Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Bonchap : Maura


__ADS_3

“AKU GA MAU SEKOLAH!!” Maura menjerit kencang lalu membanting pintu kamarnya.


Lea terkesiap di depan pintu kamar Maura, “Maura ….” ucap Lea lirih.


Ia sangat terkejut saat di hari pertama anak gadisnya itu menginjak bangku SMU, Maura pulang lebih cepat dari yang seharusnya. Maura langsung berlari masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua, dengan wajah memerah dan sembab.


Saat ia menghampiri kamar putrinya, Maura menjerit kencang dan membanting pintu tepat di hadapan wajahnya. Ia merasa gagal menjadi sorang ibu, terlebih untuk Maura yang sedari kecil seperti masih terus mencari jati dirinya.


Lea turun ke lantai satu menuju dapur. Ia menyeduh teh hangat, hanya untuk sekedar meredakan gejolak hatinya.


Suasana rumah saat siang seperti ini terasa sepi, hanya ada dirinya dan Mbok Nah. Suaminya ada di kantor hingga sore nanti, jika tidak ada pertemuan mendadak. William putra sambungnya, sudah duduk di bangku kuliah dengan jadwal yang tidak tentu. Sedangkan Kanaya putri bungsunya, masih duduk di bangku SMP juga masih belum pulang.


Lea meneguk pelan teh hangatnya, sambil menerka-nerka apa kiranya yang sudah terjadi pada putrinya. Seingatnya seminggu sebelum masuk SMU di hari pertama, Maura sangat bersemangat dan benar-benar mempersiapkan untuk hari pertamanya di SMU.


Saat sarapan pagi tadi, tidak ada yang salah. Semua berjalan dengan baik, bahkan Maura terlihat sangat tidak sabar untuk segera berangkat sekolah.


...❤...


Saat waktu makan siang, Lea kembali mengetuk pintu kamar Maura. Putrinya itu tidak ada tanda-tanda untuk mau keluar kamar sejak pulang sekolah.


“Maura … Mauraa, makan dulu.”


“Mauraaa ….” Lea semakin keras mengetuk dan memanggil Maura. Mungkin saja putrinya itu tertidur, hingga tidak mendengar panggilannya.


“Pergi! Aku benci Mama!” seru Maura dari dalam kamar.


Sekali lagi Lea terkejut mendengar teriakan Maura, bahkan jauh lebih terkejut dari sebelumnya. Apa salahnya sehingga Maura membencinya.


Lea meminta Mbok Nah untuk membawakan makanan ke kamar Maura. Anehnya saat Mbok Nah yang mengetuk pintu, putrinya itu langsung membuka dan menerima piring yang dibawakan Mbok Nah.


“Mbok, gimana Maura?” tanya Lea, setelah Mbok Nah keluar dari kamar Maura.


“Kamarnya berantakan, masih pake seragam sekolah. Kayaknya habis nangis terus, matanya sampe bengkak,” papar Mbok Nah.


Nalurinya sebagai ibu, membuatnya ingin membuka pintu kamar Maura dan bertanya langsung apa yang sudah terjadi.


Namun mengingat kalimat Maura yang membencinya siang tadi, Lea mencoba lebih menahan dirinya.


...❤...


Malam harinya setelah makan malam, Raymond masuk ke dalam ruang kerjanya dan kembali tenggelam dalam lembaran kertas, brosur dan layar laptop yang menyala.


“Lagi ada job nikahan?” tanya Lea heran, karena biasanya untuk hal teknis seperti ini sudah ada bagian yang mengurusnya. Suaminya ini seorang pemimpin perusahaan, biasanya hanya memantau dan memberikan tanda tangan persetujuan.


“Iya, kawan lama menikah. Jadi aku ingin memberikan yang spesial untuk dia," ucap Raymond seraya menarik Lea ke atas pangkuannya.


"Siapa? aku kenal?"


"Jevaro Reynaldi."


"Waah yang tinggi, putih, ganteng mirip bintang drama korea itu? nikah sama siapa??" Mata Lea membesar.


"Jangan centil, ingat kamu itu ibu tiga anak." Raymond menggigit pundak Lea gemas.


Meski sudah lama menikah, masih ada rasa cemburu jika istrinya itu mengagumi pria lain.


"Memang ganteng kok, masak aku harus bilang jelek? nikah sama siapa Pak Jevaro?"


"Ibu Kimberly yang punya PT. Sukses Bersama."


"Waahh, acara besar dong. Dua bos besar mau menikah ... eh, tapi waktu mereka datang di acara ulang tahun perusahaan, Bu Kimberly bukannya punya pasangan orang India tuh?"


"Sudah almarhum," jawab Raymond singkat lalu kembali menekuni data di layar laptopnya.


