
Hari sabtu jam kerja kantor Erik biasa berakhir jam dua siang.
Setelah mengantar Maura ke tempat penitipan anak, Lea sudah bersiap menuju kantor Erik untuk menemui Ghea.
Perdebatan panjang antara dirinya dan Erik beberapa hari yang lalu, perihal inginnya ia menemui Ghea tidak kunjung menemui kesepakatan.
Terpaksa Lea mengambil keputusan sendiri.
Bukannya ia ingin segera pisah dengan Erik, tapi hidupnya tak akan tenang berada di antara dua insan yang memendam cinta.
Erik memang melakukan kesalahan, tapi ia pun sadar juga punya andil dari kesalahan yang Erik perbuat.
Jarum jam sudah bergerak melewati angka dua, satu persatu karyawan keluar dari lift.
Mata Lea mencari - cari sosok Ghea dan Erik di setiap pintu lift yang terbuka.
"Ghea ...." Lea segera menghadang seorang wanita berpenampilan modis yang baru saja keluar dari pintu lift.
Ghea terhenyak ketika tahu siapa yang berada di hadapannya.
"Le ... Lea eh, Erik masih ada di atas sebentar lagi mungkin akan turun."
"Aku di sini mau menemui kamu." Lea memegang lengan Ghea yang akan beranjak pergi.
"Aku?" Lea mengangguk, sementara Ghea bergerak - gerak gelisah tidak nyaman.
"Aku hanya ingin bicara sebentar ... boleh?" Ghea akhirnya menyerah dan mengikuti langkah Lea menuju cafe di seberang jalan.
"Minum apa?" Lea tersenyum ramah, mencoba mencairkan suasana yang tegang.
"Apa saja." Ghea terus berusaha mengalihkan pandangannya tidak mau bersitatap mata dengan Lea.
Sepeninggal pelayan untuk menanyakan pesanan mereka, keduanya terdiam cukup lama.
"Apa yang mau kamu ingin bicarakan Lea?" tanya Ghea akhirnya.
"Aku bingung harus mulai dari mana." Tangan Lea saling meremas dengan gugup.
"Aku ... aku tahu Kak Erik sudah melakukan sesuatu yang tidak pantas sama kamu." Berdesir darah Ghea serasa maling yang baru tertangkap.
"Aku tidak mengerti maksudmu." Ghea tertawa sumbang.
"Kamu pasti paham apa yang aku maksudkan, Kak Erik juga sudah mengakuinya."
Ghea mengerutkan keningnya, menatap heran pada Lea yang memasang wajah biasa saja saat mengatakan hal yang cukup sensitif.
"Kamu mencintai Kak Erik?" Kerutan kening Ghea semakin dalam. Bagaimana bisa seorang istri bertanya pada wanita lain apakah juga mencintai suaminya.
"Kak Erik mencintai kamu." Ghea mendesah tak percaya mendengarnya.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak ada niat untuk merebut suami orang. Kami tidak ada hubungan spesial hanya sebatas rekan kerja ... jika itu yang kamu khawatirkan."
"Tapi benar yang tadi aku katakan ... kalian sudah berhubungan intim?" Ghea mengigit bibirnya, matanya sudah mulai berkaca. Ucapan Lea terasa menghakimi dirinya seakan ia tak lebih dari wanita murahan yang mengincar pria beristri.
"Kamu pantas marah ... aku layak kamu tampar, ludahi, bahkan kutukan pun pantas aku terima," sahut Ghea dengan suara tersendat menahan tangisan.
"Tidak ... tidak jangan bilang seperti itu. Aku bertanya hal itu bukan untuk menghujatmu, aku cuman ingin tahu perasaan kamu sebenarnya pada Kak Erik." Ghea menggeleng keras tidak setuju.
"Tolong katakan sejujurnya Ghea, kamu cinta sama Kak Erik?"
"Tidak!," tegas Ghea.
"Melakukah hubungan intim dalam keadaan sadar ... lalu apa namanya itu kalau jika tanpa landasan apa - apa?" Lea terus mengejar kejujuran Ghea.
"Kamu mau mengatakan aku perempuan murahan??, silahkan ... aku memang wanita murahan yang mau tidur dengan pria beristri." Ghea bangkit dari duduknya, dengan cepat Lea menarik kembali Ghea untuk duduk.
"Kalau kamu mau jujur, aku pun akan jujur ... tolong aku butuh kerjasamamu."
"Baik kamu mau aku jujur?," Ghea menarik nafas panjang lalu melanjutkan, "Aku menyukai suamimu ... aku mencintai Erik, puas kamu??" Ghea menatap kesal pada wanita di hadapannya itu, sedangkan Lea menimpali dengan tersenyum lebar.
"Terima kasih sudah mau terbuka ... kamu sudah dengar sendiri Kak?" Lea menolehkan kepalanya ke arah belakang pilar tempat mereka duduk.
Ghea terkejut melihat sosok yang duduk membelakangi mereka. Erik pun tidak menyangka Lea tahu jika ia sedari awal mengikuti mereka berdua dan mencuri dengar semuanya.
"Mendekat ke sini Kak, jangan sembunyi terus aku sudah tahu dari tadi kakak duduk di sana."
Setengah ragu Erik mendekati meja tempat Lea dan Ghea berada. Ghea terlihat gelisah ingin segera beranjak dari duduknya namun tangan Lea terus memegangnya erat.
