Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Ayah


__ADS_3

Dalam waktu singkat Erik dan Raymond sudah sampai di rumah Beni, mereka hampir bersamaan dengan kedua pekerja rumah tangga yang tadi membersihkan rumah Erik.


Dua pekerja rumah tangga itu begitu sampai, langsung masuk terbirit-birit ke dalam rumah.


Saat Erik dan Raymond baru saja masuk ke dalam teras, Beni keluar dari dalam rumah.


"Sila----"


BUUGHHH! ...


Tanpa menunggu Beni menyelesaikan kalimatnya, Raymond langsung melayangkan tinjunya ke rahang Beni.


"DI MANA LEA?" Tidak sekali Raymond menghajar Beni, setiap kali pria itu bangkit berdiri Raymond kembali menjatuhkannya lagi.


"Ray, Ray! Stop ... cukup!" Erik menarik badan Raymond agar menjauh dari Beni yang sudah terlihat kepayahan.


"Hahahahahaa ...." Tanpa diduga Beni tertawa kencang dengan posisi masih dalam keadaan tergeletak di lantai.


"Kalian akrab sekali, hah? Suami dan sang mantan, saling berbagi wanita ceritanya? hahahahahaaa ...." Suara tawa Beni semakin kencang.


"BANGS*AT!!" Kali ini Erik merangsek maju menghajar Beni tanpa ampun.


Beni yang semula hanya pasif diam menerima pukulan, mulai membalas serangan mereka berdua.


Mereka bertiga saling memukul dan memaki, perkelahian yang tidak berimbang antara dua lawan satu membuat Beni semakin kepayahan.


"MAS!" Devi yang baru turun dari mobil, langsung berlari ke halaman dan memeluk suaminya yang wajahnya sudah babak belur.


"PUAS KALIAN?!!" Devi menatap Erik dan Raymond dengan mata nyalang. Keduanya hanya bisa terdiam dan tersadar dari emosi yang tadi telah menguasai mereka berdua.


"Ga apa-apa, aku memang pantas mendapatkan ini." Beni berusaha bangkit dengan susah payah dibantu istrinya.


"Kamu cari istrimu?" Beni mengarahkan kepalanya ke arah mobil Devi yang terparkir di pinggir jalan.


Lea berdiri menatap mereka dengan pandangan antara takut dan marah.


"Lea." Saat Raymond mendekat, Lea menghindari dan berlari masuk ke dalam rumah.


"Lepaskan, Bang!" Lea berusaha melepaskan diri dari rengkuhan suaminya. Saat ia akan mencapai pintu rumah tadi, Raymond berhasil menggapainya.


"Ayo Lea, kita pulang sayang." Raymond bersikeras menahan Lea agar tidak lebih masuk ke dalam rumah.


"Aku ga mau!, Abang kenapa sih ga mulut ga tangan selalu kasar?!"

__ADS_1


"Aku kasar apa sama kamu, Lea?"


"Abang tadi sadar ga sih pas mukul Pak Beni?"


"Oww, dia maksudmu?" Raymond menunjuk Beni yang duduk di bangku teras masih ditemani oleh Devi.


"Dia memang layak untuk dihajar, kalau perlu mampus sekalian," sahut Raymond setengah tertawa.


"JAHAT!" Lea menyentak tangan Raymond hingga terlepas.


"Kenapa kamu marah, hanya karena aku pukul dia? jangan bilang kamu jatuh cinta dan mau dijadikan istri kedua?!" Raymond kembali menarik tangan Lea dan mencengkram kedua bahunya.


PLAAKK! .... Tanpa berkata apapun setelah menampar suaminya, Lea langsung masuk ke dalam kamarnya.


Saat Raymond ingin mengejar Lea, Devi berseru menghentikannya, "Lea hamil!, jangan kasar sama istrimu."


"Ha--hamil?" Raymond memandang Devi tak percaya.


"Kami baru pulang dari dokter, calon anakmu usianya jalan tiga bulan." Devi menyerahkan hasil tes kehamilan, dan sekantong vitamin yang tadi ditebusnya.


"Masuklah dulu, kita bicara di dalam." Devi memapah Beni dan mendudukkannya di sofa ruang tamu.


Raymond yang masih termangu memandang hasil tes kehamilan di tangannya, di giring Erik untuk ikut masuk dan duduk bersama Beni di dalam ruang tamu.