Lea tertegun dan mengucapkan doa dalam hatinya. Lama Lea terdiam masih di atas pangkuan suaminya.


"Kenapa? masih mikirin calon suami orang?" goda Raymond ketika melihat wajah istrinya yang suram.


"Apaan sih," sergah Lea kesal, "Aku masih kepikiran tentang Maura."


"Kenapa Maura?"


"Tadi siang belum waktunya pulang sekolah, dia sudah pulang duluan langsung masuk kamar, nangis terus banting pintu."

__ADS_1


Raymond menghentikan pekerjaannya, ia melepas kacamatanya dan menatap Lea lekat, "Tadi waktu makan malam, sepertinya ga ada apa-apa?"


"Siang tadi, aku suruh keluar makan siang tapi ... dia teriak benci mama," ucap Lea lirih.


"Kamu kenapa baru cerita? kalau aku tau, kita bisa tanyakan tadi waktu makan malam." Raymond segera berdiri dari duduknya.


"Mau kemana?" Lea bingung saat Raymond menariknya, keluar dari ruang kerja.


"Jangan dibiarkan berlarut-larut Lea. Maura sedang masuk usia remaja, rawan kalau kita sebagai orang tua acuh sama permasalahannya." Raymond terus menggiringnya ke lantai dua.


"Tapi dia benci sama aku, Bang," ujar Lea pelan karena sudah sampai di depan pintu kamar putrinya.


"Maka itu, kita harus cari tahu apa masalahnya. Anak remaja itu hanya ingin didengarkan dan dimengerti." Raymond mulai mengetuk pintu kamar Maura, sedangkan Lea bersembunyi di balik tubuh suaminya yang besar.


"Maura, ini Papi."


"Ada apa, Pi?" Tidak butuh waktu lama, Maura membuka pintu kamarnya.


"Papi sama Mama boleh masuk?" Maura melirik ke balik tubuh Papinya. Ia melengos saat tahu ada Mamanya di sana.


Maura berjalan malas masuk kembali ke kamarnya dan duduk di atas ranjang. Pintu kamar di biarkan terbuka, tanda ia mempersilahkan kedua orang tuanya untuk masuk.


Raymond duduk di kursi belajar, sedangkan Lea lebih memilih di ujung ranjang.


"Mama sudah cerita tentang kejadian tadi siang, ada apa Maura? mau cerita sama Mama dan Papi?" tanya Raymond pelan.


Maura melirik Mamanya, nafasnya kembali mendengus diiringi air mata yang kembali merebak.


flashback Maura di sekolah


"Anak-anak, ini hari pertama kalian di bangku SMU. Sebagian besar dari kalian belum saling berkenalan bukan? Dimulai dari ibu ya, nama saya Ibu Sinta, Guru wali kelas kalian satu tahun ke depan." Guru setengah baya itu tersenyum ramah.


"Sekarang satu persatu maju ke depan untuk perkenalan. Sebutkan nama dan ceritakan sedikit tentang keluarga kalian."


Satu persatu siswa maju ke depan kelas, memperkenalkan diri. Saat masih di pertengahan perkenalan, Bu Sinta dipanggil kepala sekolah dan digantikan oleh seorang siswa untuk sementara memimpin perkenalan.


"Perkenalkan nama saya Bintang Maura Anersa. Saya biasa dipanggil Maura." Maura menebar senyum manisnya ke seluruh ruangan kelas.


"Saya tinggal bersama Papi, Mama dan satu kakak laki-laki dan juga satu adik perempuan."


"Saya juga mempunyai dua kakak laki-laki yang tinggal bersama Ayah saya."


"Dan juga satu adik perempuan yang tinggal bersama Papa saya."


Suara tawa yang nyaring terdengar dari kursi pojok deretan paling belakang, "Hahahaha, Ibumu wanita panggilan?? banyak banget lakinya, Wakakakakaaka ...." Cowok itu semakin keras tertawa saat teman-temannya yang lain ikut menertawakan Maura.


Tangan Maura mengepal, wajahnya memerah menahan emosi. Ia melepas sepatunya dan berjalan ke arah anak cowok itu.


"Heii, heei kamu mau apaa??!" seru anak cowok itu, saat Maura memukulnya secara brutal.


Rambut cowok itu ia tarik hingga terjatuh dari kursinya, sebelah tangannya memukul wajah cowok itu dengan sepatunya.


Anak cowok itu tidak membalas, hanya melindungi wajah dan kepalanya dari serangan Maura.


Tidak ada yang melerai, teman-temannya malah menyoraki keduanya.


"BERHENTI ... BERHENTII!!" Bu Sinta dan seorang guru pria masuk ke dalam kelas.


Bu Sinta menarik tubuh Maura yang sudah menghimpit anak cowok itu di bawah tubuhnya.


