
Dua tahun kemudian
Pagi ini di rumah Raymond terlihat sangat sibuk. Mereka akan pergi ke bandara mengantar Erik, yang akan berangkat ke Singapure bersama dengan Ghea.
Ghea dan Erik sudah melakukan pernikahan secara sederhana, karena tidak mau mengundang omongan orang lain yang dapat menambah kesedihan mereka.
"Maaa, ayooo," panggil Maura dari dalam mobil. Jendela mobil terbuka lebar, Maura melambaikan tangannya memanggil Lea yang masih terus berputar di dalam rumah. Sedangkan Raymond dan William, sudah sejak tadi berada di dalam mobil.
"Sabar Maura, Mama masih urus adek dulu," celetuk Raymond.
"Lamaaaa!" Maura kembali duduk di kursinya, dengan wajah cemberut.
Raymond yang melihat putri sambungnya itu dalam suasana hati yang kurang baik, menaruh ponselnya lalu mengusap rambut ikalnya.
"Sabar, sebentaaarrr lagi. Jangan cemberut, nanti cantiknya hilang," Raymond mencubit pipi bulat gadis berusia empat tahun itu.
Tak berapa lama pintu mobil belakang terbuka, Lea masuk bersama Kanaya. William yang tadinya sedang asyik berselancar di dunia maya, bergeser sedikit memberi tempat yang lebih luas untuk Mama dan adiknya.
"Lama yaa," ucap Lea menyesal. Ia tahu putrinya sedang marah, karena waktu untuk bertemu dengan Papa Eriknya berkurang.
"Adek Kanaya tadi sudah mau berangkat tau-tau sakit perut."
"Kan pake pampers," sahut Maura masih dengan nada kesal.
"Adek kan sudah besar, lagi belajar lepas pampers." Lea masih berusaha menjelaskan dengan sabar.
Sejak kelahiran Kanaya dua tahun yang lalu, Maura masih merasa tersaingi dengan kehadiran seorang anak yang tiba-tiba menyita hampir seluruh perhatian Mamanya.
Biasanya hanya ada dia dan Mamanya. Saat ada William yang tiba-tiba masuk ke dalam dunia mereka, Maura tidak seberapa terganggu, karena William tidak begitu menyita perhatian Mamanya. Justru orang dewasa yang mempunyai rambut di wajah itu, selalu menempel kemana Mamanya pergi. Namun tidak mengapa, karena bagi Maura pria dewasa itu juga sayang padanya, dan selalu memberinya jajan serta memenuhi kamarnya dengan mainan.
Akan tetapi tidak bagi bayi yang digendong Mamanya, masuk ke dalam rumah. Bayi itu seakan mengambil seluruh waktu Mamanya hingga saat ini. Hanya William dan Mbok Nah yang setia menemaninya bermain, tapi rasanya beda dengan pelukan Mamanya.
"Jual aja adeknya," cetus Maura dengan wajah masih terlipat.
Raymond memberi kode dengan gelengan kepala pelan dari kaca spion saat Lea terlihat marah.
Lea menarik nafas panjang untuk meredakan emosinya, "Aduuh, Mama capek banget, Kanaya nih ga bisa diam. Maura bisa ga bantu Mama, oles minyak di perut Kanaya."
"Kan ada Kak Willi," protes Maura. William yang mengerti maksud Mamanya, segera menutup mata dan berpura-pura sedang tidur.
"Lagi tidur."
Masih dengan wajah cemberut , Maura berpindah dari bangku depan ke belakang.
"Mama pegang adek ya, Maura oles minyak ini ke perut adek." Lea membuka baju Kanaya, dan membiarkan Maura mengusap minyak di perut mungil adiknya.
Kanaya tertawa geli saat tangan Maura mengusap dengan perlahan.
"Geli ya?" tanya Maura pada Kanaya.
"Liiii ... hihiihiiii," Kanaya menggeliat seraya tertawa.
Tak butuh waktu lama, kedua bocah perempuan itu sudah bergulung dan bercanda di dalam mobil.
