Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Jangan ... jangan please


__ADS_3

Criiing ... criing ... criing


Saat sedang mematikan daya laptopnya, sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya.


'Ghe, aku dari workshop langsung ke butik ya.' Menerima pesan dari pria yang dicintainya, membuat senyumnya terkembang.


'Aku tunggu di sana,' Ia membalasnya singkat.


Segera ia merapikan semua peralatan kerjanya yang bertebaran di atas meja. Sore ini mereka akan melakukan fitting baju pengantin.


Seminggu lagi pernikahan mereka akan diadakan. Ia mencoba mendengarkan apa kata Nina, mereka berhak bahagia.


Walau terkadang tatapan mata para staff di kantor seolah menghakimi dirinya, ia berusaha menerimanya dengan ikhlas karena ia sadar kalau dirinya memang sangat bersalah.


Mereka berdua sudah merasa lelah selama ini berusaha lari dari kenyataan, dan selalu membohongi perasaan yang semakin tumbuh dalam hati.


Mereka mencoba berdamai dengan keadaan, duduk berdua membicarakan takdir di antara mereka. Lalu berakhir meminta restu di hadapan kedua orang tua Ghea.


Tidak mudah bagi Erik yang hanya seorang pegawai biasa, meminta putri tunggal seorang pemimpin perusahaan dimana ia bekerja untuk menjadi istrinya. Gosip tentang mereka berdua pun, tidak luput dari pendengaran orang tua Ghea.


Dua tamparan keras di wajah Erik belum mewakili sakit hati dan rasa malu orang tua Ghea. Lelehan air mata Ghea di kedua kaki orang tuanya pun belum mampu melunakan hati mereka.


Butuh waktu yang lama bagi mereka untuk meyakinkan kedua orang tua Ghea. Hampir satu tahun akhirnya kedua orang tuanya luluh menerima keputusan Ghea, untuk menikah dengan pria yang berstatus duda yang disebabkan karena putrinya sendiri.


"Selamat sore, Mba Sari," sapa Ghea pada pemilik butik tempatnya menjahit kebaya pengantin.


"Soree juga, cantik. Datang sendiri?, mana calonnya?"


"Nanti nyusul katanya, dia lagi tugas tinjau pekerjaan di workshop," jelas Ghea.


"Hmmm, sudah mau jadi pengantin masih aja berburu dollar."


"Sebaiknya tuh satu minggu sebelum menikah, calon pengantin duduk manis di rumah aja. Perawatan tubuh, banyakin ibadah, baca-baca tentang malam pertama itu seperti apa nantinya."


"Iihhh, Mba Sri nih." Ghea tergelak mendengar saran dari percancang gaun pengantinnya itu. Ada rasa malu menyelusup dalam hatinya saat mendengar kata malam pertama.


"Looh bener, itu namanya dipingit. Kata orang tua jaman dulu, calon pengantin itu baunya 'wangi' jadi kalo bisa jangan banyak keluar rumah." Mba Sri terus memberikan petuah pada pelanggannya, seraya memasangkan kebaya di badan Ghea.


"Wangi apaan? emang aku wangi gitu? baru pulang kantor loh ini, belum sempat mandi." Ghea mengangkat kedua lengannya lalu mencium ketiaknya.


"Bukan wangi kayak gitu!" Mba Sri menepuk lengan Ghea gemas.


"Wanginya calon pengantin itu ga sembarang orang bisa nyium. Selain itu wanginya bisa ngundang mahkluk gaib," ucap Mba Sri dengan nada misterius.


"Mba Sri ini nakutin aja."


"Bukan nakutin, memang sih itu mitos tapi saran orang tua itu ada benarnya juga loh. Calon pengantin itu lebih baik mempersiapkan lahir dan batin biar saat hari H aura wajahnya terpancar."

__ADS_1


Perbincangan mereka berdua terhenti saat pintu masuk berdenting dan wajah Erik muncul dari balik pintu.


"Nah ini calon suaminya sudah datang."


"Gimana, sudah cocok ga Mas gaunnya?" tanya Mba Sri meminta pertimbangan pada Erik yang baru saja datang.


"Bagus, tapi bagian dadanya ditambahin kancing lagi bisa ga, Mba?" tawarnya.


"Hmmmm, memang cuman boleh situ aja yang lihat," ledek Mba Sri.


