Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Istri vs ex istri


__ADS_3

Dea menaruh sendoknya dengan sedikit kasar, sehingga menimbulkan suara dentingan piring dan sendok yang beradu.


"Jangan dibanting, kami belinya pake uang," sindir Lea seraya mengambil gelas dan minum secara santai.


"Aku tahu, Ray menikahimu hanya karena kasihan, kalau dalam situasi normal model seperti kamu ga bakal dilirik oleh Papi dari anakku." Dea menegaskan kalimat terakhir seolah Ray masih menjadi miliknya.


"Mungkin benar seperti yang Mba Dea bilang. Saya pun awalnya menerima Abang menjadi suami juga sedikit terpaksa. Saya hanya karena kasihan dengan Abang, yang membutuhkan figur seorang ibu bagi putranya yang ditinggal oleh ibu kandungnya." Dea dan Lea saling menatap tajam. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh meja dan peralatan makan.


"Kamu menginginkan hartanya?"


"Hahahahaa ...." Lea tergelak mendengar perkataan Dea.


"Kamu kan dulu hanya pegawai magang dan baru empat bulan kerja. Jangan-jangan kamu pakai ilmu pelet untuk memikat Ray."


"Hahahaa ... Mba Dea ini lucu sekali. Masak sekelas Mba Dea yang sudah punya karir di luar negri masih percaya hal begituan." Lea masih menyisakan tawa gelinya.


Lalu tiba-tiba Lea terdiam dan berbicara serius "Itu berarti kami sudah jodoh, Mba."


Dea nampak mengeraskan rahangnya, ia yang biasa di sanjung sekarang direndahkan oleh wanita yang secara usia dan pengalaman jauh dibawahnya.


"Mba Dea masih cinta sama mantan suami?"


Dea tercenung mendengar pertanyaan Lea, ia pun tidak yakin tentang perasaannya.


Saat masih menjadi istri Raymond, ia sangat menikmati rasa cinta yang berlimpah dari suami sekaligus dari Andrew partner ranjangnya.


Saat itu ia merasa sangat dicintai dan diinginkan, tapi setelah beberapa waktu berlalu ia menyadari bahwa itu semua tidak abadi.


Andrew meninggalkannya, pria yang dulu memujanya memilih wanita yang jauh lebih muda dan menarik. Sekarang ayah dari anaknya pun telah menolaknya.


Ia teringat perbincangannya dengan William saat berada di dalam kamar.


"Hei boy, do you love Mami?"


"Of course, i love you, Mi." William memeluknya hangat.


"Willi mau ga kalo tinggal bareng lagi sama Mami?" Putranya tampak diam berpikir.


"Yeah, Mami tau kamu ga mau pisah dari Papi, benar kan?" William mengangguk lemah.


"Kalo Mami tinggalnya satu rumah sama Papi dan Willi gimana?"


"Betulan, Mi?" William memandangnya dengan antusias.


"Bisaaa, tapiiii ...." Dea menggantungkan kalimatnya.


"Tapi apa?" tanya William tidak sabar.


"Mama barumu dan anaknya itu, ga bisa tinggal bersama kita."

__ADS_1


"Mama dan adek Maura?" William mengerutkan keningnya.


"Ya, kalau Mami tinggal di sini sama Papi dan Willi mereka ga boleh tinggal di sini juga."


"Kenapa ga boleh?" Tekanan suara William semakin meninggi.


"Hanya boleh ada satu wanita di samping Papi."


"Mami sama aku, Mama sama Papi," ucap William secara tegas.


"Tidak bisa begitu, sayang." Dea menangkup wajah putranya, yang semakin memerah karena menahan emosi.


"Aku ga mau Mama sama Adek Maura pergi dari rumah." William melipat kedua tangannya di dada.


"Willi sayang sama Mami atau sama Mama?"


"Jangan tanya seperti itu!, i dont like that!," seru William, Dea sedikit terkejut mendengar William yang tiba-tiba berteriak.


"I love you both," ucap William lirih. Wajahnya sudah semakin merah menahan tangis.


"I'm sorry, Mami just kidding." Dea memeluk anak semata wayangnya itu. Dalam hati pun ia menangis saat tahu, jika Lea juga sudah mengisi hati putranya.


"Mba?" panggilan Lea menyadarkannya.


