
"Leaa," Beni berusaha mendekati Lea.
"PERGIII!!!" Lea semakin histeris, ia menutup telinga serta matanya saat Beni berusaha mendekatinya.
"Mamaa Mauraaaaa ..." William ikut menangis ketakutan, ia memeluk Lea semakin erat.
Devi ingin mengambil Maura dari gendongan Alexander, tapi kalah cepat dengan Raymond yang sudah terlebih dahulu.
"Sebaiknya Bapak dan Ibu pulang dulu, keadaan saat ini sedang tidak memungkinkan," usir Raymond masih berusaha sedikit sopan.
"Pak Raymond----"
"SAYA MOHON PAK!, ... Bapak pulang dulu nanti saya kabari selanjutnya." Raymond mengulurkan tangannya ke arah pintu keluar.
"Maaf, ... saya tunggu kabar baiknya. Saya harap kamu mengerti Lea," ucap Beni pelan.
...đšī¸...
"Minum." Raymond menyodorkan segelas es jeruk pada Lea.
"Saya masih belum boleh tahu apa yang sudah terjadi?" Raymond duduk di hadapan Lea, memandangnya dengan lekat.
"Saya mohon maaf, saya sudah menyusahkan dan buat keributan di rumah Bapak ... saya pamit pulang dulu." Lea menaruh gelas dan hendak bangkit berdiri.
"Duduk!!" seru Raymond, wajahnya sudah mulai mengeras.
"Kamu ribut di rumah saya, setidaknya jangan buat saya seperti orang bodoh yang ga tau apa-apa."
"Maura anakmu dengan Pak Beni?" lanjut Raymond. Lea hanya mengangguk kecil tidak ada niat untuk menjelaskan.
"Kamu istri ... kedua atau ...." Lea menggeleng cepat, duduknya sudah resah tidak tenang.
Melihat itu Raymond mengganti pertanyaannya, karena merasa apa yang ia tanyakan membuat Lea tidak nyaman.
"Apa rencanamu selanjutnya?, saya ga yakin mereka akan diam saja. Bu Devi sangat menginginkan Maura. Posisimu lemah Lea, kamu orangtua tunggal dengan pendapatan minim sedangkan ayah kandung Maura hidupnya berkelimpahan. Jika mereka menuntut hak asuh atas Maura ... kamu kalah," jelas Raymond.
"Bapak ... bisa bantu saya?" tanya Lea penuh harap.
"Apa yang bisa saya bantu untuk kamu," sahut Raymond lunak. Hatinya membesar baru ini ia merasa dibutuhkan oleh Lea.
"Bapak bisa naikan gaji saya?," cicit Lea ragu. Mata Raymond menyipit, dan senyuman lebar di wajahnya surut seketika mendengar permintaan Lea yang jauh dari dugaannya.
"Setidaknya kalau saya bisa memberikan Maura hidup layak, Pak Beni tidak akan menekan saya," lanjut Lea bersemangat.
"Maaf, kalau untuk itu tidak bisa." Raymond mendengus kesal. Bahu Lea kembali merosot kecewa.
"Kamu mau hubungi siapa?" tanya Raymond curiga melihat Lea mengetik sesuatu pada ponselnya.
"Kak Erik." Lea mengangkat wajahnya sekilas, lalu kembali fokus pada ponsel.
Mendengar nama Erik disebut dada Raymond memanas, "Memangnya apa yang bisa dilakukan mantan suamimu itu," cibir Raymond.
Sejak pertama kali bertemu dengan Erik saat mengantar pulang Maura, Raymond sudah kesal dengan pria itu karena dituding sebagai pebinor.
"Seharusnya kemarin saya jangan terlalu cepat ambil keputusan berpisah," ucap Lea menerawang.
"Jadi sekarang kamu menyesal?, mau rujuk gitu?" sahut Raymond sinis.
"Mungkin ...." ucap Lea lirih. Raymond membelalakan matanya, otaknya berputar dengan cepat.
__ADS_1
Bisa dipastikan Erik setuju jika Lea minta rujuk.
"Saya punya penawaran," sahut Raymond cepat.
"Lihat ...." Raymond menunjuk ke arah taman belakang. William dan Maura sedang bermain ditemani oleh Mbok Nah, kedua bocah itu terlihat sudah lupa dengan keributan yang baru saja terjadi.
"Jika ingin mempertahankan Maura, kamu membutuhkan jaminan kedua orangtua yang lengkap. William, membutuhkan Maura." Raymond melirik Lea ingin tahu reaksinya.
Lea masih terdiam tanpa reaksi berlebihan masih menunggu kalimat lanjutan dari Raymond.
"Bagaimana jika kita saling melengkapi?" lanjut Raymond. Lea masih belum mengerti, ia hanya mengerutkan keningnya dalam.
Otaknya sudah susah diajak berpikir gara-gara kejadian tadi.
Raymond menarik nafas kesal, "Kita menikah," ucap Raymond cepat.
Wajahnya sudah memerah menahan malu.
Mulut Lea terbuka lebar, sedetik kemudian ia sadar dan akan membalas dengan kalimat penolakan.
Raymond yang melihat respon kurang baik dari Lea, sebelum ada kalimat yang terucap dari mulut wanita itu ia langsung memotong, "Demi anak-anak." Pandangannya sengaja di arahkan ke taman belakang seakan mengamati William dan Maura dengan tatapan haru.
Lea mengikuti arah pandangan Raymond, ia melihat Maura sangat nyaman bersama William. Putra Raymond pun sangat bahagia dan tampak dewasa menjaga Maura.