Flash back selesai


Nafas Maura masih tersengal-sengal, ia bercerita dengan penuh emosi. Lea langsung memeluknya erat, saat tahu apa yang dialami putrinya di sekolah.


"Aku benci Mama!" Maura memukul-mukul punggung Lea.


"Mauraa jangan seperti ini, kamu harus dengarkan dulu." Raymond menahan kepalan tangan Maura agar tidak menyakiti Mamanya.


"Maura percaya sama siapa? temanmu atau Mama?" tanya Lea mengatupkan telapaknya di kedua pipi Maura.


Ia memang belum menceritakan secara detail pada Maura, siapa itu Ayah, Papi dan Papa. Sejak kecil yang Maura tahu ia merasa sangat istimewa, karena menjadi ratu di mata tiga pria dewasa yang menyayanginya.


Maura tidak berusaha mencari tahu cerita di balik itu, karena baginya hidupnya sudah sangat sempurna.

__ADS_1


Namun saat putrinya beranjak remaja, mau tidak mau Lea harus menceritakan hal yang sebenarnya. Walaupun itu harus membuka luka yang sudah ia kubur dalam-dalam.


"Mama malam ini boleh tidur sama Maura? Mama janji akan ceritakan semuanya, kamu sudah besar dan berhak tahu." Maura mengangguk.


Hampir separuh malam ibu dan anak yang beranjak remaja itu, menghabiskan waktu dengan saling bercerita dan menumpahkan semua rasa.


Tidak ada yang ditutupi lagi oleh Lea, termasuk perasaannya. Awal yang menyakitkan dan berakhir dengan kebahagiaan. Ia harus memastikan tidak ada rasa benci di hati putrinya, pada Ayah juga Papanya. Setelah di rasa cukup, mereka tertidur saling memeluk satu sama lain.


...❤...


"Kamu yakin?" tanya Raymond pada Lea. Pagi ini mereka akan pergi ke sekolah Maura. Pihak sekolah sudah memanggil orang tua anak cowok itu, dan akan mempertemukan mereka.


"Yakin, seperti yang kamu bilang masalah itu jangan dibiarkan berlarut-larut."


"Paling bisa kalo putar omongan." Raymond mencubit hidung Lea gemas.


Mereka bertiga masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Di sana sudah duduk anak cowok itu, dan seorang pria dewasa.


"Selamat pagi, Bapak dan Ibu. Maaf mengganggu waktunya, sebelumnya kita tahu anak-anak kita kemarin terlibat perselisihan. Kami dari pihak sekolah ingin menjadi mediasi agar orang tua dan anak-anak kembali berdamai." papar Kepala Sekolah.


"Selamat pagi juga, Pak. Mohon maaf sebelumnya, orang tua Kendra tidak bisa datang. Beliau ada pertemuan penting di kantornya, saya sebagai walinya," ucap pria dewasa yang di kira Ayah anak cowok itu.


"Ow, Bapak siapanya?" tanya Kepala Sekolah.


"Saya ... supirnya."


Maura melirik anak cowok yang duduk di sampingnya. Anak cowok yang ternyata bernama Kendra itu, menunduk dan mengeratkan rahangnya.


Maura sedikit bergidik saat melihat aura kemarahan dari wajah Kendra. Alis mata yang tebal, semakin menambah garang wajahnya. Namun saat kemarin Maura menghajarnya, Kendra tidak membalasnya sedikitpun.


"Ow, maaf kalau begitu. Bapak boleh kembali, tolong disampaikan pada orang tua Kendra ya, Pak." Bapak Kepala Sekolah mempersilahkan supir Kendra untuk keluar ruangan.


"Kendra," panggil Kepala Sekolah, "Ini orang tua Maura, kamu minta maaf dulu sama mereka," perintah Kepala Sekolah.


Kendra berdiri lalu membungkukan badannya di hadapan Lea dan Raymond, "Saya minta maaf, sudah bicara yang kurang pantas." Lea dan Raymond mengangguk dan tersenyum melihat sikap sopan Kendra.


"Aku minta maaf." Kendra mengulurkan tangan ke arah Maura.


Sejenak Maura membiarkan tangan Kendra melayang di udara. Ia melihat luka cakaran kukunya, masih jelas di pipi dan lengan Kendra.


"Aku juga minta maaf," ucap Maura. Ia menyambut tangan Kendra.


Tangan mereka bertaut dan saling menggenggam erat. Sudut bibir Kendra tertarik sedikit ke atas.


...❤❤...


Mau buat cerita baru tentang Maura dan Kendra, tapi belum ada ide. Ditabung di sini dulu ya


Bonchap Lukman-Karenina, Gilang-Kinanti antri dulu ya


Cerita tentang kawan lama Raymond, Jevaro dan Kimberly ada di novel Find the Perfect Love yuk ikutin




follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰

__ADS_1


__ADS_2