"Mba Dea masih cinta sama mantan suami?" Lea mengulangi pertanyaannya.


"Saya pulang dulu." Dea tiba-tiba berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah pintu keluar, tidak menghiraukan pandangan Lea yang kebingungan.


Setelah menutup pintu depan, Lea masuk ke dalam kamar Maura.


Saat ia membuka pintu kamar, pemandangan hangat menyambutnya. Kedua anaknya dan suaminya tidur bersama dalam satu tempat tidur yang mungil.


Kaki Raymond yang panjang terjuntai ke bawah ranjang, Maura tidur tengkurap di atas dadanya, sedangkan William tidur di sisi Raymond beralaskan lengan papinya.


...❤...


"Pelan sayang," Raymond meringis merasakan tekanan tangan Lea di punggungnya. Setelah hampir satu jam tidur bertiga di kamar Maura dengan poisi yang tidak menguntungkan, Raymond bangun dengan badan yang terasa remuk.


"Cengeng banget sih, aku ga keras loh pijetnya ini. Maura sama William aja tahan."


"Aku tuh ga tau, sejak hamil kamu tuh jadi perkasa atau aku yang semakin lemah."


"Kayaknya kamu deh yang lemah."


"Heehhhh, iyain aja deh ... eh, tapi bukan lemah untuk urusan kunjungan rutin si joni ya," ralat Raymond cepat.


"Percaya kalo urusan yang itu." Lea tersenyum meledek.


"Tadi bicara apa aja sama Maminya Willi?, maaf ya aku tinggal ke kamar, males ladenin dia."

__ADS_1


"Ya itu tadi, Mba Dea masih pingin sama Abang."


"Lea, dia itu ga sesungguhnya mau kembali. Dia hanya kesepian." Raymond membalikan badannya.


"Meskipun aku masih sendiri, aku ga bakal balik lagi sama dia."


"Tapi dulu katanya Mbok Nah, Abang bucin abis sama Mba Dea."


"Bagi aku, kalo sudah menikah pasangan harus saling bucin, tapi kalo sudah memutuskan berpisah ya sudah hilang bucinnya."


"Lah, kamu sendiri bucin ga sama aku?" tanya Raymond.


"Bucin," jawab Lea singkat.


"Masak?"


"Ini buktinya." Lea menunjuk perutnya yang semakin membesar di usia kandungan hampir sembilan bulan.


"Sejak kapan?"


"Ga tau." Lea menggeleng dan menunduk malu, seraya memainkan bulu yang tumbuh di dada suaminya.


"Kita kenal belum lama, menikahpun termasuk mendadak. Kenapa kamu bisa cinta sama aku?" tanya Raymond.


"Ga tau, padahal dulu aku tuh keseeell banget sama Abang, udah mulutnya jahat sombong lagi."


"Tapi sekarang cinta kan?," Raymond mengecup perut Lea, bayi yang di dalam perut merespon sentuhannya dengan tendangan kaki kecilnya.


"Heeii, Papi cium Mama ga boleh nih?" Lea tergelak melihat kejadian langka yang barusan terjadi.


"Masih boleh ga?" Raymond mengusap perut istrinya dengan pandangan sendu.


"Boleh, katanya sih kalo sudah dekat waktunya lahir harus sering-sering. Bantu babynya buka jalan lahir."


"Oh ya??, siapa tuh yang bilang harus dikasih penghargaan orangnya." Raymond bangkit dan langsung membuka celana pendeknya, karena sudah sejak tadi bertelanjang dada.


"Iih, kok buru-buru gitu!" Lea cemberut melihat Raymond yang tanpa basa-basi langsung merebahkannya di atas ranjang.


"Harusnya bagaimana?" tanya Raymond bingung.


"Kan biasanya pake rayu-rayu, cium-cium dulu, ga langsung main tembak aja."


"Oww," Raymond menggaruk kepalanya. Ia tiba-tiba kehilangan jiwa romantisnya, bingung harus memulai dari mana.


Raymond mulai dengan kata-kata pujian yang terdengar hambar di telinga Lea.


"Basi ah, Bang. Langsung aja."


"Ya gitu juga maksud aku dari tadi."

__ADS_1


Raymond bersiap memasuki istrinya setelah melakukan pemanasan singkat, tiba-tiba "Yang? kamu haid??"


...❤❤...


__ADS_2