
...Melepas kenangan bukan berarti melupakan - Bintang Amalea...
...π»π»π»...
Setelah ngobrol lebih dari satu jam dengan Nina, Lea menghampiri suaminya yang sedang menggambar design kitchen set di teras depan rumah, "Kak Erik," Lea menepuk pelan pundak Erik.
Saat Erik menoleh diberikannya senyuman paling manis.
Hatinya sedang bahagia saat ini sehabis bercerita dan bersenda gurau dengan Nina.
Walaupun topik obrolan mereka tidak ada alurnya dan isinya hanya saling mengolok juga menertawakan diri sendiri, tapi sangat menghibur hati Lea yang sempat suram beberapa saat yang lalu.
Keinginannya untuk segera menjauh dari kampung ini dan pindah ke Surabaya, semakin kuat setelah mendengar cerita Nina betapa luasnya dan serba adanya di kota besar itu.
"Kenapa?, wuiih ... terang sekali wajahmu, lagi senang rupanya?" Erik menaruh pensil gambarnya lalu menaruh perhatian penuh pada Lea yang sudah duduk dengan manis di hadapannya.
"Tadi aku barusan ngorbol sama Nina kak, terus aku bilang kalau kita sudah menikah. Mmm .. terus aku bilang kalau kita berdua ada rencana pindah ke Surabaya." Lea berhenti bercerita sambil menunggu reaksi dari Erik.
"Lalu?" karena Lea masih terdiam menatapnya Erik bertanya.
Sebenarnya dia tahu aja kalau Lea ada rasa ragu menyampaikan hal ini.
"Ya ituuu ... aku bilang kalau Kak Erik mau perluas usaha di kota besar." Lea melanjutkan ceritanya dengan suara lirih, sambil tangannya mempermainkan ujung roknya.
Ia masih merasa tidak enak pada Erik, karena gara-gara permasalahannya Erik harus ikut terseret sejauh ini dan sekarang pun masih dibutuhkan pengorbanannya.
Lea mendongak menatap wajah Erik, karena sudah beberapa saat tidak ada suara tanggapan yang dikeluarkan Erik atas ceritanya.
Saat manik mata mereka bertemu, Erik ternyata sedang menatapnya dengan sorot mata sendu namun senyum terulas tipis di bibirnya.
"Sudah gitu aja ceritanya?, berjam-jam bicara di telepon cuman segitu aja isinya?" Erik bertanya sambil mengangkat kedua alisnya tapi tetap dengan sorot mata yang sendu.
__ADS_1
"Aku sudah tahu, dengar aja kok semuanya yang kamu bicarakan dari tadi sama Nina. Suara kamu ngobrol di dapur tadi, kedengaran sampai luar sini ... hhmm dasar perempuan, baru ketemu lewat telepon aja sudah rame banget. Sudah mulai kelihatan nih tanda-tandanya calon ibu-ibu cicitipi dan mbah gugel." Kali ini Erik tertawa sedikit lebih lebar.
"Iiihh ... mulai nih Kak Erik." Lea mulai mendaratkan beberapa cubitannya ke pinggang Erik. Beberapa saat mereka terlihat bercanda, Erik tampak berusaha menghindar dari serangan jari Lea sambil tertawa.
Sebentar kemudian raut wajah Erik berubah serius dan ia memegangi kedua tangan Lea, dengan sedikit menarik tangan Lea mendekat ke arahnya posisi mereka sekarang duduk berhadapan.
"Kamu sungguh benar-benar ingin pindah ke Surabaya?" tanya Erik lembut.
Lea tidak menjawab hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Sebenarnya dia juga ragu, tapi sepertinya ia tidak punya pilihan yang lebih baik saat ini.
Jalan inilah yang terbaik untuk menjauh dari sumber masalah.
"Kalau kamu benar-benar sudah mantap .. aku setuju aja." Sebelah tangan Erik membelai pipi dan rambut Lea, sedangkan satu tangannya lagi masih memegang kedua tangan Lea.
"Bagaimana dengan ... rumah ... dan kerjaan Kakak?" tanya Lea ragu.
"Semalam sudah aku pikirkan kalau masalah rumah. Rumah orang tuaku ini rencana aku mau sewakan atau jual, nanti aku titipkan segala urusannya sama Pak Setyo. Untuk rumah orang tuamu, terserah baiknya bagaimana kamu lebih berhak menentukan."