"Aku menikah dengan Kak Erik karena ia membantu aku menutup aib ku ... aku hamil karena diperkosa. Kak Erik sangat baik sekali, tapi sayangnya aku tidak bisa menunaikan tugasku sebagai istri dengan sempurna, karena trauma masa lalu ku itu ... hingga sekarang." Ghea termangu mendengar penjelasan Lea.
" ... Kamu yang pertama bagi Kak Erik."
"Lea!," Seru Erik memperingatkan.
"Aku senang jika kamu punya perasaan yang sama dengan Kak Erik, kalian pantas bersama." Lea tetap melanjutkan tanpa menghiraukan tatapan peringatan dari Erik.
"LEA!." Erik semakin kesal. Ia memang ada perasaan pada Ghea, tapi sikap Lea saat ini membuat dirinya seakan tidak punya harga diri.
"Kenapa Kak?, Ghea harus tahu tentang keadaan kita. Aku ga mau jadi penghalang kalian berdua ... tidak ada cinta di antara kita." Ghea hanya terdiam melihat pertikaian sepasang suami istri di hadapannya.
"Kita pulang." Erik berdiri dari duduknya.
"Aku akan pulang jika Kakak berkata sejujurnya di depan Ghea tentang perasaan Kak Erik, seperti yang Kak Erik bilang sama aku beberapa hari yang lalu." Lea menatap tajam ke arah Erik.
"Dia sudah tahu ... urusan kami berdua bukan urusanmu," sahut Erik sedikit ketus.
"Ini juga urusanku, aku masih berstatus resmi istri Kak Erik. Jadi jangan menyembunyikan apapun di belakangku."
"Jika kalian saling mencintai, aku akan mundur." Lea menatap Ghea dan Erik bergantian.
__ADS_1
"Aku mengatakan yang sesungguhnya, kamu tidak perlu merasa bersalah sama aku, Ghea. Karena mungkin di sini aku juga punya andil sehingga kalian melakukan hal itu." Lea menatap lekat pada Ghea.
"Sudah cukup Lea!, kita pulang sekarang," seru Erik kesal.
Lea mengangguk lalu berdiri dari duduknya dan berpamitan pada Ghea. Erik menatap sekilas pada Ghea dan terus berlalu mengikuti langkah Lea keluar dari cafe.
Ghea menatap kepergian Erik dan Lea dengan sedih. Seharusnya ia bahagia mendengar pengakuan Lea, tapi ada perasaan sesak melihat Erik seakan - akan tidak rela Lea melepasnya.
"Maksud kamu apa tadi?!" Erik menyentak tangan Lea agar berbalik menghadapnya.
Setelah dalam perjalanan pulang mereka saling berdiam diri tidak seorang pun mau mengeluarkan suara, begitu memasuki rumah Erik langsung meluapkan kemarahannya.
"Kak Erik sudah tahu maksudku, tidak perlu ditanyakan lagi. Kita sudah pernah membicarakan hal ini."
"Kamu benar - benar ingin pisah dengan aku?, begitu sikapmu setelah aku menolongmu?, kamu ingin membuang aku?" Erik menatap Lea dengan mata nyalang.
"Kenapa jadi hanya aku yang salah di sini?, aku memang juga salah! tapi apa yang Kak Erik perbuat sudah menunjukan sikap yang Kakak pilih."
"Aku gagal jadi istri yang baik, Ghea lebih pantas mendampingi Kakak lagi pula kalian saling mencintai ... lalu apa yang salah?."
"Kamu ingin jadi istri yang baik hah?, sekarang masih ada kesempatan kamu untuk bersikap jadi istri yang baik." Erik mendorong tubuh Lea hingga jatuh ke atas tempat tidur, lalu dengan kasar mel*mat bibir Lea dan merobek semua pakaian yang membalut tubuhnya.
Lea berteriak histeris dan terus meronta, ketakutan masa lalunya kembali mencuat ke permukaan.
Air matanya mengalir semakin deras seiring kesakitan yang dirasa tubuh dan dan hatinya.
Semakin ia memberontak semakin keras dan kasar juga Erik melakukan penyatuan mereka.
"Kaaakkk ... huhuuuu ... tolong jangaaaannn ... saฤทkkiiiitt."
"Istighfar kaakk ... hiiksss ... berhentiiii ... sakkiiiitt Kak Eriiikk aaaakkkhhh ...."
Lea terus merintih dan memohon, tapi Erik sama sekali menulikan telinganya dari jeritan kesakitan Lea. Yang ada dalam hatinya adalah kemarahan dan ego karena sekian lama ditolak oleh Lea.
Setelah beberapa saat Erik terkulai lelah di atas tubuh Lea. Ia menatap wajah istrinya yang terlihat sedikit pucat dan ada beberapa lebam di sudut bibir dan rahangnya.
Erik terkejut melihat hasil perbuatannya pada Lea, ia tidak menyangka telah menyakiti istrinya sedemikian rupa.
Plaaakkk
Lea menampar dengan keras lalu mendorong Erik hingga terguling ke sisi pembaringan lainnya.
"Aku benci kamu!!" Lea menatap Erik penuh dengan kesakitan.
...๐น๏ธ๐น๏ธ๐น๏ธ...
Terima kasih masih setia mengikuti. Yang sudah mendukung dengan likenya thank you very much ๐ฅฐ๐ฅฐ๐๐๐๐
Jangan lupa like komen dan favoritenya ya ๐๐
__ADS_1
Yuk sambil menunggu part selanjutnya, saya mau kenalin satu karya baru lagi dari Camelia Chen