
"Kita mau ke mana sekarang?" Raymond masih mengikuti langkah Lukman yang entah menuju ke arah mana.
"Ruang perawatan, tadi perawat sudah info kamar yang akan digunakan Lea."
"Ada masalah apa dengan wanita itu sampai dia harus konsultasi di tempatmu?" lanjut Raymond saat mereka sudah sampai di lorong ruang perawatan.
"Seorang dokter yang baik tidak akan membocorkan masalah pasiennya ... maaf." Lukman menyodorkan telapak tangannya tanda penolakan, tepat di hadapan wajah Raymond.
"Gombal, kau lupa aku suaminya di catatan rumah sakit ini?" Raymond menepis telapak tangan Lukman.
"Kau bilang tadi ... apa peduliku kenal saja tidak ... rupanya keponya tinggi juga." Lukman menirukan gaya Raymond saat mengatakan hal itu.
Lukman tertawa mengejek melihat raut wajah Raymond yang semakin masam.
Dari arah ujung lorong terdengar suara kursi roda menggesek lantai. Tampak Lea duduk dengan sedikit bersandar lemas didorong oleh seorang perawat wanita.
Lukman berjalan di belakang perawat yang mendorong kursi roda Lea diikuti Raymond masih dengan wajah tertekuk.
Raymond berdiri dengan gelisah menanti Lea dibaringkan dengan perlahan oleh perawat.
Begitu perawat yang membantu pergi setelah meninggalkan pesan-pesan singkatnya pada Lea, Raymond langsung mendekat mendahului Lukman.
"Cepat hubungi suamimu, kami tidak bisa menunggu terlalu lama disini." Lukman membesarkan matanya melihat Raymond yang berbicara dengan nada ketus dan wajah yang tidak ramah pada Lea.
"Bagaimana keadaanmu Lea?" Lukman berbicara dengan lembut.
"Baik dok, saya minta maaf sudah merepotkan."
"Tidak apa-apa, sekarang kamu bisa hubungi suamimu biar segera kemari."
Lea mengambil handphone-nya di dalam tas, lalu menghubungi Erik. Namun Erik tidak mengangkat panggilannya meski Lea sudah mengulanginya hingga lebih dari sepuluh kali.
Wajah Lea sudah semakin pias karena merasa tidak nyaman dengan tatapan Raymond yang semakin menusuk. Ditambah dengan kondisinya yang masih lemah sehabis melahirkan.
"Ada apa Lea?" tanya Lukman yang menyadari perubahan wajah Lea.
Lea hanya menggeleng lemah lalu beralih menghubungi Karenina temannya.
"Halo Nin."
"Ya Leaaa, ada apa?" sahut pemilik suara di seberang sana dengan ceria.
"Nin ... aku sudah melahirkan." Hening tanpa suara di ujung telepon sana, "Ninaa ..."
__ADS_1
"Aku kesana sekarang ... eehh kamu di mana sekarang?" Lea menyebutkan nama rumah sakit dan ruangan tempat ia dirawat.
"Nin, kalau ketemu kak Erik tolong kasih tahu ya. Aku sudah hubungi dari tadi tapi dia tidak angkat teleponnya, mungkin lagi sibuk."
"Loh?, tapi ... mmm, oke nanti kalau ketemu pasti langsung aku ajak ke rumah sakit ya."
Nina menutup teleponnya dengan perasaan bingung. Apa Lea tidak sadar jika saat ini jam kerja sudah berakhir?
Saat pulang kerja tadi ia dan Erik bersama temannya yang lain ada dalam satu lift, dan itu tepat waktu jam pulang kerja. Sudah dipastikan seharusnya saat ini Erik sudah berada di rumah.
Kurang dari tiga puluh menit, Nina sudah sampai di ruang perawatan Lea.
Tampak Lea sedang berbaring dan di sisinya ada seorang bayi mungil terbungkus kain sedang tertidur lelap.
"Leaaa." Nina mendekat sambil memanggil dengan berbisik.
"Kamu kok sudah melahirkan, Erik belum datang?" Nina bertanya sambil jarinya terus mengelus pipi bayi.
"Kamu suaminya?!" Nina terkejut mendengar ada suara pria asing ada dalam ruangan.
"Eehh??" Nina memandang aneh pada pria yang berjalan mendekat. Apa ia tidak melihat dengan jelas kalau di hadapannya ini seorang wanita?
Lukman yang mendengar pertanyaan konyol Raymond pada Nina hanya mendesah kesal. Ia pun juga menahan kesal, karena sejak tadi mulut Raymond terus menggerutu tidak jelas.
