Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Lucky Girl


__ADS_3

"Maura, nanti main lagi ke tempat Ayah ya," ucap Beni. Maura hanya memberikan senyuman manjanya.


Berat rasanya bagi Beni melepas putrinya kembali bersama Lea, tapi ia sadar sebaik-baiknya tempat bagi Maura yang sedang dalam masa pertumbuhan, adalah bersama ibu kandungnya.


Gelar Ayah yang diberikan Maura untuknya sudah sangat lebih dari cukup, dan ia tidak mau merusaknya.


"Say da da to Ayah dan Ibu," ucap Lea pada Maura.


"Ta ta, Yah Bu ... ta ta, akak ... muach." Maura dengan gaya khas anak-anaknya, melambaikan tangan dan memberikan ciuman jauh pada Beni sekeluarga.


Air mata Devi menetes mendengar sebutan Maura untuk dirinya. Ia tidak pernah meminta panggilan spesial dari Maura, tapi dengan hati yang besar Lea mengajarkan untuk memanggilnya dengan sebutan Ibu pada putrinya.


Saat mobil yang ditumpangi Lea dan Maura sudah tidak terlihat di pandangan mereka, Devi dan Beni masih berdiri termangu di halaman, sementara kedua putranya sudah masuk ke dalam rumah.


Mereka berdua menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara bersamaan, lalu mereka berdua serempak tertawa lega.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Devi pada suaminya.


"Bahagia ... lega ... bersyukur, kamu?"


"Sama." Devi mengangguk dan tersenyum lebar.


"Terima kasih, kamu wanita yang luar biasa. Bersyukur karena Tuhan masih memberikanku kesempatan memperbaiki semua. Bahkan Ia memberikan bonus, seorang anak perempuan." Beni merengkuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Eheemm, Papa sama Mama mau sampai jam berapa pelukan di sini?" Jonathan berdiri di antara mereka, dengan kedua tangannya dilipat di depan dada.


...❤...


Sepanjang perjalanan, Raymond berusaha mencuri pandang ke arah Lea melalui kaca spion.


Terkadang mata mereka bersitatap, lalu Lea memberikan tatapan tajam tanpa senyuman.


"Hei, sayang ga ngantuk?" tanya Erik pada Maura yang duduk di bangku belakang bersama Lea.


"Siapa yang kau panggil sayang?!" seru Raymond seraya melirik pada Erik.


"Maura, kenapa?"


"Ow, yang jelas sebutnya," cetus Raymond, Erik menggeleng kesal dengan sikap pria arogan di sebelahnya.


Mungkin jika jalan tol ini ada angkot yang lewat, lebih baik dia berhenti di tengah jalan dan menumpang naik angkot dari pada satu mobil dengan pasangan suami istri yang sedang perang dingin seperti ini.


Sialnya yang wanita pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Bergerak ke kanan atau kiri salah menoleh pun salah, empat jam dalam perjalanan yang menyiksa bagi Erik.


Maura bergerak ke depan ingin di pangku oleh Erik, tidak menunggu lama Maura tertidur di pelukan pria itu.


Raymond melirik ke arah kursi belakang, Lea pun sudah nampak tertidur pulas.

__ADS_1


"Kamu kelihatan sayang sekali sama Maura, kenapa? dia sekarang bukan putrimu dan bukan tanggung jawabmu," tanya Raymond pada Erik.


Ia sungguh penasaran kedekatan Erik dengan Maura. Sedekat-dekatnya ia dengan Maura karena sehari-hari mereka berkumpul bersama, tapi tidak sedekat Maura dengan Erik.


Jika ada Erik dan dirinya di tempat yang sama, sudah dipastikan Maura pasti lebih memilih Erik untuk bermanja-manja.


"Beni punya ikatan darah dengan Maura, dia ayah kandungnya. Kamu terikat secara hukum dengan Maura, karena kamu sekarang ayah sambungnya. Aku tidak punya ikatan apapun dengannya, ikatan kami mungkin hanya sebatas emosional." Erik melirik ke arah bangku belakang memastikan Lea benar-benar tertidur lelap, dan tidak mendengarkan pembicaraan mereka sebelum ia melanjutkan kalimatnya.


"Saat Maura baru berupa janin di kandungan Lea, aku sudah menerimanya sebagai anakku sebelum ibunya sendiri menerimanya dan selamanya Maura tetap akan menjadi anakku." Erik mengusap kepala Maura dan mengecup sayang putri kecilnya itu.


