
Dea ... mantan istri Bang Raymond Mereka sedang ... berpelukan.
Lea hanya terdiam terpaku di ambang pintu dengan tangan masih memegang handle-nya.
Tak tahu harus bagaimana, kakinya berat serasa ada batu yang menahan langkahnya. Ingin rasanya ia berlari ke arah mereka berdua, menarik rambut wanita itu lalu menamparnya tapi ia masih tetap berdiri seperti orang bodoh.
Sementara wanita itu tersenyum, ya dia tersenyum penuh kemenangan. Raymond yang berdiri menghadap kaca belum melihat kedatangan Lea, hanya wanita itu yang menghadap ke pintu masuk dengan dagunya ia taruh di pundak Raymond.
"Loh kok malah berdiri di sini, ayo ma ... suk." Gilang yang baru menyusul, ikut terpana dengan pemandangan di hadapan mereka.
"Mas, aku titip." Lea berkata pelan dengan kepala tertunduk. Ia menyerahkan tas berisi kotak makan ke tangan Gilang dan berjalan cepat menuju tangga.
"Eee ... loh, tunggu Lea. Aduh, bagaimana toh ini." Gilang berjalan mondar mandir antara tangga dan ruangan Raymond, ia panik dan bingung apa dulu yang harus dilakukan.
Mengejar Lea ataukah memanggil Raymond, yang masih berada di pelukan mantan istrinya.
Akhirnya ia memutuskan mengejar istri bosnya dulu, wanita yang sedang marah sungguh sangat berbahaya.
Mereka akan kehilangan seluruh logika dan akal sehatnya.
Nah benar kan, belum lama perempuan itu turun ia sudah tidak terkejar lagi. Mungkin hati yang sakit bisa menambah energi berkali lipat.
"Kin, huuh ... lihat .. Lea?" tanya Gilang pada Kinanti dengan nafas masih terengah.
"Lea kenapa Lang?, aku tadi panggil dia ga mau noleh. Jalannya lurus gitu aja." Kinanti malah bertanya balik.
"Eh, kenapa kamu?" Kinanti baru menyadari, kekasihnya itu seperti baru habis lari marathon.
"Gila itu bosmu!, pelukan berdua sama mantan istrinya di dalam ruangan. Pas Lea masuk, dah lah perang habis ini mereka."
"Mantan istri?" Kinanti langsung menghubungi Lea. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan temannya itu, tapi ponsel Lea tidak aktif.
"Ga aktif." Kinanti ikut duduk di samping Gilang. Tak berapa lama Raymond dan Dea turun dari lantai tiga.
Raymond dengan wajah terlipat melangkah dengan cepat sementara Dea mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan dan menaiki mobil dengan tergesa, tidak menyadari atau tidak mau tahu jika ada Gilang dan Kinanti yang mengamati mereka berdua.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, tak henti-hentinya Lea menitikan air mata. Dadanya terasa penuh dan sesak, ia merasa di dorong Raymond jatuh ke dasar tebing.
Ternyata seminggu ini, suaminya menyembunyikan fakta bahwa dia dan mantan istrinya itu masih terus berhubungan.
Mengapa ia bisa setolol itu percaya begitu saja pada seorang Casanova, lihatlah mantan istrinya bagaikan langit dan bumi penampilannya dengan dirinya.
__ADS_1
"Bu ... Ibu ga apa-apa?" tanya sopir taxi online. Sopir itu dari tadi mengintip dari kaca spion dengan perasaan iba.
"Maaf, saya ga apa-apa."
"Di belakang ada tissu bu, silahkan dipakai. Kalau mau nangis lagi ga apa-apa, tapi jangan terlalu kencang ya nanti saya dituduh berbuat macem-macem."
"Ya, terima kasih Pak." Lea memandang sekotak tissu di pangkuannya. Bukannya tangisnya mereda malah semakin menjadi.
Kenangan manis pertamanya bersama Raymond berawal dari sekotak tissu. Lea memejamkan matanya, kepalanya tiba-tiba terasa pening dan berputar.
Begitu taxi online berhenti, Lea langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengeluarkan semua isi perutnya, sepertinya ia masuk angin karena dari pagi ia terlalu sibuk membuatkan makan siang untuk suaminya.