"Suami saya belum bisa dihubungi, ini sahabat saya. Kalau suami saya sudah datang, saya pasti segera menghubungi dokter Lukman untuk mengganti biaya persalinan"
"Biar saya yang bicara," Lukman segera memotong perkataan Raymond sebelum ia berkata sesuatu yang memalukan.
"Kami menunggu suamimu bukan untuk meminta ganti biaya persalinan, tapi karena kami yang bawa kamu kesini jadi kami juga yang harus bertanggung jawab menjelaskan perihal kenapa kamu bisa melahirkan di luar perkiraan waktu dokter," lanjut Lukman bijak.
"Kita bisa balik sekarang?" seru Raymond tak sabar.
"Saya pamit dulu ya Lea, kamu jaga kondisi kesehatan dan juga bayimu. Masih ingat apa yang saya bilang tadi siang?" Lea mengangguk tersenyum.
Lukman berjalan keluar kamar diikuti Nina yang penasaran siapa kedua pria ini.
"Terima kasih eeem ..."
"Panggil saja Lukman dan ini Raymond teman saya."
"Iya, Pak Lukman dan Pak Raymond. Terima kasih sudah mengantar dan menjaga teman saya." Nina menunduk sopan. "Bapak ketemu Nina di mana ya?"
"Temanmu itu pasiennya." Raymond menepuk bahu Lukman, dan langsung mendapat lirikan tajam dari pemilik bahu.
__ADS_1
Lukman sebenarnya tidak mau memberitahukan siapapun terkait kondisi pasiennya, karena hal itu sesuatu yang privacy apalagi tentang kondisi mental seseorang. Namun mulut kunyuk di sebelahnya susah sekali di rem.
"Pasien??, Pak Lukman dokter kandungan?"
"Dia psikiater" lanjut Raymond dengan tersenyum bangga. Lagi-lagi Lukman hanya menarik nafas panjang dengan kesal.
"Psikiater??" Dahi Nina berkerut.
"Baiklah, sebaiknya kami pamit dulu." Setelah mengangguk sopan dan tersenyum pada Nina, Lukman segera menarik tangan Raymond sebelum ia mengeluarkan kata-kata berbahaya lagi.
"Kamu jangan sembarangan berbicara." Lukman melampiaskan kekesalannya setelah mereka berada di dalam mobil.
"Sembarangan bagaimana?, kamu kan benar dokter psikiater perempuan itu?. Salahku dimana?" sahut Raymond cuek.
Lukman hanya mendengus kesal, ia tahu berdebat dengan temannya ini adalah perbuatan yang sia-sia.
"Jangan lupa janjimu, bawa mobilku ini ke pencucian mobil. Bau anyir darah seperti ini bisa mengundang kuntilanak tahu ... hiiiihhh." Raymond bergidik.
"Baguslah, bisa kau nikahi itu kuntilanak biar tidak miring lagi otak kau."
"Setan!!" Maki Raymond kesal.
"Sepertinya sudah ada yang mau ikut." Lukman berlagak mengintip ke arah kursi penumpang belakang dengan tatapan misterius.
"Lukmaaaannnn!!! ... dasar dokter gilaa!!" Lukman terbahak senang bisa membalas rasa kesal yang sedari tadi ia tahan saat di rumah sakit.
...đšī¸...
Nina memandang Lea yang sedang menyusui bayinya sambil tersenyum dan bersenandung.
Ada yang ingin ia tanyakan tentang Dokter Lukman, ada juga yang ingin ia sampaikan tentang Erik.
Namun melihat kondisi Lea yang sedang bahagia saat ini, ia memutuskan menahan semua rasa penasarannya.
"Sudah kamu beri nama si cantik ini Lea?" Nina mendekat dan mengelus lembut rambut bayi Lea yang ikal dan lebat.
"Belum. Aku tunggu Kak Erik." Lea memandang Nina sedih.
"Ahh iya, aku coba hubungi lagi ya." Nina menekan panggilan ke nomer Erik sambil melihat jarum jam yang ada di dinding.
Sudah lebih dari jam sepuluh malam, tapi Erik belum menghubungi Lea sama sekali.
Dua kali dering panggilan Nina tidak dijawab, baru pada dering ketiga yang hampir berakhir Erik mengangkat panggilannya.
__ADS_1
"Ha ... haloo." Suara Erik tergagap dan terdengar serak di seberang sana.
...â¤â¤...