Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Pedekate


__ADS_3

...Waktu tidak pernah salah mempertemukan, masa lalu hanyalah salah satu proses belajar...


...R-L...


...🖤🤍...


Lukman mengajak Nina dan Maura menjauh dari restoran tempat Lea dan Raymond makan, agar tidak mengganggu kebersamaan mereka.


Kebersamaan Lukman dan Nina juga sebetulnya, karena saat ini Lukman sedang dalam tahap pendekatan dengan sahabat Lea ini.


"Dokter ga cerita tentang latar belakang Lea ke Pak Raymond?" tanya Nina.


Sebelumnya Lukman sudah bercerita pada Nina, jika Raymond sepertinya ada hati dengan Lea.


Walaupun sebenarnya Raymond sendiri sama sekali belum mengatakan apapun pada sahabatnya ini tentang perasaannya.


Hubungan yang erat antara mereka berdua, membuat Lukman sangat paham gelagat dan tatapan dari Raymond jika bersama dengan Lea.


"Hmmm ... apa yang harus saya sampaikan? Kalau tentang traumatisnya Lea di masa lalu, sebagai seorang dokter saya ga bisa membuka itu ke orang lain. Meskipun itu sahabat bahkan keluarga sendiri."


"Lihat perlakuan Pak Raymond ke Lea kok gitu amat, katanya suka," cetus Nina.


"Hehehe ... Saya tau betul Raymond itu bagaimana. Menurut saya sih sikap dia ke Lea itu sudah sangat manis dibanding sikapnya ke wanita lain." Lukman tersenyum penuh arti.


"Semoga aja Pak Raymond ga nyakitin Lea seperti Erik. Awalnya saya pikir Erik pria yang tepat, karena dulu kelihatan cinta mati sama Lea. Tapi ternyata perbuatannya lebih menyakitkan."


"Mmm ... bisa ga kita pakai aku, kamu gitu. Ga usah pakai saya ... biar lebih akrab maksudnya," ucap Lukman setengah gugup.


"Bisa," jawab Nina singkat tapi malu, Lukman manggut-manggut senang.


"Tentang Raymond biar aja dia sadar sendiri tentang perasaannya. Aku cuman bisa kasih kode-kode aja, biar dia lebih peka. Mereka berdua sama-sama punya masa lalu yang tidak menyenangkan soal pernikahan, jadi mungkin butuh waktu dan proses. Biarlah mereka sudah dewasa bahkan sudah lebih berpengalaman dibanding kita, benar kan," Lukman mengerling menggoda.


"Hehe ... iya bener dok."


"Eehh, satu lagi jangan panggil saya dok ... dokter. Kamu kan bukan pasien saya, dan lagi ini bukan tempat praktek nanti saya diledek kodok lagi sama laki brewok itu."


"Panggil aja Lukman, atau ... Mas Lukman juga boleh."


"Iyaa ... Mas Lukman," sahut Nina tersipu, tapi ia menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Maura.


...đŸ”šī¸...


"Masih kuat?" tanya Raymond dengan rasa kasihan, melihat Lea sudah kepayahan berusaha menghabiskan makanan yang ada di hadapannya.


"Sedikit lagi," sahut Lea lirih.


"Sudah berhenti." Raymond menyingkirkan peralatan makan dari depan Lea.


"Tapi masih banyak, pak." Lea menahan piring dan sendoknya.


"Kamu mau habiskan semua? kamu memang lapar, atau takut saya suruh bayar?" Suara Raymond sedikit meninggi.

__ADS_1


Lea hanya terdiam karena takut dan malu jika di dengar pengunjung yang lain.


"Dari pada kamu muntah karena kekenyangan di sini, lebih baik berhenti makan sekarang!" Lea langsung menaruh sendok yang dipegangnya sedari tadi.


"Masih banyak pak, sayang ... ga dibungkus bawa pulang?" Raymond yang hendak berdiri, kembali terduduk dan melongo memandang Lea.


"Kalau kamu berani, bilang aja sama pelayannya," tantang Raymond.


"Iya sayang nanti mubazir," tanpa ia duga Lea langsung berdiri menuju seorang pelayan yang sedang membersihkan meja.


"Eehhh, mau kema----" Melihat Lea yang sudah berbicara dengan salah satu pelayan, Raymond dengan cepat menuju kasir menyelesaikan pembayaran.


"Pak kok tadi saya ditinggal?" cetus Lea setengah bersungut.


"Kamu aja yang ga dengar saya panggil tadi," kilah Raymond asal. Padahal sebenarnya setelah dari kasir, ia langsung pergi dan menunggu Lea di pintu luar restoran karena malu.


"Bilangnya mereka tadi kalau sistem makan seperti itu tidak bisa dibungkus, sayang kalau harus dibuang," keluh Lea sedih.


Raymond melirik wanita yang sedang berjalan di sampingnya itu, hatinya menghangat merasa Lea sangat berbeda dari wanita kebanyakan yang selalu memasang gengsi dan harga diri yang tinggi.


