
Devi masih duduk termenung di taman belakang rumah mereka, saat Beni datang menghampirinya, "Kamu masih menginginkannya?"
"Mmm ... siapa yang Mas maksud?" sahut Devi salah tingkah.
"Maura," Beni ikut duduk di samping Devi, menikmati suasana sore hari di akhir tahun mereka.
"Kamu sendiri?... ayah kandung Maura ... kamu tidak ingin anakmu tinggal bersama dengan kita?" tanya Devi balik.
"Aku ingin ... sangat ingin sekali. Satu kalipun aku belum sempat menggendongnya," suara Beni sedikit bergetar.
"Bagiku Maura sama pentingnya seperti Alexander dan Jonathan ... maaf." Beni menoleh pada istrinya. Devi hanya mengangguk maklum.
"Kemarin apa kita sudah berbuat salah lagi?" Devi terpekur.
"Mereka menikah bukan karena kita mau mengambil Maura kan Mas?" Devi menatap Beni khawatir.
"Aku ga peduli." Beni menggeleng kesal mengingat kejadian memalukan saat resepsi. Saat pernikahan Lea dan Raymond yang hadir hanya Beni.
"Yang ku takutkan hanya ... Maura benci dan tidak mau melihat aku lagi." Beni menerawang sedih.
"Kita coba sekali lagi, kali ini harus dengan cara yang benar." Devi mengusap lengan suaminya.
"Kalau maksudmu ingin membawa Maura ke sini, aku tidak setuju." Beni memandang lekat pada istrinya.
"Lantas?"
"Aku hanya ingin, anakku mengakui dan memanggilku ... Ayah. Hanya itu saja" Beni kembali menerawang dengan mata berkaca.
...đšī¸...
POV GHEA
Entah kemana Ghea yang dulu, sejak kehadirannya di kantor ini aku merasa tidak sama lagi.
Satu langkah pertama yang ia jejakkan di ruangan ini, sudah menjungkir balikan duniaku.
Ia dekat ... sangat dekat tapi tak bisa kuraih.
Aku yang kata orang wanita sempurna, pintar, cantik, punya segalanya ... tapi percuma, karena Ia tidak ada di hidupku.
Aku kalah dengan wanita yang terlihat biasa di mataku, bahkan sebelum aku bertanding.
Aku tidak berniat merebutnya dari sisi istrinya, sama sekali tidak.
Aku bukan seperti mereka yang menggunakan cara apapun untuk mendapatkan pria yang diinginkan, bahkan dengan menggadaikan tubuhnya sendiri.
Tapi malam itu ... begitu saja terjadi. Tidak! ... Ia yang memulai, ia yang dulu menc*iumku lalu ... aku membalasnya.
Harusnya aku menolak ..
Harusnya aku mendorongnya ...
Harusnya aku menamparnya ...
Tapi mengapa yang terjadi, aku malah memeluknya dan membiarkannya melakukan apa saja malam itu.
Kalian boleh sebut aku munafik.
Tapi tolong jangan sebut aku perebut suami orang, karena aku tidak ada niatan untuk merebut dia dari sisi istrinya.
Istrinya yang menyerahkan dia kepadaku ... karena kebodohan kami.
Sekarang lihatlah, kami sudah menelan hasil dari perbuatan kami.
__ADS_1
Sejak menghadiri pernikahan mantan istrinya, ia seperti tubuh tanpa jiwa.
Mungkin kamu kira aku bahagia mendengar mereka berpisah.
Aku sedih, takut dan merasa berdosa. Setelah resmi berpisah, ia mendatangiku bertanya apa yang harus ia lakukan untuk aku.
Pertanyaan itu seakan menampar aku.
Aku memang mencintainya.
Aku memang menginginkannya.
Tapi bukan begini mauku.
Aku menolaknya saat itu. Aku tunjukan padanya jika aku baik-baik saja, dan tidak perlu di kasihani.
Biarlah berjalan apa adanya, itu yang aku sampaikan padanya. Jika memang nantinya kita berjodoh, pasti semua ada jalannya.
Sore ini seperti biasa ia masih tetap duduk di kursinya, tidak mempedulikan ajakan dari teman-teman lainnya yang berniat menghiburnya.
Teman-teman kami tidak ada satupun yang tahu tentang kedekatan kami ... kecuali Nina tentunya, yang mereka tahu ia berpisah karena ada ketidak cocokan ... alasan yang klise.
"Masih lama Rik?" tanyaku, setelah hanya tinggal kami berdua dalam ruangan.
"Oww, eeh ... kamu belum pulang?" Ia malah balik bertanya.
"Mau pulang ... kamu mau ngobrol dulu mungkin?" entah kenapa aku malah menawarkan dia keluar bersama.
