
Suara ketukan pintu depan memecah ketegangan di antara mereka. Lea segera beranjak dari tempat tidur, memakai pakaiannya kembali dan merapikan rambut serta wajah seadanya.
"Haaii Mamaaa .... " Nina berceloteh bak anak kecil sambil menggendong Maura.
Senyumnya yang awalnya ceria mendadak lenyap setelah melihat keadaan Lea.
"Lea kamu kenapa?" selidik Nina.
"Ga kenapa - kenapa." Lea berbalik sambil mengambil alih Maura dari gendongan Nina.
"Aku keluar dulu ... ada perlu." Erik menoleh sekilas sambil berjalan melewati mereka berdua, tidak mempedulikan rengekan Maura yang minta di gendong olehnya.
Mata Nina menangkap bekas goresan kuku di leher Erik, dengan cepat ia mengambil kesimpulan ada sesuatu yang terjadi antara Erik dan Lea sebelum kedatangannya.
"Kalian berselisih lagi?"
"Namanya kehidupan rumah tangga pastilah ada selisih paham kecil, itu sudah biasa," sahut Lea sambil tersenyum tipis.
"Memang benar selisih paham, cek - cok pasutri memang biasa terjadi, tapi kalau sudah ada kekerasan secara fisik itu bukan hal yang wajar Lea."
Lea urung menyahuti perkataan Nina, karena langsung dipotong sebelum Lea sempat bersuara.
"Aku bawa tidur Maura dulu, dia seharian capek bermain sama anak yang dibawa dokter Lukman" Nina meraih Maura dari gendongan Lea.
"Dokter Lukman sudah punya anak?, dia sudah menikah?" tanya Lea heran.
"Ga tau anak dia atau orang lain, ga sempat ngobrol lama sih. Memangnya kenapa kalau dokter Lukman menikah terus punya anak?"
"Ya ga apa - apa sih, cuman ... agak melambai gitu ...." Lea meringis kecil.
"Ngaco kamu, jangan punya pikiran jelek justru pria semacam itu setia ga macam - macam. Jaman sekarang justru yang terlihat macho, perut roti sobek, dada bidang macam temannya si brewok itu lebih suka yang punya pedang dari pada yang punya gunung, lembah dan kawah macam kita," sembur Nina tanpa henti.
"Kok kamu yang sewot sih." Lea mengerling menggoda.
"Biasa aja, aku bawa Maura tidur dulu nanti dia teracuni pikirannya kalau dengar pembicaraan kita. Kamu saat aku kembali sudah harus siap cerita apa yang terjadi." Tanpa menunggu Lea menjawab, Nina segera berjalan cepat masuk ke kamar Maura.
Sepeninggal Nina membawa tidur Maura, Lea terpekur mengingat kejadian yang barusan terjadi.
Sikap memaksa Erik sebetulnya wajar karena itu hak dia sebagai suami, hanya caranya terasa menyakitkan hati dan fisiknya. mengapa ia melakukan hal itu di saat hatinya sudah terbelah dengan yang lain.
Awalnya ia pikir semua akan berjalan lancar, Erik akan bersatu dengan Ghea sementara mereka berpisah. Toh mereka berdua belum sempat melakukan hubungan intim jadi belum ada ikatan emosi yang terlalu dalam. Jika sudah begini lalu harus bagaimana?, apalagi ia sudah memberikan harapan bagi Ghea.
__ADS_1
"Hheeuuhh ... " Lea mengeluh panjang sambil memeluk kedua lututnya.
"Ada apa lagi, berat betul kelihatannya." Nina berjalan mendekat dengan obat merah dan kapas di tangannya.
"Saakiiit tauu!." Lea menepis tangan Nina yang dengan entengnya menekan luka di wajahnya.
"Tadi aku lihat ada luka cakar di leher Erik, kalian habis ngapain sih?"
"Bercinta," sahut Lea ringan.
"Habis bercinta tapi wajah ga kelihatan bahagia ... tunggu dulu maksudmu bercinta yang gitu - gituan?" Nina menurunkan tangannya dari wajah Lea dan menatap penuh selidik.
"Iya, memang ada arti lain dari bercinta?"
"Bukannya kamu berencana mau pisah ya?" Lea mengangkat kedua bahunya.
"Apa mungkin ini tandanya aku harus tetap bersama Kak Erik?" Suara Lea terdengar lelah dan pasrah.
"Kalau kamu dan dia bahagia kenapa tidak toh kalian suami istri yang sah."
"Lalu Ghea?"
"Kenapa harus pikirkan orang lain jika hidupmu sendiri kacau."
"Cinta? ... ga tau, cinta itu rasanya bagaimana aku juga bingung. Yang aku rasakan selama ini bersama Kak Erik ... aman, nyaman, damai, bahagia karena dia suka bercanda, dia juga sayang sama Maura. Tapi akhir - akhir ini dia suka marah dan ga sabaran."