"Coba telpon temanmu si Nina itu, mereka bawa kemana anakmu. Khawatir keasyikan berdua Maura ditinggal gitu aja." Lea memandang Raymond ngeri, membayangkan Maura hilang di Mall sebesar ini.


"Nin kamu di mana?" tanya Lea langsung setelah ada jawaban di seberang sana.


"Sudah selesai makan?, kami di cafe lantai bawah dekat tempat pameranmu," sahut Nina.


"Maura di mana?"


"Ow, syukurlah kalo gitu. Aku ke bawah sekarang ya." Lea menutup telponnya sambil tersenyum lega.


Raymond tersenyum geli melihat reaksi Lea yang sedikit berlebihan.


Setelah menerima hasil laporan dari team SPG, Lea menyusul Raymond yang sudah bergabung dengan Lukman dan Nina di cafe area lantai dasar.


"Ayuk Nin pulang," ajak Lea.


"Mmmm ... sori aku pulang sama Mas ... Lukman, mobilku tadi agak ga enak setirnya. Bahaya kalo malam gini, biar besok orang bengkel yang ambil di sini." Sambil menjelaskan mata Nina tak henti-hentinya melirik Raymond dan Lukman yang seakan terlihat cuek.


"Oww, aku ikut Mas Lukman juga kalo gitu ya," pinta Lea pada Lukman.


"Saya naik motor," sahut Lukman singkat.


"Oww ...." Lea tertunduk bingung, jari tangannya mulai mencari aplikasi taxi online di handphone-nya.


Nina tidak tega melihat reaksi wajah Lea yang sedih, ia memilih bermain dengan Maura dan pura-pura tidak melihat.


"Kenapa kamu ga minta tolong saya?" ucap Raymond. Lea hanya menggeleng, tersenyum dan menunduk lagi.


"Malu?, gengsi?, atau takut disuruh bayar lagi?" sembur Raymond dengan nada kesal.


"Aduuuhh, ngapain sih main tendang?" Mata Raymond melotot pada Lukman, merasakan tendangan sepatu Lukman pada tulang keringnya.

__ADS_1


"Ga ada, siapa yang tendang?" kelit Lukman di dukung dengan anggukan kepala Nina.


Lea yang berdiri di belakang kursi Lukman dan Nina, tidak melihat isyarat mata yang dimainkan Nina dan Lukman pada Raymond.


Lukman meminta agar Raymond tidak terlalu ketus jika bicara pada Lea.


"Saya antar." Raymond berdiri lalu mengambil Maura dari pangkuan Nina.


"Jangan pak saya biasa sendiri, ga enak merepotkan terus." Lea hendak mengambil Maura tapi di halangi oleh Raymond.


"Saya ga lagi menawarkan." Tanpa menunggu yang lainnya, Raymond terus berjalan keluar dari cafe.


"Biar Maura saya gendong, dia sudah agak berat." Lea masih berusaha mengambil alih Maura dari gendongan Raymond.


"Maura mau di gendong sama mama atau om?" tanya Raymond manis pada Maura.


Si balita tembem itu hanya terkekeh geli, sambil memainkan rambut di sekitar wajah Raymond.


"Dia sudah memilih," Raymond tersenyum penuh kemenangan.


"Kamu bawakan tas saya aja." Raymond menyerahkan tasnya begitu saja pada Lea, dan langsung berjalan sambil terus bercanda dengan Maura.


Lea berdiri terpaku melihat Raymond sudah menjauh membawa putrinya.


"Buruan nanti ditinggal loh." Nina menepuk bahu Lea.


"Niiinnn, aku ga mauuu pulang sama Pak Raymooond," rengek Lea.


Nina memandang Lea kasihan, "Jangan takut, saya pastikan dia bersikap baik sama kamu malam ini." Lukman tersenyum meyakinkan.


Setelah berulang kali dibujuk oleh Lukman dan Nina, Lea dengan terpaksa menyusul Raymond di parkiran.


"Kalo Pak Raymond kasar lagi sama Lea, kasihan mas," ucap Nina saat Lea sudah menjauh.


"Ga bakal." Lukman tersenyum penuh arti, lalu segera menghubungi Raymond sebelum Lea sampai.


"Kalau benar dia ada hati dengan Lea dan ga bisa jaga bicaranya, ya bakal menyesal lah dia," kata Lukman setelah menutup telpon.


"Memang tadi bicara apa sama Pak Raymond?"


"Ga banyak. Cuman bilang, yang manis dan romantis sikapnya kalau mau William punya mama. Dengar-dengar mantan suaminya Lea mau pedekate lagi."


...❤❤...


Haii ... ssssttt, jangan lupa like, komen, favorite dan votenya untuk Lea dan abang Raymond đŸĨ°đŸ™


Follow IG : ave_aveeii


Lewat lagi promo karya teman aku 🙏


__ADS_1


__ADS_2