
Perlahan Erik memutar kepalanya, melihat apa yang membuat Ghea memucat wajahnya.
Nina berdiri jarak lima langkah dari mereka berdua, ia baru saja keluar dari ruang rapat.
"Oh ... heeii lagi ngapain nih, mau pakai meeting room?. Yaah, tapi kami sudah duluan booking nih, baru saja aku siapkan. Tapi cuman sebentar kok," ujar Nina tenang.
Ghea dan Erik hanya menggeleng dengan gugup.
"Ya sudah kalau gitu, aku balik ke ruangan dulu ya ... byee." Nina berbalik sambil melambaikan tangannya.
Erik dan Ghea kembali terdiam berdua, sama-sama memikirkan apakah pembicaraan mereka terdengar oleh Nina?
Terutama Erik, setelah semalam Nina memandangnya denga curiga sekarang ia terpergok bersama Ghea di sudut lorong yang sepi dan hanya berdua.
Ghea berlalu dari hadapan Erik tanpa berbicara sedikitpun.
"Gheaa ...." Erik kembali mengejar berusaha untuk menghentikannya.
Ghea berbalik badan dengan cepat, "Apa lagi Rik?, kamu mau apa?, kamu mau semua orang di kantor ini menuding aku sebagai seorang perebut suami orang?" Ghea berkata penuh dengan tekanan namun dengan suara yang pelan, lalu kembali berjalan menjauh.
Erik tidak berusaha mengejar lagi, ia terdiam terpekur memikirkan apa yang baru saja dikatakan Ghea. Iya, apa yang sebenarnya dia inginkan dari Ghea?. Seharusnya Ghea lah yang marah dan menuntut dia, tapi yang terjadi malah sebaliknya.
Sore harinya menjelang pulang kantor, semuanya terlihat sudah bersiap untuk bersama-sama menuju rumah sakit tempat Ghea dirawat.
Semuanya ikut tanpa terkecuali, termasuk Ghea.
Mata Lea berbinar melihat semua rekan kerja suaminya datang menjenguknya.
Baru kali ini ia punya kesempatan bertemu langsung setelah hampir lebih dari setengah tahun Erik bekerja.
"Selamat ya Bu Lea, atas kelahiran putrinya," Pak Danu selaku pimpinan membuka pembicaraan. "Maaf nih kami ramai-ramai datang semoga tidak mengganggu."
"Tidak apa-apa pak, saya justru senang sekali bisa bertemu teman-teman suami saya. Biasanya cuman kebagian ceritanya aja," sahut Lea sambil tersenyum lebar.
Erik mulai memperkenalkan satu persatu rekannya, "Lea, kenalkan ini Pak Danu manager department kita, lalu ini Pak Rustam yang paling senior di antara kita." Pak Danu dan Pak Rustam mengangguk dengan sopan.
"Yang duduk berdua itu Febri dan Ardian." Dua pasang sejoli itu membalas dengan lambaian tangan.
__ADS_1
"Ini Dio yang paling ribut, tapi kalau dia ga ada ruangan sepi seperti kuburan." Semua terkekeh saat Dio memberikan kecupan jauh pada Lea yang langsung mendapatkan cubitan kecil dari Masha pada pinggangnya.
"Yang lagi cemberut itu namanya Masha, bilangnya ga suka sama Dio tapi cemburu kalau Dio dekat cewek lain." Dio yang mendengarnya langsung tersenyum pongah dan mengangguk penuh semangat.
"Lalu ini ...." Matanya berhenti pada Ghea yang berdiri sedikit jauh di belakang yang lain, menatapnya dengan sorot sendu.
"... Namanya Ghea, kepala team design kami." Tercekat suara Erik saat memperkenalkan Ghea pada Lea.
Lea memberikan senyuman termanisnya pada tiap orang yang diperkenalkan suaminya, termasuk juga Ghea.
Selanjutnya suara riuh canda tawa terdengar dalam ruangan.
Pak Rustam dan Pak Danu berbincang sedikit serius di pojok ruangan. Para pria yang jauh lebih muda termasuk Erik, bercanda saling menggoda satu sama lain. Febri dan Masha memilih mendengarkan Lea bercerita tentang kehamilan dan proses melahirkan, sedangkan Ghea duduk diam di samping pembaringan bayi.
Sesekali Erik melirik pada Ghea yang masih berdiam diri melihat anaknya yang tertidur. Ada perasaan tidak nyaman melihat dua wanita yang punya cerita khusus dengannya berada dalam satu ruangan.