"Aku ikut apa kata Kak Erik aja mana baiknya, disewakan boleh dijual juga tidak apa-apa." Erik tersenyum mengangguk.
"Jadi Kak Erik setuju?" Mata Lea berbinar memandang Erik.
Hanya anggukan kepala dan senyuman mengiyakan yang Erik berikan.
Reflek Lea memeluk Erik dengan erat, pelukan pertama setelah pernikahan mereka, sekaligus kedekatan paling intim pertama setelah pernikahan mereka.
Sikap Lea yang tiba-tiba itu membuat Erik terkesiap kaget tidak menyangka.
" ... Eehh iya ... iya, kamu bisa sampaikan sama temen kamu si Nina ceriwis itu, setelah semua urusan selesai disini segera mungkin kita berangkat ke Surabaya." Kata Erik pelan sembari mengurai pelukan mereka.
Lea mengangguk dengan semangat, lalu berlari kecil masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Tinggalah Erik sendiri yang sibuk mengatur deru jantung dan nafasnya.
...πΉοΈ...
Satu persatu dengan perlahan, Lea menaruh barang-barang milik almarhum ibunya masuk ke dalam kardus kosong yang telah ia siapkan beberapa.
Ia harus segera mengosongkan rumah milik ibunya ini dan memindahkannya ke rumah Erik, yang selama ini mereka tinggali bersama.
Rumah peninggalan ibunya ini dalam waktu beberapa hari kedepan akan ditempati oleh orang baru.
Sedih rasanya banyak sekali kenangan bersama Ibu dan Ayahnya di tiap sudut rumah ini.
Namun semua pada akhirnya harus ada pilihan yang berani, jika kita akan melangkah menuju ke masa depan yang lebih baik.
Apalagi uang hasil penjualan rumah ini, sangat berguna bagi mereka untuk memulai kehidupan baru di Surabaya.
"Sudah?" Suara Erik terdengar di belakangnya. Entah kapan laki-laki itu masuk.
Suara langkahnya sama sekali tidak terdengar, apa mungkin karena Lea terlalu terhanyut mengenang masa kecil hanya dengan melihat barang peninggalan ibunya.
Lea mengangguk sekilas sambil sesekali menyusut air matanya. "Ini aja?, ada lagi ga?", Erik mengambil alih kardus di tangan Lea.
"Udah itu aja. Sofa, tempat tidur, lemari, biarkan saja terserah orang yang beli nanti mau mereka pakai atau dijual juga ga apa-apa." Sebelum menutup pintu depan, Lea berbalik kembali menatap sekali lagi sekeliling rumahnya. 'Ayah ... Ibu, maaf Lea tidak bisa mempertahankan warisan rumah ini sampai ke cucu cicit Ayah dan Ibu.
Tapi warisan kenangan dan pesan Ayah dan Ibu, akan Lea bawa terus dalam hati kemana pun Lea pergi, meski Lea tidak tinggal di sini lagi tetap Lea akan ceritakan ke anak sampai cucu agar mereka tahu mereka punya Kakek dan Nenek yang luar biasa.' Tepukan ringan Erik di pundaknya menyadarkannya kembali.
...πΈοΈ...
"Baik-baik di sana, Nak. Kalau ga betah ingat pulang sini ya. Jangan khawatir rumahmu pasti bapak jaga dengan baik, cukup rumah Mba Lea aja yang dijual rumah yang ini jangan, bisa buat kalian tempat kembali pulang." Pak Setyo yang sudah bagai Bapak pengganti bagi Erik sejak ia ditinggal pergi kedua orang tua untuk selamanya, terlihat sedikit menitikan air mata saat Erik berpamitan dan menitipkan kunci rumah padanya.
"Terima kasih Pak, saya ga bakal lupa asal saya. Pasti akan sering pulang juga ke sini, makam Ibu Bapak dan mertua kan semua ada disini." Erik balas memeluk erat orang tua di hadapannya yang sudah terlihat ringkih karena usia yang hampir memasuki tujuh puluhan.
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah kendaraan sedan putih mendekat ke arah mereka bertiga yang sedang berbincang di pinggir jalan.
Lea sangat mengenali pemilik kendaraan roda empat itu. 'ada apa lagi ini?' Batin Lea cemas.