Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Mama tiga anak


__ADS_3

"Selamat siang, Om, Tante," sapa Nina, Lukman, Gilang dan Kinanti bergantian.


"Selamat siang. Kalian sudah makan?" tanya Mama Raymond pada ke empat anak muda yang tersenyum ramah dihadapannya itu.


"Sudah sih, tapi kalo di paksa makan lagi, kami terpaksa ga bisa nolak," cetus Gilang. Matanya melirik ke arah meja, yang di atasnya berjajar kotak berisi berbagai jenis makanan.


"Malu-maluin," bisik Kinanti seraya mencubit pinggang Gilang gemas.


"Tante ga bakalan maksa, kalo mau makan ambil aja sendiri, ya," ucap Mama Raymond maklum. Ia sudah terbiasa dengan tingkah Gilang dan Lukman.


"Siap Tante, makasih. Nanti di bungkus bawa pulang aja," sahut Gilang santai.


"Mas!" Kinanti melotot malu.


"Ga pa pa, Kin. Sudah biasa. Mereka berdua dari jaman masih kuliah, sudah Mama anggap anak sendiri. Apalagi Gilang tuh, kalo nanti jadi istrinya, kamu harus punya banyak stok muka cadangan. Sering malu-maluin emang dia," jelas Mama Raymond seraya mengusap-usap lengan Kinanti.


Kinanti tersenyum pasrah, namun matanya masih menatap Gilang kesal.


"Hai Mahmud tiga anak, selamat ya," sapa Nina sambil mengecup pipi kanan kiri Lea.


"Selamat ya, sayang. Kamu keren sekali," ucap Kinanti seraya menyerahkan sekotak hampers.


"Selamat Ibu Bos," ucap Gilang dan Lukman bergantian.


"Siapa namanya?" tanya Nina yang sedang memeluk Maura.


"Bintang Kanaya Putri Sanjaya." Raymond yang menjawab dengan bangga.


"Waahh, cantik namanya milip nama Maulaa yaaa." Kinanti mencubit pipi bulat Maura.


"Mirip Lea ya," bisik Kinanti pada Nina.


"Ya, mirip mamanya," sahut Nina


"Bener, untung wajahnya mirip mamanya," timpal Lukman pelan. Raymond yang sedang berbincang dengan Mamanya, berjalan mendekat dengan kening terlipat.


"Kalo wajah mirip mamanya, bisa jadi sifatnya yang mirip papinya. Lebih gawat itu," celetuk Gilang.


"Ah, iya bener. Jauh lebih baik kalau wajah mirip papinya, sifat mirip Lea." Lukman menimpali. Ketiga kawannya yang mengelilingi ranjang Lea, mengangguk-angguk setuju.


Lea melihat suaminya berjalan mendekat, berdehem memberi kode pada keempat orang di hadapannya, agar menghentikan pembicaraan yang dapat memancing emosi suaminya.


"Kalian kapan pulang?" tanya Raymond.


"Baru juga datang kita ini, belum puas lihat baby Kanaya," ucap Lukman.


"Tapi anakku sudah bosan lihat kalian," sahut Raymond tega.


"Baanng," panggil Lea memperingatkan, ketika kalimat ketus suaminya sudah mulai keluar.

__ADS_1


"Kalian berdua juga, bukannya ini masih jam kerja? kenapa malah ada di sini?" Raymond menunjuk ke arah Gilang dan Kinanti.


"Menjenguk pewaris perusahaan yang baru saja lahir, merupakan salah satu bentuk loyalitas kami, Bos," kelit Gilang.


"Alasan, potong gaji!"


"Bang!" seru Lea kesal.


"Ray, kamu duduk sini aja. Biarkan istrimu sama teman-temannya ngobrol dulu," panggil Papa seraya menepuk kursi di sebelahnya.


"Hhhh." Raymond menjatuhkan tubuhnya di sebelah Papanya. Matanya masih menatap kesal ke arah empat temannya yang masih asyik tertawa, seakan tidak peduli dengan kemarahannya tadi.


William mengikuti langkah Papinya lalu ikut duduk di pangkuan Raymond.


"Gimana rasanya kembali jadi seorang suami, dan orang tua dengan tiga anak?" tanya Papa seraya tersenyum menggoda.


Raymond tersenyum lebar, ia melihat istrinya dan kedua putrinya yang di kelilingi oleh ke empat temannya, lalu ia melihat ke arah William yang mengantuk di pangkuannya.