"Maura, sini sayang." Erik memanggil Maura yang duduk bersama kedua anak Beni di ruang tengah.


Alexander yang paling dewasa di antara mereka, dari tadi berusaha menenangkan kedua adiknya yang menangis dan menjerit ketakutan di dalam rumah.


"Jo, Maura, kenapa nangis?" tanya Devi memanggil dengan lambaian tangannya.


Jonathan hanya menggeleng, menghapus air matanya dan kembali menonton televisi dengan wajah muram. Sedangkan Maura, perlahan berjalan mendekat ke arah ruang tamu.


Raymond dan Erik yang sudah siap menyambut Maura dengan tangan terbuka lebar, terkejut saat putri kecil itu lebih memilih bergelayut di lengan Beni.


"Maura ...," panggil Raymond dengan suara tercekat.


"Pii jahat, napa ukul Ayah?" Maura kembali sesenggukan dengan tangan semakin kuat mencengkram lengan Beni seakan ingin melindungi.


Raymond dan Erik hanya diam terpaku, mendengar panggilan Maura yang ditujukan pada Beni.


"Tolong jangan salah sangkah dulu," ucap Devi yang baru dari belakang membawa sebaskom air dan sekotak peralatan P3K.


"Jauhkan pikiran kalian tentang kami yang akan merebut Maura, atau juga menjadikan Lea sebagai madu saya. Kami tidak ada niat sedikitpun untuk hal itu." Devi tersenyum kecut.

__ADS_1


"Anda mungkin tidak, tapi suamimu?" Beni terkekeh pelan sambil menahan nyeri di sekitar wajahnya, saat mendengar kalimat Raymond yang masih penuh dengan kemarahan.


"Lea tinggal di sini hanya untuk sementara, saya sendiri yang memintanya karena rumahmu Erik, sangat tidak layak untuk dihuni ... terlalu kotor dan berdebu untuk mereka berdua."


"Rencananya besok, Lea dan Maura sudah bisa tinggal di sana, karena tadi sudah dibersihkan."


"Untuk kenapa Maura memanggil Beni dengan seb---"


"Aku yang memintanya ... apa kalian keberatan?" sahut Beni memotong penjelasan istrinya.


"Jelas saya keberatan, karena saya Papanya bukan anda!," sergah Raymond tak suka.


"Saya juga Ayahnya, Ray. Ayah kandungnya. Saya tidak meminta lebih, hanya ingin putri saya memanggil dengan sebutan Ayah. Apa itu merugikanmu?" ucap Beni pelan sambil mengusap kepala Maura yang masih bersandar di lengannya.


"Apa Lea tahu dan mengijinkan? tanya Erik.


Sejatinya ia juga tidak rela jika pria di hadapannya ini ikut andil dalam kehidupan Maura, tapi ia sadar dirinya sekarang bukanlah siapa-siapa bagi Maura dibandingkan Raymond dan Beni.


"Belum. Lea dan istri saya tadi pergi ke dokter, saya dan anak-anak di rumah tadi berbincang. Saya katakan pada kedua anak saya jika Maura adalah adik mereka juga, jadi mereka harus sayang dan menjaganya."


Beni menarik nafasnya sebelum melanjutkan, "Lalu mereka bertanya, jika Maura adik mereka, mengapa tidak memanggil saya dengan sebutan Papa seperti mereka. Saya hanya bilang jika, Maura sudah punya Papa," ucap Beni sambil memandang Erik.


"dan juga punya Papi," lanjutnya sambil berganti memandang Raymond.


"Lalu Jonathan, putra saya yang paling kecil berkata kalau begitu panggil Ayah saja, karena artinya sama biar ga ketukar ... saya pun setuju," papar Beni dengan senyum penuh keharuan.


"Jika kalian berdua tidak suka, tidak apa-apa panggilan bisa saja diganti," ucap Beni, saat tidak ada tanggapan apapun dari kedua pria di hadapannya itu.


"Selama ibunya mengijinkan, saya tidak ada masalah," sahut Raymond pelan tanpa mau memandang Beni.


"Saya panggilkan Lea dulu," pamit Devi lalu beranjak masuk ke dalam kamar Lea.


...❤❤...


Lambaaatt up maaaff 🙏🙏


Love/favorite


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Rating


jangan lupa yaaa 🤗❤


__ADS_2