"Aman, nyaman, damai. Kayak iklan perumahaan aja." Nina terkekeh.
"Bagaimana perasaanmu saat tahu suamimu sudah tidur dengan wanita lain?"
Lea terdiam cukup lama. Menimbang nimbang perasaan yang ada di dalam hati dan benaknya saat mengetahui Erik dan Ghea bermain di belakangnya.
"Sedih sih, kecewa juga iya, tapi rasa marah seperti cerita - cerita di sinetron ga ada kayaknya," jelas Lea bingung.
"Siang tadi malah aku ke kantor Erik mau ketemu sama Ghea. Aku bilang kalau aku tahu kalau mereka berdua punya hubungan. Ada Kak Erik juga di sana, aku bilang juga kalau mereka berdua saling mencintai baiknya bersatu saja dan aku akan mundur. Karena aku dan Kak Erik meski sah suami istri, tapi belum pernah melakukan hubungan suami istri."
Nina meringis mendengar cerita Lea, "Dan sore ini kalian bercinta?" Lea menunduk tak menjawab.
"Kamu dipaksa?" tanya Nina lagi. "Jadi dari kejadian yang kamu sebut bercinta itu asal luka mu dan Kak Erik?, itu mah bukan bercinta namanya tapi KDRT!" sergah Nina kesal.
"Kamu menikmati ga?" Lea menjawab dengan gelengan kepala.
__ADS_1
"Kalau Kak Erik memintamu dengan lembut dan baik, kira - kira kamu mau ga?"
"Mungkin ... kan setelah Maura lahir aku dekat - dekatan sama Kak Erik sudah biasa aja Nin, ga seperti dulu. Tapi sejak Maura lahir ga pernah tuh Kak Erik berusaha minta gituan sama aku, padahal aku sudah kasih kode - kode masa iya aku terkam duluan. Ga lama setelah itu aku baru tahu Kak Erik punya hubungan dengan Ghea, ya akhirnya aku milih mundur aja kalau Kak Erik memang lebih milih Ghea."
"Kenapa sekarang dia paksa kamu?" Lagi - lagi Lea menaikan kedua bahunya.
"Lalu setelah ini sikap kamu bagaimana?, mempertahankan rumah tanggamu atau tetap dengan rencana semula?"
"Aku lihat dulu beberapa hari kedepan bagaimana sikap Kak Erik. Jujur aku tadi takut banget Nin, Kak Erik seram sekali." Lea mulai terisak mengingat perlakuan Erik padanya.
Pengalaman s*ksual pertama dan kedua Lea sangat menyakitkan dan meninggalkan kesan yang pahit.
Dua orang pria, sosok yang awalnya sangat dia kagumi dan percaya berubah menjadi monster saat di ranjang membuat pandangannya tentang pria tak lebih bagaikan seonggokan daging yang hanya dipenuhi oleh nafsu saja.
"Aku menunggu masa period haidku datang. Jika tidak hamil, mungkin aku akan tetap mundur," jelas Lea mantap.
Nina menarik nafas panjang, "Apapun keputusanmu semoga sudah kamu pikirkan matang - matang. Aku tetap di sampingmu apapun keputusanmu itu."
...๐น๏ธ๐น๏ธ๐น๏ธ...
Langkah kaki Erik yang tidak ada arah dan tujuan membawanya ke depan pintu apartment Ghea.
Jarinya menekan bel pintu dengan tidak sabar.
Saat pintu terbuka Ghea berusaha menutup pintu saat tahu Erik yang datang, namun dengan cepat Erik menyelipkan kakinya sehingga pintu tidak dapat tertutup dengan baik. Posisi Ghea yang lemah di belakang pintu dengan mudahnya di dorong oleh Erik.
"Benar apa yang kamu bilang ke Lea?, kamu mencintai aku?" Erik menekan Ghea ke dinding.
"Lalu kenapa diam selama ini, kenapa menghindar?" kejar Erik.
"Apa yang kamu harapkan?, aku merengek untuk kamu nikahi? ... mimpi!. Kamu pria beristri!, sudah cukup jelas itu jawabannya!," sahut Ghea dengan penuh emosi.
...๐น๏ธ๐น๏ธ๐น๏ธ...
Terima kasih yg sudah like, komen dan vote ๐.
Support teman2 sangat berarti buat jempol saya jadi lebih semangat๐๐ฅฐ.
Jika tidak ada halangan menginjak eps ke 50 saya akan bagi - bagi give away ๐ฅณ
Maaf agak lambat up nya karena dalam perjalanan dr luar kota ๐
__ADS_1
Seperti biasa nih mau promo karya temen author "Hay Pak Guru" karya Susanti