Beginikah rasanya mendua?, seperti inikah rasanya bermain api?
Erik tidak menyangka sama sekali, ia akan terjebak dalam cerita rumit yang sering ia dengar dari film maupun berita.
Sambil memberi salam, mengangguk dan tersenyum Nina melangkah mendekati ranjang Lea.
"Gosipin apa nih tante-tante," tanya Nina menggoda Febri dan Masha.
"Nih, Febri sudah kepingin punya baby katanya ... minta segera di halalin," teriak Masha sedikit lantang yang ditujukan pada Ardi.
"Apaan sih, kamu tuh yang dari tadi semangat banget tanya sama Lea. Sakit mana malam pertama atau melahirkan, pakai posisi apa biar langsung cepat isi?" elak Febri dengan wajah memerah, Ardi hanya tersenyum simpul penuh arti.
"Sabar ya sayangku Masha, abang pasti segera melamar tunggu tabungan abang terisi lagi ya. Bulan lalu berkurang habis bayar cicilan motor." Dio yang menyahut.
"Diiiihhh ... siapa juga yang mau dilamar situ. Motor butut aja pakai di cicil lima tahun. Lekas tua aku tunggu situ." Masha mencebik.
"Awas jangan terlalu benci, nanti bisa jatuh cinta sampai bucin loh." Nina tertawa menggoda.
Saat semuanya larut dalam gelak tawa, Erik dan Ghea hanya sesekali menimpali dengan tersenyum tipis.
Hanya mereka berdua yang terlihat tidak nyaman, hal ini menarik perhatian Nina.
__ADS_1
Diam-diam Nina memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. Siang tadi saat di kantor, sebetulnya Nina tidak terlalu mendengar pembicaraan mereka. Hanya keduanya terlihat sedang tidak membicarakan persoalan pekerjaan.
Nina sangat yakin ada sesuatu di antara mereka. Ia melihat Lea yang sedang menggendong bayinya sambil tertawa mendengar candaan teman-teman suaminya.
Hatinya merasa khawatir jika nanti Lea mengetahui Erik sudah mulai berpaling, bagaimana kondisi Lea nanti.
"Sudah kepingin nih ceritanya." Nina mencoba mendekati Ghea yang masih memandangi Maura yang sedang tertidur dalam pelukan Lea.
Ghea hanya tertawa pelan, "Kalau mau ya pastilah, tapi belum ada yang mau jadi bapaknya."
"Banyaklah yang mau sama kamu ... kamunya kali yang pemilih." Nina melanjutkan.
"Kak Ghea belum menikah?" tanya Lea. Ghea menggeleng pelan, sudut matanya melihat Erik mengawasi mereka bertiga berbincang dari jauh.
Ghea mengamati istri Erik, tampilannya sederhana terlampau polos dengan wajah kekanakan.
Lea lebih terlihat seperti mahasiswi yang baru masuk, belum pantas rasanya menggendong bayi.
Ada rasa iri dan cemburu dalam hatinya, memikirkan Erik yang setiap malam seranjang memadu kasih dengan istrinya yang terlihat masih sangat muda.
Ghea menarik nafas panjang mengisi paru-parunya karena dadanya terasa semakin sesak menghimpit, "Saya duluan ya, ada janji," pamit Ghea.
"Sama-sama saja kalau begitu. Kita semua pamit ya, selamat sekali lagi untuk papa dan mama baru Erik dan Lea. Semoga bisa menjadi orang tua yang bijak untuk putri cantiknya ... eh namanya siapa ya?" Pak Danu bertanya pada Erik.
"Bintang Maura Anersa," jawab Erik bangga.
"Artinya apa tuh," tanya Febri antusias.
"Kalau bintang dari nama saya Bintang Amalea, Maura nya dari nama tokoh film yang di suka kak Erik, kalau anersa katanya dari ... anak erik saputra." Suara riuh tertawa menggoda bersahutan saat Lea mengakhiri penjelasannya.
Hanya Ghea yang semakin terlihat muram wajahnya. Nina memperhatikan perubahan wajah Ghea lalu menepuk bahunya pelan, "Kenapa?" Ghea terkejut dan langsung menggeleng gugup.
...❤❤...
Jangan lupa like, komen dan votenya 😘
Siapa nih yang mau Erik tetap sama Lea? atau lebih suka Erik sama Ghea saja?
__ADS_1