan pintu kamar mandi, Lea pamit untuk masuk membersihkan diri.


Lukman bergegas mencari sahabat gesreknya, "Kamu tahu siapa orang tua Maura?" tanya Lukman dengan antusias.


"Taulah, dia karyawan aku. Pulang kesini juga barengan kita," sahut Raymond sambil mengganti bajunya.


"Maura itu ... anakmu." Lukman sedikit terkikik tidak bisa menahan rasa gelinya.


"Sembarangan kalau bicara, ga pernah aku sebar benih tanpa pengaman," sergah Raymond kesal.


"Kamu lupa?, pasienku yang kamu antar melahirkan satu tahun yang lalu pakai mobilmu?" kata Lukman sambil mengikuti langkah Raymond ke ruang makan.

__ADS_1


Langkah Raymond terhenti di tengah ruang makan memandang lurus ke arah ruang tamu, tampak Lea sedang bersenda gurau dengan William dan Maura.


"Wanita gila itu" Raymond berkata lirih.


"Yes, you're right," Lukman tersenyum senang.


Mereka berdua mengamati Lea dan kedua bocah itu dari ruang makan, "Owww, so sweet. Indah sekali seperti keluarga bahagia." Raymond melirik kesal teman di sebelahnya, jelas Lukman saat ini sedang menggodanya.


"Sepertinya namamu masih tercantum sebagai ayah dari Maura di berkas rumah sakit." Lukman masih terus menggodanya.


"Kenapa aku ga sadar kalau mereka orang yang sama?" Raymond tampak berpikir sambil mengamati dari jauh.


"Kamu bertemu dia saat sedang mengandung besar, secara fisik jelas ada perbedaan. Bagaimana sekarang, semakin menarik bukan?" Goda Lukman lagi.


"Kamu kok kenal?, tapi sama Maura ga nyadar?" lanjut Raymond tanpa menghiraukan ledekan Lukman.


"Setelah melahirkan dia sempat datang lagi ke tempatku ... masalah rumah tangga gitu, tapi Maura saat itu masih bayi banget beda sama sekarang. Pantas aku merasa ga asing sama wanita yang sering menjemput Maura ternyata kita pernah bertemu."


Raymond tampak setengah hati mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Lukman, karena saat ini ia sibuk memperhatikan William yang sangat senang bermain bersama Lea dan putrinya.


"Cantik ya." Raymond berjengkit kaget saat Lukman tiba-tiba berbisik di telinganya.


"S*alan!, ga perlu pakai tiup-tiup telinga!, geli tauk." sembur Raymond kesal sembari bergidik.


"Serius banget lihatin istri orang, dosa."


"Waaouw, update nian sobatku ini. Sejak kapan jadi peduli dengan kabar berita para wanita?"


"Bukannya peduli, tadi siang jemputnya juga di pengadilan agama dia habis sidang kedua."


"Jalan semakin terbuka lebar, sebentar lagi ga hanya di dokumen rumah sakit tapi di dokumen negara namamu akan resmi tercatat."


"Sembarangan!" Raymond meninggalkan Lukman yang masih terbahak di ruang makan.


"Saya permisi pulang dulu pak, dan terima kasih sudah menjaga dan menjemput Maura dok," pamit Lea pada Raymond dan Lukman yang menyusul di belakang masih dengan tersenyum geli.


"Saya antar," sahut Raymond singkat.


"Jangan pak, saya pesan taxi online aja. Bapak kan pasti capek seharian menyetir dari luar kota."


"Iya, kamu sudah capek Ray biar aku aja yang antar sambil jalan pulang," tawar Lukman.


"Naik taxi online?, terus nanti salah naik lagi gitu?" sindir Raymond. Lea mengerutkan alis tidak mengerti.


"Dia ini yang bersama saya mengantar kamu saat melahirkan dulu Lea, ingat?"

__ADS_1


Ingatan Lea terbang kembali setahun yang lalu saat ia keluar dari ruang praktek dokter Lukman, lalu salah naik mobil yang dikira taxi online pesanannya.


Dia di seret turun oleh pemilik mobil, dan berakhir dengan kontraksi hebat hingga harus melahirkan saat itu juga.


Mata Lea membelalak mengingat rentetan kejadian setahun yang lalu, saat pria itu masuk ke dalam ruang persalinan dan berperan sebagai ayah Maura.


Bajunya yang kusut karena ditarik paksa oleh Lea saat akan mengejan, dan pria ini juga yang memberikan adzan pertama di telinga putrinya.


"Tidak perlu berterima kasih, ayo pulang," ucap Raymond santai, padahal sejak tadi jantungnya sudah menari-nari sejak ia tahu mereka berdua sudah punya kisah menarik sebelumnya.


"Biar saya pulang sama dokter Lukman saja pak, kami searah juga jalannya. Bapak biar istirahat saja," tolak Lea sopan. Ia masih merasa nyaman berdua dengan Lukman dari pada dengan bosnya yang ketus ini.


Seharian satu mobil dengan Raymond masih terasa lelah bagi Lea, karena sangat tegang dan harus hati-hati berbicara.


"Iya, tadi kan kamu bilang capek mau cepat tidur," tambah Lukman memprovokasi. Raymond menatap tajam pada temannya itu, mau protes tapi masih gengsi.


"Piii, ikut antar adek Maura. Ayooo piii ...." William menggoyang-goyangkan lengan Raymond memohon.


Raymond tersenyum penuh kemenangan pada Lukman, "Willi mau ikut antar adek Maura?" tanya Raymond lembut. William mengangguk dengan semangat.


"Ayo, nanti kemalaman kasihan anak-anak." Tanpa mengijinkan Lea menolak, Raymond menggiringnya keluar rumah.


"Modusss, ingat masih istri orang," bisik Lukman.


"Bodo!" cibir Raymond cuek.


"Mama Maura duduk sama aku di depan." pinta William.


"Ga cukup sayang, tante di belakang aja ya sama adek." Lea membujuk William pelan.


"Ga mauuu, pingin di pangku juga." William menghentakkan kakinya.


"Okee baiklah, tapi nanti William bantu pegangin adek Maura ya."


William dengan semangat membuka pintu penumpang bagian depan dan meminta Lea untuk masuk.


Lukman yang melihat pemandangan itu menggerakkan bibirnya tanpa suara, ia berkata pada Raymond yang sudah duduk di belakang kemudi, "So sweet ... sempurna."


"Berisik ... minggir!" balas Raymond juga dengan gerakan bibir dan isyarat mata.


Lea yang perhatiannya masih teralihkan dengan dua bocah yang ada di pangkuannya, tidak memperhatikan tingkah ajaib dari dua pria yang gagal dewasa itu.


...đŸ”šī¸đŸ”šī¸đŸ”šī¸...


Terima kasih lagi untuk semua Like, Komen, Vote dan juga favorite (love) dari semua teman-teman 🙏🤗đŸĨ°

__ADS_1


Numpang lewat lagi karya teman aku 🙏 Huzna_Az 'Impian Dira'



__ADS_2