Raymond tersenyum, ia tidak menyangka kebesaran dan ketulusan hati pria di sebelahnya. Mungkin jika ia yang ada di posisi sebaliknya, belum tentu bisa menyayangi Maura seperti yang Erik lakukan sekarang ini.


"Dia gadis yang beruntung," ucap Raymond sambil tersenyum.


"Kenapa?"


"Punya Papa, Papi dan Ayah yang sangat menyayanginya dan siap melakukan apapun untuknya."


...❤...


"Mamaaa ...." William berlari keluar saat mendengar suara mobil Papinya masuk ke dalam pekarangan rumah.


"Mama kemana?, aku dua hari bolos sekolah, terlambat bangun," ucap William mengadu pada Lea.


"Loh kok bolos? kenapa bisa terlambat bangun?" Lea memangku putra sambungnya itu setelah menyerahkan Maura pada Mbok Nah untuk bersiap mandi.


"Biasa Mama kan yang bangunin aku?"


"Dengar sih, tapi aku maunya sama Mama," sahut William lirih. Lea memeluk William, ia tidak menyangka kehadirannya di rumah itu sebagai Ibu sambung, sangat berpengaruh dalam hidup William.


"William mulai sekarang ga boleh terlalu manja, sudah besar dan sudah mau punya adik dua," ucap Raymond sambil menarik William dari pangkuan Lea, berpindah ke pangkuannya.


"Jangan duduk di situ juga, kasihan adek bayinya."


"Adek bayi?" William memperhatikan perut Lea.


"Iya, di sini ada adeknya Willi dan Maura. Masih kecil sekali, Willi boleh lihat nanti kalo periksa ke dokter," papar Raymond seraya mengusap perut istrinya.


"Aku mau punya adek lagi??" Mata William membesar, sedetik kemudian keningnya berkerut, "Tapi Papi sama Mama tetap sayang sama aku kan?"


"Ya tergantung ...." sahut Raymond asal. Wajah William berubah semakin muram mendengar perkataan Papinya.


Lea yang merasa kesal dengan celetukan suaminya, menyikut dan mencubit perut Raymond kesal, "Bicara itu dipikir dulu!"


"Jangan dengarkan Papimu, kadang kentut sama omongan suaranya hampir mirip." Lea merangkul William menggiringnya dan meninggalkan Raymond sendirian


William menoleh ke belakang dan menjulurkan lidahnya pada Raymond, tanda kemenangan berpihak padanya.

__ADS_1


...❤...


Malam harinya, Raymond bersiap saat istrinya menaiki tempat tidur tapi ia sedikit kecewa karena Lea tidur memunggunginya.


"Sayang ...." Raymond mengusap-usap pundak Lea dengan ujung telunjuknya.


"Hmmm."


"Kok jadi galak sih sekarang, aku kan jadi takut."


"Malu sama rambut di wajah kalo takut."


"Ini namanya cambang, sayang."


"Balik sini dong, masak Abang cuman bisa lihat punggung aja."


"Aku tuh bawaanya pingin marah kalo lihat wajah Abang!, jadi tidurnya gini aja." Lea bersikukuh.


"Loh, kok bisa gitu?, kamu masih marah?"


"Ga tau, jangan nanya terus deh. Jadi mual denger suara Abang tau ga!"


"Leaaa ... sayaaang ...." Raymond masih terus mencoba memanggil.


Tiba-tiba Lea berbalik dan memandang Raymond dengan kesal, "Bisa diam ga sih!, Abang mau kalo lagi tidur tau-tau aku nabok Abang?"


"Jangan ganggu aku dulu, aku lagi ga mau lihat wajah Abang lama-lama. Kata Bu Devi, ini maunya calon baby," ucap Lea seraya berbalik badan memunggungi suaminya lagi.


Raymond teringat celetukan Devi saat di meja makan, kejutekan Lea karena pengaruh dari kehamilan istrinya.


Oh Tuhan, apakah harus selama sembilan bulan aku menerima siksaan ini. Raymond tidur telentang, dengan mata menerawang ke langit-langit kamar.


...❤❤...


Vote


Komen


Like


Rating


Bunga


Kopi


please 🙏😁

__ADS_1


up nya telat mintanya banyak thor 😒


Jangan ngambek upnya telat 🙈🙏


__ADS_2