Teringat bekal yang dibuatkan untuk Raymond dan rencananya untuk makan siang bersama, membuat hatinya semakin perih. Lea terduduk dan menangis di bawah wastafel, ia merengkuh kakinya dan membenamkan kepala di antara kedua lututnya.
Hampir satu jam Lea berada dalam posisi itu sampai ia mendengar suara Maura menangis, dengan cepat ia membasuh wajahnya dan keluar dari kamar mandi.
"Maura kenapa Mbok?"
"Eladalah!, kaget saya Nya. Kok sudah pulang saya ga tau?" Mbok Nah terkejut saat Lea tiba-tiba berada di belakangnya.
"Saya lewat pintu belakang tadi."
"Maura ga makan, nangis terus. Biasa kan makan sama main berdua sama den Willi sekarang mungkin kesepian."
"Belum, tadi katanya Tuan yang mau jemput William ada perlu gitu bilangnya." Lea hanya terdiam.
Lihatlah, apa dia sekarang tidak ada artinya lagi di rumah ini?
Mengapa suaminya tidak menyampaikan secara langsung padanya?.
Lantas apa fungsinya ia di rumah ini, apa hanya menjadi teman tidurnya saja?
Emosinya memuncak merasa diabaikan dan dibohongi. Ini harus di selesaikan, lebih baik bertengkar hebat dari pada hanya saling diam bagai menyimpan bom yang siap meledak kapan saja.
"Selamat siang, Kak." Lea memutuskan menghubungi Erik meminta pertolongan kecil dari mantan suaminya.
"Hai Lea, bagaimana kabarmu." Erik di sana terdengar bersemangat menerima panggilan telepon dari Lea.
"Baik, Kak. Aku mau minta tolong, bisakah sore ini aku titip Maura di Kak Erik?"
"Jangan bilang titip dong Lea, Maura kan anakku juga. Memang kamu mau ke mana, bukannya ada yang jaga di rumah?"
__ADS_1
"Aku ada urusan sebentar, mmm ... Mbok Nah sedikit kurang enak badan." Lea memejamkan mata, ia merasa ga enak hati mengatakan Mbok Nah sakit.
"Ow, baiklah. Apa aku jemput Maura sekarang? kebetulan lagi di jalan."
"Kakak ga kerja?"
"Lagi tinjau lapangan, sudah sore juga jadi ga perlu kembali ke kantor. Aku ke sana ya."
Lea bersyukur, Erik masih mau bersikap baik padanya setelah perceraian. Ia tidak mau Maura nanti mendengar pertengkaran antara dirinya dan Raymond.
Keadaan psikologis William yang trauma mendengar perkelahian Raymond dan Dea, membuatnya harus membawa Maura keluar dari rumah sementara waktu.
Untuk William mungkin nanti ia akan minta Mbok Nah bawa ke mini market di perumahan.
Setengah jam kemudian Erik sudah ada di depan rumah. Ia menyerahkan tas dan beberapa perlengkapan Maura.
"Hai gadis kecil Papa." Erik langsung menggendong dan mengecup sayang pipi putrinya.
"Maura sekarang jalan sama Papa dulu ya."
"Mama, Akak Wil ama Pi?" tanya Maura dengan terpatah-patah.
"Nanti nyusul ya, sekarang Maura jalan dulu." Lea memberi isyarat agar Erik segera jalan. Ia khawatir Raymond pulang dan melihatnya beraama dengan Erik.
Sekarang ia tinggal menunggu suaminya pulang, ia ingin mendengar apakah Raymond akan lebih dulu bercerita ataukah ia yang lebih dulu bertanya.
Tepat jam delapan malam, suara mobil Raymond terdengar masuk ke dalam halaman.
Raymond masuk dengan menggendong William yang sudah tertidur.
"Abang sama Willi sudah makan?"
"Sudah."
"Ada acara apa sih?" Nada suaranya mulai terdengar kesal.
"Acara ... reuni, reuni teman kuliah."
...❤❤...
Jangan panas dulu ya 🙏🥰
__ADS_1
Seperti biasa Like, komen, bunga dan kopi boleh setor ya