"Terasa lengkap," jawabnya singkat.


Papa terkekeh seraya menepuk bahunya, "Jaga baik-baik keluargamu. Nahkoda kapal rumah tangga ada di tanganmu. Kamu yang menentukan tujuan, istrimu yang membantu melihat arah mata angin, jadi kalian harus saling bekerjasama."


"Sudah jadi orangtua dengan tiga anak, harus jauh lebih bijak dan sabar, Ray," Mama menimpali.


"Jangan terlalu cepat emosi. Pernikahan itu bukan soal usia, tapi tentang menemukan orang yang tepat untuk menemanimu di dunia, dan Lea istri yang tepat buatmu. Meski usia kalian terpaut cukup jauh, dia mampu mengimbangi sikap bar-barmu," tambah Mama.


"Lalu kalian baik-baik saja?, istrimu melahirkan lebih cepat dari jadwal, bukan karena kalian bersitegang kan?"


"Oww, bukan. Kami baik-baik saja dan Lea menghadapi Dea dengan sangat baik."


"Syukurlah, ada kalanya kita harus tegas tapi ada kalanya juga kita harus pakai hati. Dea memang bukan istrimu lagi, tapi dia ibu yang melahirkan anakmu." Papa membelai rambut William yang sudah tertidur di pelukan Raymond.


"Ray, kami pamit pulang dulu," pamit Lukman mewakili teman-temannya.


"Akhirnyaaa," ucap Raymond lega.


"Gilang, ini Tante sudah bungkusin rendang buat kamu." Mama Raymond menyodorkan satu kotak penuh berisi rendang.


"Waah, makasih Tante. Ga salah aku milih teman macam Raymond, punya Mama yang baik seperti ini." Gilang menerima kotak makan lalu mengecup tangan Mama Raymond.


"Makanya cepet nikah, biar ada yang ngurusin," celetuk Papa.


"Kalian ga kepingin, punya anak yang lucu-lucu seperti Raymond?" timpal Mama.


"Hati-hati, lama ga dipake bisa lengket loh hahahahaa ...." Papa memberi kode pada Gilang dan Lukman lalu tertawa terbahak bersama.


"Ga lengket kok, Om. Sering saya latih, aauuwww." Gilang menggeliat, saat cubitan Kinanti mendarat lagi di pinggangnya.


"Kalian ini ngomong apa sih?, inget umur, Pa!" ucap Mama ketus.

__ADS_1


"Becanda ala laki-laki, Ma."


"Doakan semoga tahun ini, saya dan Nina bisa menikah. Saya sama Gilang lagi adu suit siapa yang menang dia nikah duluan," seloroh Lukman.


"Sebelum terlanjur, kalian berdua pikir baik-baik dulu. Jangan sampai menyesal salah pilih pasangan hidup," ucap Raymond pada Nina dan Kinanti.


"Bu Lea menyesal?" tanya Gilang pada Lea.


"Ya gak dong. Suamiku ini yang terbaik." Lea bergelayut manja pada lengan Raymond.


"Berarti sudah bisa dipastikan calon pasangan kami berdua tidak akan menyesal juga, karena kami berdua masih jauh lebih baik darimu, Ray." Lukman tersenyum penuh kemenangan.


"Baik, kami pamit dulu," Gilang segera mengulurkan tangan berpamitan dengan kedua orang tua Raymond, sebelum bosnya itu menimpali perkataan Lukman dengan kalimat yang lebih menyakitkan.


...❤...


"Nduk, minum dulu ini." Mama menyodorkan segelas berisi cairan berwarna kuning tua yang kental.


Lea mengernyit ngeri melihat kentalnya cairan yang beraroma khas itu. "Jamu?" tanyanya.


"Iya, Mama tau kamu sudah ada obat dan vitamin dari dokter, tapi ga ada salahnya juga sambil konsumsi jamu tradisional. Ini bagus untuk ibu selepas bersalin, supaya badan lebih segar, rahim cepat bersih, ASI juga lebih lancar," jelas Mama.


Lea meraih gelas itu lalu meminumnya perlahan.


"Bauu." Lea menutup mulutnya menahan cairan yang sudah sempat masuk agar tidak kembali keluar.


...❤❤...


follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Mampir ke karya teman aku ya, ramaikan di sana 🙏🤗


__ADS_1


__ADS_2