"Buka dulu ya gaunnya, aku pasangkan peniti di bagian dada dulu untuk sementara, sesuai permintaan sang Bapak ditambahi kancing."


"Masnya dicoba dulu baju adatnya di pojok sebelah sana. Yul, dibantu Masnya ya," seru Mba Sri pada pegawainya.


Setelah berulang-ulang kali mencoba gaun pengantin yang baru 90% selesai, akhirnya sampai di gaun yang akan terakhir ia coba.


Kebaya putih modern yang sederhana dengan kain bawahan yang melekat sempurna pada tubuh tingginya.


"Cantik." Ghea menoleh pada Erik yang sudah berdiri di belakangnya.


"Kamu sudah selesai?"


"Udah, laki mah ga ribet," Ia masih memandangi calon istrinya yang sedang mematut-matutkan dirinya di hadapan cermin.


"Bagaimana perasaanmu Nyonya Erik Saputra?" tanya Erik dengan pandangan menggoda dari pantulan cermin.


"Bahagia," jawab Ghea singkat, tapi sorot matanya tidak bisa ditutupi ia terlalu sangat bahagia.


"Kenapa aku harus menyesal?"


"Aku cuman pegawai biasa, seorang duda. Ga ada yang bisa dibanggakan dari aku."


"Aku juga pegawai biasa, yang bos itu papa aku. Aku juga terima gaji, kalau kamu lupa. Satu lagi tolong jangan sebut kata duda, aku merasa jahat banget."


"Ga perlu diungkit-ungkit lagi. Kita punya masa depan sendiri, jika awalnya pahit kita harus bisa merubahnya agar akhirnya nanti menjadi lebih manis." Erik memutar tubuh Ghea menghadap dirinya.


"Panas?" tanya Erik, ia mengusap bulir keringat pada dahi Ghea.


"Mati lampu, Mas. Lemari es kita jadi ga dingin. Minumnya seadanyaa aja ga pa pa ya," celetuk salah satu pegawai yang membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat.


"Aku belikan minuman dingin dulu ya." Erik keluar dari butik setelah mengecup dahi Ghea kilat.


"Masnya kemana, Mba?" tanya Mba Sri.


"Beli minuman dingin."


"Ow, maaf ya panas-panas gini, kita suguhinnya teh hangat juga."

__ADS_1


"Gimana sudah pas belum kebayanya?"


"Udah enak pakainya, Mba." Ghea kembali berputar-putar di depan cermin.


Merasa tidak ada jawaban dari Mba Sri, Ghea menoleh ke arah pintu masuk butik.


Semua karyawan butik termasuk Mba Sri berkumpul di depan pintu masuk yang terbuat dari kaca.


Mereka sedang memperhatikan kerumunan orang di pinggir jalan.


"Ada apa, Mba?" tanya Ghea pada salah satu karyawan yang berdiri paling dekat dengannya. Karyawan itu menggeleng tidak tahu. Ghea berjalan maju mendekati Mba Sri yang mematung di depan pintu.


"Ada apa, Mba?" tanyanya lagi.


"Mba, tadi calonnya ... pake kemeja warna apa?" tanya Mba sri hati-hati.


"Biru muda."


Ghea mengikuti arah pandang Mba Sri dan karyawannya. Kerumunan orang-orang itu semakin banyak dan ribut. Di tengah-tengah mereka ada tubuh yang tergeletak di jalan. Ghea menajamkan penglihatannya, banyaknya orang yang mondar mandir membuatnya kesulitan melihat sosok orang yang menjadi pusat perhatian itu.


Samar-samar ia melihat tubuh yang tergeletak adalah seorang pria berkemeja warna ... biru muda.


Ghea segera membuka pintu butik lalu berjalan cepat ke arah kerumunan orang di tengah jalan.


Ia sudah tidak menghiraukan panggilan Mba Sri, saat ia keluar dari butik dengan gaun kebaya pengantin masih melekat di tubuhnya dan ternyata ia berjalan tanpa alas kaki.


'Tidak mungkin!. Jangan .. jangan pleasee ....' Ghea terus bergumam selama berjalan ke arah kerumunan orang di tengah-tengah jalan besar.


...❤❤...


follow ig : ave_aveeii


Ingatkan lagi aahh ..


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol 👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰

__ADS_1


Mampir ke karya teman aku yuk



__ADS_2