"Tapi ...."
"Atau mungkin kamu memang rencana mau kembali rujuk dengan mantan suamimu, yaah ... itu memang hakmu." Raymond mengangkat bahunya berlagak tak peduli.
"Hehhee ... belum setengah tahun kamu gugat cerai, sekarang kamu sendiri yang minta rujuk." Raymond tertawa meledek Lea untuk menjatuhkan mentalnya.
Menikah?, dengan pria mulut pedas ini? Pernikahan bukan untuk main-main, cukup sudah menikah tanpa persiapan dan perasaan dengan Erik dulu, dan akhirnya berakhir dengan kegagalan.
Jika kembali dengan Erik, benar kata Raymond mau ditaruh di mana muka ini.
Apa harus sekali lagi ia memanfaatkan perasaan Erik?, lalu bagaimana dengan Ghea?
Tidak ada pilihan yang lebih baik.
Tiba-tiba merasa sangat lelah sekali, ia merasa hidupnya seperti dipermainkan oleh nasib yang buruk.
"Saya pulang dulu pak," Lea bangkit dari duduknya.
"Bagaimana penawaran saya tadi?" Raymond mengerutkan kening. Ia merasa harga dirinya terjun bebas karena ajakan menikahnya tidak dianggap oleh Lea.
Padahal ajakan menikah ini sudah lama di damba, oleh barisan model atau SPG yang sejak dulu memujanya.
"Nanti saya pikirkan lagi," sahut Lea tak peduli.
"Hutangmu lunas," cetus Raymond cepat. Lea memandangnya bingung.
"Jika kamu menerima penawaran saya tadi, semua hutangmu saya anggap lunas ... hutang bayar makan, hutang tissue ..."
"Hutang sama Kinanti juga lunas?" tanya Lea.
"Hutang apa lagi kamu sama Kinanti, lalu apa urusannya dengan saya?" sahut Raymond heran.
"Saya sama Kinanti dibelanjakan baju, sepatu dan tas untuk kerja ... kan Bapak yang nyuruh."
"Yaaaa, termasuk itu juga." Raymond memutar matanya kesal.
__ADS_1
"Deal?" Raymond mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Lea masih terdiam melihat tangan Raymond yang terulur, "Demi anak-anak." Raymond mengarahkan kepalanya ke William dan Maura yang sedang bermain.
Ia tahu, Lea sangat lemah jika terkait dengan anak-anak.
Perlahan Lea mengangkat tangannya, namun masih ragu untuk berjabat tangan, dengan tidak sabar Raymond menarik tangan Lea untuk bersalaman, "DEAL, kita menikah."
"Demi anak-anak," sambung Lea pelan
"Yaa, demi anak-anak." Raymond mengangguk mantap.
"Baiklah kita harus gerak cepat. Sekarang kamu saya antar pulang, lalu segera siapkan berkasmu secepatnya untuk mendaftarkan pernikahan kita." Raymond dengan sigap mengambil kontak mobil dan siap berangkat.
Lea memandang bosnya bingung, yang tadinya terlihat santai dan tidak bersemangat berubah dalam sekejap.
...đšī¸...
Seminggu kemudian Lukman sudah tampak duduk manis di depan meja kerja Raymond.
Ia segera datang setelah menerima pesan singkat berisi undangan pernikahan antara Raymond dan Lea.
Awalnya saat menerima pesan singkat itu, ia tidak percaya dengan nama yang tercantum di dalam foto undangan itu.
Lukman sampai memperbesar tampilan undangan merah itu hingga huruf per hurufnya terlihat sangat jelas.
Tapi begitu ia menerima informasi dari Nina barulah ia percaya.
"Apa ini?" Lukman menunjukan foto undangan pernikahan di ponselnya.
"Masak sekelas dokter kamu ga tau itu apa," sahut Raymond sambil berpura-pura sibuk di balik laptopnya.
"Kamu? ... menikah? ... dengan Lea??"
"Memangnya kenapa?, kita sama-sama single, dia wanita dan aku pria."
"Saling mencintai?" selidik Lukman.
"Bisa diatur, ... lebih tepatnya saling membutuhkan. Take and give."
"Sudah lama kamu itu tertarik sama Lea," ejek Lukman.
"Heeiii ... yang ada aku itu membantu dia, apa salahnya membantu karyawan yang punya masalah. Aku hanya kasihan melihat Maura." sahut Raymond masih menjaga gengsi.
"Haahh!!, lalu kenapa saat Susan, Anita dan Bianca mengalami hal yang sama kamu ga kawinin mereka sekalian?"
Saat ingin membalas perkataan Lukman, ponsel Raymond berdering "Sekarang?, baik kami segera ke sana. Terima kasih." Senyum lebar tercetak di wajahnya saat menutup telepon.
"Maaf, aku tinggal dulu. Kami mau fiitting baju untuk akad." Raymond menepuk bahu Lukman dengan ceria lalu bergegas keluar tanpa menoleh lagi.
...â¤â¤...
Sudah terima belum undangan nikahnya Abang Raymond dan Lea?
Mau pakai baju apa nanti? đ¤
Abang Raymond dan Lea ga minta banyak2, angpao pernikahannya cukup jempolnya reader aja untuk Like, komen, rating, vote dan favorite seikhlasnya đđđĨ°đ¤
Btw yang baca disini suka malam pertama yang hot atau biasa aja, saya lagi bingung merangkai kata untuk adegan itu takut ada bocil yang ikutan baca đ¤Ē
__ADS_1