
"Kita mau udahan ato lanjut?" tantang Kinanti saat mereka sudah berada di tempat parkir.
"Ya lanjut dong, Kin. Kok tanyanya gitu sih." Gilang memandang Kinanti cemas.
"Sudah berapa lama kalian di dalam sama cewek-cewek itu?"
"Ba-baru setengah jam."
"Setengah jam berarti 30 menit. Kalau kamu serius mau hubungan kita lanjut, kamu harus bayar kesalahanmu 30 kali lari keliling mobil ini, 30 kali push up dan 30 kali sit up. Ga berat kan untuk kamu, Sayang?"
"Boleh aku kuat kok, tapi di tempat gym aja ya jangan di sini. Malu."
"Sekarang!" seru Kinanti dengan mata membesar.
...❤...
"Nin ... Ninaa. Aku yang nyetir ya?" bujuk Lukman saat mereka berdua dalam perjalanan pulang setelah acara penggerbekan sukses.
Lukman merasa ngeri dengan cara menyetir Nina yang terlihat emosi, dari tadi ia terus berpegangan pada handle di atas pintu mobil.
"Nin, aku minta maaf. Pelan-pelan dong sayang kita belum nikah loh. Kamu minta apa aja aku turuti deh," rayu Lukman dengan wajah memucat saat Nina menerobos lampu merah.
"Benar kamu turuti semua permintaan aku?" tanya Nina dengan senyuman liciknya.
"Iyaa." Lukman melirik waspada.
"Bulan madu sebulan penuh di tiga negara Turki, Perancis, Maladewa."
"Aku ga bisa ninggalin pekerjaan selama itu, Nin," keluh Lukman.
"Iyaaa ... iya bulan madu sebulan penuh!" seru Lukman cepat saat Nina semakin menekan dalam pedal gas mobilnya.
__ADS_1
"Terima kasih cinta," ucap Nina penuh kemenangan.
...❤...
"Yaang ... sayaaang. Jangan diam aja. Kamu marah-marah seperti Nina sama Kinanti aku ga apa-apa kok," kejar Raymond.
Turun dari mobil, Lea berjalan lurus terus masuk ke dalam kamar tidak menghiraukan suaminya yang terus mengikutinya seperti anak bebek.
"Aku capek marah-marah terus. Sudah capek di rumah, ditambah lagi harus marahin Abang. Capek," keluh Lea sedih.
"Maaf, ya Sayang. Kamu tau itu tadi semua cuman main-main aja. Aku cuman mau nyenengin Lukman aja. Kamu juga kenal sama mereka yang ada di dalam. Kita ga ngapa-ngapain kok, ada cctv nya juga," bujuk Raymond.
"Jadi ini semua idenya Abang?" Kalau ada apa-apa dengan hubungan Nina sama Lukman, itu salah Abang."
"Kalo mereka ga jadi nikah, ya berarti ga jodoh," sahut Raymond tak acuh.
Lea menggeram kesal melihat suaminya yang santai tanpa tampak merasa bersalah.
"Mau kemana?" tanya Raymond curiga karena semalam istrinya itu tidak berkata apapun.
"Sudah bangun?" Lea tersenyum lebar, "Hari ini minggu, jadi aku mau hepi-hepi dulu. Shopping! Healing!" tekan Lea.
"Oww oke, anak-anak kok belum siap?" tanya Raymond heran saat melihat Kanaya dan Maura masih bercanda di meja makan.
"Mereka di rumah, tolong jagain ya, Bang." Lea mengecup mesra pipi suaminya.
"Yaa, kamu jalan-jalan aja. Anak-anak aman sama aku di rumah." Raymond tersenyum manis, "Loh, Mbok Nah? ...." Senyum Raymond mendadak surut saat melihat Mbok Nah keluar dari dalam kamar dengan pakaian yang rapi siap berangkat juga.
"Mbok Nah ikut sama aku. Kita mau jalan berdua, ga apa-apa kan, Sayang?" Lea kembali mengecup pipi Raymond.
"Ma-maksudnya aku sendirian??" Mata Raymond membesar.
__ADS_1
"Kamu ga sendirian di rumah. Kan ada Maura sama Kanaya. Nanti siangan William juga sudah balik dari rumah temannya."
Raymond melirik dua bocah yang sudah mengacak-acak isi meja makan.
"Kita berangkat dulu ya, Bang. Oh, ya William ada PR matematika, kalau Maura ada PR meronce dan semua besok dikumpulkan. Anak-anak tolong dibantu ya, Bang. Kanaya belum mandi, tunggu dia BAB pagi dulu, baru dimandikan," pesan Lea sembari tersenyum.
Lea memberi cium jauh pada Raymond yang berdiri mematung di depan pintu.
"Pi ... Papiii." Maura menarik tangannya.
"Kenapa Maura?" Raymond memandang lelah pada meja makan yang sudah tidak berbentuk.
"Adek pup," ujar Maura seraya menutup hidungnya.
"Ooww tidaakk!" seru Raymond seraya menutup wajahnya. Kanaya mulai menangis ketakutan saat melihat Papinya bersuara keras.
"Oww, cup-cup sayang. Papi ga marah, risih ya pan*tatnya. Mandi dulu ya," Raymond mengangkat tubuh putrinya yang sudah berlumuran bubur dari kursi bayi.
"Oke, tenang Ray. Aku harus minta bantuan." Raymond mengirim pesan yang sama pada Lukman dan Gilang untuk datang ke rumahnya pagi ini.
Sedetik kemudian balasan masuk, keduanya meminta maaf karena sedang menjalani hukuman kurungan rumah selama sehari penuh dari pasangan mereka.
SIAL!!
"Papi kasih mandi adek aja, aku sudah besar bisa buat sarapan sendiri," ucap Maura bijak.
Raymond tersenyum lega melihat inisiatif putrinya yang saat itu masih berusia lima tahun. Namun senyuman itu tidak lama, saat Maura tersandung dan jatuh dengan tangan memegang semangkuk susu berisi cereal.
"Leaaaaa ..." Suara tangisan Raymond mengalahkan tangisan Maura dan Kanaya.
...❤❤...
__ADS_1
Lanjut?