Raymond melirik istrinya dari kaca spion. Sekali lagi ia kagum pada Lea berhasil mengatasi situasi yang tidak mudah, bagi seorang Ibu menangani rasa cemburu antar saudara.
"Mereka masih di cafe," ucap Raymond, saat mereka berlima berjalan masuk ke dalam area bandara.
__ADS_1
"Papaaaaa," Maura yang terlebih dahulu melihat Erik segera berlari menghampiri pria kesayangannya.
"Haaiii, Sayang. Papa sudah tunggu-tunggu dari tadi loh, mana ini malaikat cantik kok belum muncul." Erik memutar kursi rodanya, lalu mengangkat Maura untuk duduk di pangkuannya.
Erik mengalami koma hampir selama tiga bulan, dan menjalani masa perawatan selama lebih dari satu tahun di rumah sakit.
Selama itu juga Ghea dengan setia dan telaten datang setiap hari, menjaga, melayani dan menemani Erik sepanjang hari.
Hal itu membuat hati Papa Ghea tersentuh, dan akhirnya percaya jika putri tunggalnya benar-benar sangat mencintai Erik, walaupun dalam keadaan susah sekalipun.
flash back dikit
"Saya minta maaf atas perbuatan putri saya yang tidak bermoral," ucap Papa Ghea pada Lea.
Beberapa hari setelah Erik kecelakaan dan dinyatakan koma. Kedua orang tua Ghea meminta waktu khusus berbicara dengan Lea.
"Saya sudah memaafkan Ghea dan Kak Erik sejak lama. Di antara kami sudah tidak ada dendam dan amarah."
"Saya akui, perasaan sakit dan kecewa itu ada awalnya. Namun kejadian itu juga bukan sepenuhnya salah Ghea dan Kak Erik. Saya juga punya salah, ada andil saya jika mereka melakukan perbuatan itu ... saya bukan istri yang sempurna saat itu."
"Ghea juga tidak merebut Kak Erik dari sisi saya, tapi sayalah yang menyerahkan Kak Erik untuk Ghea, karena saya merasa mereka berdua memang seharusnya bersatu."
"Sekarang saya sudah sangat bahagia dengan keluarga kecil kami, tentunya saya mau Kak Erik juga bahagia."
"Anggap saja kami keluar dari kampung dan datang ke kota ini, untuk mengantar kepada masing-masing jodoh kami. Yaah, walaupun harus dengan cara seperti itu." Lea sedikit terkekeh.
"Saya sudah mengenal Kak Erik sejak masa sekolah dan saya jamin, calon menantu Bapak itu orang yang sangat baik. Putri Bapak akan menjadi wanita yang berbahagia jika bersama Kak Erik." Lea memberikan senyuman terbaiknya kepada sepasang suami istri di hadapannya.
flash back selesai
"Mama lamaaaa." Bibir Maura kembali mencebik saat mengadu pada Erik.
"Ada sih, tadi pas di mobil," jawab Maura lirih.
"Lain kali Mamanya dibantu ya, biar cepet selesai."
"Jangan ngambek lagi, Papa punya ini buat Maura." Erik mengeluarkan sebuah kotak yang cukup besar dengan gambar tenda berwarna pink di depannya.
"Waaahhh." Mata Maura terbelalak senang.
"Bilang apa Maura," ucap Raymond.
"Thank you so much." Maura memeluk dan mengecup pipi Erik.
"Say thank you juga dong ke Tante Ghea yang milihin buat Maura."
"Thank you auntie," Maura mengecup kedua pipi Ghea.
"Sama-sama, Sayang. Nanti mainnya ajak adek Kanaya ya."
Terdengar suara panggilan dari pengeras suara, untuk jadwal keberangkatan mereka sudah harus bersiap.
"Papa sudah mau berangkat, Maura jangan nakal ya. Jadi gadis yang baik, selalu dengar apa kata Mama dan Papi. Kalau Papa pulang ke Indonesia, Maura janji, sudah ga boleh cengeng dan suka mara-marah lagi. Can you promise me?" Erik memberikan jari kelingkingnya pada Maura.