Ia terlihat tertegun menatapku, sesaat kemudian ia membereskan perlengkapan gambarnya.
"Naik motorku atau ...." ia bimbang saat berada di area parkir.
"Kendaraan masing-masing aja," putusku. Itu jauh lebih baik tidak mengundang rasa ingin tahu orang lain.
Seorang duda berjalan berdua dengan wanita lajang, tahu sendiri kan yang ku maksud.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku setelah kami memesan sesuatu.
"Baik." Ia tersenyum terpaksa.
"Maaf aku ga bisa menemanimu minggu lalu."
"Ga apa-apa, memang seharusnya aku datang sendiri."
"Lea ... tampak bahagia," lanjutnya, ia mulai tertawa pedih. Sakit juga rasanya melihat ia seperti itu.
"Maaf." Hanya itu yang bisa aku sampaikan.
"Untuk?"
"Entah, tapi rasanya memang harus aku ucapkan kata maaf." Aku juga tidak tahu, permintaan maafku itu untuk apa dan siapa.
Karena aku memang bersalah, perpisahaan mereka karena ada aku di antaranya.
Aku yang tanpa sadar memaksa masuk di kehidupan pria yang ... tidak mencintaiku.
Ya, pria di hadapanku ini tidak mencintaiku. Jelas terlihat dari sorot matanya saat memandang mantan istrinya dulu.
"Kamu sendiri?" tiba-tiba ia mengalihkan pertanyaannya.
"Sama, aku baik-baik saja."
Kami terdiam dan merenung, lalu tertawa bersama. Mentertawakan nasib yang sama, mencintai orang yang tidak mencintai kita.
__ADS_1
Selebihnya kami menghabiskan waktu hanya berbincang santai, tanpa menyinggung soal perasaan masing-masing.
Jika kamu bertanya, mengapa tidak menuntut tanggung jawab?, pria itu telah merenggut hartamu yang paling berharga.
Bagiku, jauh lebih baik jika melihat orang yang kita cintai hidup bahagia di sisi kita dari pada hidup bersama di bawah satu atap tapi melihatnya tertekan.
...đšī¸...
"Sampai kapan mereka di sini?" tanya Raymond masih mengikuti kemana Lea pergi.
"Sampai tahun depan."
"Ha?" Mata Raymond membesar.
"Ya, kan benar besok sudah tahun baru. Abang kenapa sih sejak nikah jadi agak lambat mikirnya."
"Iya, karena yang ada di pikiran abang cuman ada kamu yang lain ga penting." Raymond mulai mendekat ingin memeluk dan melancarkan serangan rayuannya.
"Jadi aku ga penting Pi?" sela William.
Raymond dan Lea terkejut tiba-tiba mendengar suara William menyela, karena mereka yakin tadi hanya berdua saja di dalam kamar.
Dari mana anak ini muncul. batin Raymond.
"William jelas penting dong, maksud Papi tadi tuh Mami jauh lebih penting di banding Om Lukman, Om Gilang, Tante Kinanti dan Tante Nina." Lea mengambil alih perhatian William yang sudah memandang mereka curiga.
"Kamu lagi apa di sini?" tanya Raymond.
"Mau tidur siang."
"Kan kita sudah ada perjanjian, kamu lupa?"
"Ingat," sahut William yakin.
"Perjanjian apa?" Lea mendekat ingin tahu.
"Perjanjian antara ayah dan anak, biasa ... sesama pria ya kan Willi?" ucap Raymond meminta dukungan pada anaknya.
"Ow," Lea manggut-manggut dan berjalan keluar kamar.
"Eh kamu mau kemana?" Raymond menahan tangannya.
"Mau ke dapur, bantuin Mama. Nina sama Kinanti sudah duluan di bawah."
"Bobok siang dulu yuk, aku ngantuk," bisik Raymond pelan takut di dengar William.
"Abang kalau mau tidur duluan aja, nanti aku nyusul ya. Sebentar aja kok di dapur, tapi tidurnya di kamar sendiri dong jangan di kamar William," celetuk Lea sambil berlalu keluar kamar.
"Eh?" Raymond mengedarkan pandangannya, baru ia menyadari kamar ini bukanlah kamar mereka tapi kamar putranya.
Pantas saja William ada di dalam tanpa merasa bersalah, rupanya fokus dia dari tadi hanya mengikuti langkah istrinya.
Benar sepertinya kata Lea tadi, ada yang tidak beres pada dirinya sejak menikah.
Sepertinya ia harus konsultasi dengan Lukman.
...â¤â¤...
Holaaa đ¤
Lambat ngetik karena sambil nonton Bola đđŦ
Like dan komennya jangan lupa Bapak Ibu đâ¤
__ADS_1
Promosi lewat lagi ya, ramaikan di sana