Maura menggeleng dan menyembunyikan wajahnya di leher Erik.
"Jangan pergi," isaknya.
__ADS_1
"Papa harus pergi, biar pulang ke Indonesia nanti, Papa sudah bisa lari-lari lagi sama Maura."
"Maura senang ga lihat Papa bisa jalan lagi?" lanjut Erik. Maura mengangguk, masih terdengar isakan tertahan di pelukannya.
"Mas kita harus segera masuk," Ghea mengingatkan saat ada panggilan kedua.
Raymond segera mengangkat Maura dari pangkuan Erik.
"Papa ga akan lama. Papa janji di sana nanti berusaha bisa cepat sembuh dan jalan, supaya bisa lihat Maura bawa tas sekolah di punggung." Erik masih berusaha menghibur Maura yang menangis di pundak Raymond.
Tidak terdengar tanggapan dari Maura, akhirnya Erik dan Ghea memutuskan segera masuk ke dalam ruang tunggu penerbangan.
"Sampai ketemu, Bro. Jangan lupa, kalo nyebrang lihat kanan dan kiri dulu," seloroh Raymond.
"Sampai jumpa Kak, baik-baik di sana. Cepat kembali, aku pingin lihat Kak Erik bisa lari lagi."
"Terima kasih, kami pasti akan kasih kabar terus. Kamu juga harus selalu bahagia ya," Erik memeluk Lea erat. Pelukan layaknya kakak untuk adiknya.
Setelah saling berpamitan dan berpelukan, Ghea dan Erik berjalan menuju ke ruang tunggu yang dibatasi oleh kaca.
Maura yang menyadari tidak ada Erik di sekitarnya, segera turun dari gendongan Raymond dan berlari menuju kaca pembatas.
"Papaaaa," panggilnya, tapi sayangnya Erik dan Ghea sudah tidak mendengar, "Jangan lama-lama," tambahnya lirih.
"Maura ... Singapure itu ga jauh kok, kita bisa sering main-main kesana." Raymond berjongkok di sisi Maura.
"Dekat?? setiap hari bisa kesana??" tanyanya antusias, Maura mengusap air mata dan ingus yang masih meleleh dengan bajunya.
Raymond meringis melihat kesamaan putrinya dengan Mamanya perihal mengusap air mata dan ingus, selalu menggunakan baju yang dipakai jika tidak ada tissu di sekitarnya.
"Mmm, ga setiap hari juga sih." Maura semakin merengut.
Lea yang melihat usaha Raymond membujuk Maura tersenyum mengejek. Niatnya menghibur malah semakin runyam karena memilih kalimat yang salah.
"Kalau Maura tidak suka marah-marah lagi, ga cengeng, mau bantuin Mama jaga adek Kanaya. Bulan depan kita pergi ke Papa, mau?" tawar Raymond.
Lea mengangguk saat Maura melihat dirinya.
"Janji?" tanyanya ragu.
"Janji dong, masak Papi pernah bo'ong."
"Pernah."
"Eeh, masak sih?" tanya Raymond terkejut.
"Papi pernah bohong, bilang kalo cuman Mama yang cantik, tapi pas Om Gilang dateng ke rumah bawa foto-foto cewek. Papi juga bilang yang ini cantik, yang itu juga cantik, yang itu aku suka, aku mau yang itu."
Raymond melongo mendengar penjelasan panjang lebar dari Maura. Ia tidak menyangka saat Gilang datang membawa banyak foto wanita untuk model promo produk klien, ternyata Maura ikut mendengarkan ia berbicara dan merekam semua dalam ingatannya.
Akan tetapi ada satu hal yang harus dia waspadai sekarang. Ia menoleh ke belakang, dan mendapati Lea memandangnya lurus tanpa ekspresi.
...❤❤...
Semogaaa lolos 🥺, bab ini sudah dari semalam upnya tapi sampai pagi belum muncul. NT ga mau ditamatin kali 😅
Haaaii, ini part terakhir ya
__ADS_1
yang masih rindu dengan kisah mereka akan ada bonus chapter, jadi jangan hapus dari rak buku kalian 🙏