Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Papa Maura


__ADS_3

...Kalau dia memang dilahirkan untuk saya, kamu jungkir balik tetap saya yang dapat...


...(Alm B.J Habibie)...


"Anda masih berani datang?" ucap Erik geram.


"Saya di undang." Beni menjawab dengan santai.


"Seharusnya anda malu masih berani menampakan wajah di sini."


"Sudahlah Erik, seharusnya kamu berterima kasih sama saya. Kamu menikah dengan Lea karena dia mengandung anak saya, benar?"


"Seharusnya saya yang marah padamu Erik, kamu ikut menyembunyikan anak saya selama satu tahun," sahut Beni geram.


Mereka berdua terlihat bersitegang, namun masing-masing berusaha menahan emosinya karena tidak ingin mengundang perhatian undangan lainnya.


"Untuk apa anda di sini?, Lea sudah menemukan kebahagiannya jangan pernah anda mencoba untuk mengganggunya lagi," ancam Erik.


"Sudah saya bilang, saya diundang. Bagaimana dengan kamu sendiri untuk apa kamu hadir di pernikahan ... mantan istri settinganmu?" ejek Beni.


"Apa maksud anda?!" Erik sudah mulai terpancing emosinya.


"Kalian dulu menikah karena sepakat menyembunyikan Maura dari saya ... ayah kandungnya, apa mereka sekarang juga menikah karena untuk menjauhkan Maura dari saya? ... drama apa lagi ini?," cemooh Beni sambil memandang lurus pada sepasang pengantin yang turun dari pelaminan dan sedang berkeliling beramah-tamah dengan para undangan.


"Tapi anda benar Pak Beni, saya seharusnya berterima kasih karena berkat anda saya bisa menikah dengan wanita yang dari dulu saya cintai, jadi anda salah kalau mengira saya menikahi Lea hanya karena dia mengandung."


"Lalu mengapa kalian harus bercerai kalau kamu benar mencintai Lea."


"Itu urusan saya, anda tidak perlu tahu."


"Berarti kita sama, tidak bisa mendapatkan orang yang kita inginkan. Tapi setidaknya saya punya Maura," cetus Beni angkuh.


"Sayangnya Maura anak saya, dan ia tidak mengenal anda," sahut Erik tidak mau kalah.


"Kamu lupa, kamu bukan siapa-siapa lagi di hidupnya Lea dan Maura," sindir Beni.


"B*angsat!!" Erik mencengkram kemeja depan Beni.


"Apa yang kalian lakukan?, kalau ingin adu kekuatan area parkir hotel ini masih luas silahkan di sana saja." Raymond menyela pertikaian Beni dan Erik.

__ADS_1


Keributan dua pria itu sudah mulai mengundang perhatian beberapa pasang mata di sekitar mereka.


"Maaf Pak Raymond bukan maksud saya untuk mengacaukan pesta pernikahan anda, tapi kami tadi sedikit berdebat perihal kabar anda menikahi Lea, apakah murni saling cinta ataukah hanya taktik untuk menjauhkan saya dengan anak kandung saya seperti pernikahan yang dilakukan mereka berdua," tantang Beni sambil menunjuk Lea dan Erik dengan dagunya.


"Pernikahan terjadi sudah pasti karena ada maksud yang melatar belakangi ... termasuk juga perasaan cinta," sahut Raymond santai.


"Dalam waktu kurang dari dua minggu??, saat saya datang ke rumah anda membicarakan hak asuh Maura, saya yakin saat itu anda dan Lea tidak ada hubungan apa-apa," cetus Beni curiga.


"Lalu kenapa?, cinta bisa datang dalam sekejap mata bahkan tanpa kita sadari ... bukan begitu sayang?" Raymond menggamit pinggang Lea yang sedari tadi terdiam takut melihat pertikaian Erik dan Beni.


"Omong kosong!" sergah Beni.


"Perlukah saya membuktikan?" Ruangan yang tadi ramai berangsur-angsur senyap hanya musik pengisi acara yang mengalun pelan.


Semua mata sekarang terpusat pada empat orang yang berada di tengah ruangan.


"Heehee ... sebetulnya saya bingung harus bagaimana mengekspresikan bentuk cinta itu dalam waktu singkat, tapi jika itu bisa membuat anda puas ... baiklah." Raymond tersenyum menyeringai.


Ia melirik Lea penuh arti, menarik pinggangnya lebih mendekat hingga menempel erat pada tubuhnya.


Lea yang masih belum mengerti maksud Raymond hanya bisa terbengong saat pria itu menyelusupkan tangan di tengkuknya, dengan sekali sentakan lembut Raymond mendekatkan wajahnya dan mengecup ringan bibir Lea.


Perlahan Raymond menyesap bibir Lea dan semakin memperdalam c*umannya.


Bergetar seluruh tubuh Lea, ia belum pernah merasakan perlakuan yang seperti ini.


Perlahan ketegangan tubuhnya mengendur, ia semakin rileks menikmati perlakuan Raymond pada bibirnya.


Bahkan tanpa sadar, saat ini ia sudah melingkarkan tangannya di leher Raymond.


Lea sudah lupa dengan tujuan awal mereka berc*uman, ia sudah lupa saat ini berada di mana, ia juga sudah lupa siapa saja yang berada di sekitarnya.


Raymond tersenyum di sela-sela permainan bibirnya. Pengalamannya dalam menaklukan wanita membuatnya sangat hafal reaksi alami tubuh Lea.


Saat mereka berc*uman di tengah ballroom, semua undangan serempak bersorak senang dan menyemangati. Namun di antara banyak pasang mata yang memandang mereka, ada dua pasang mata yang terlihat sedih, kecewa dan marah.


Beni mengepalkan tangannya menahan emosi, walaupun perasaannya pada Lea tidak seperti dulu tapi egonya sebagai pria terlukai. Ia yang dulu terobsesi pada Lea, harus jungkir balik hingga harus menggunakan cara licik tetap saja tidak dapat memiliki wanita itu.


Lain dengan Erik, sulit di gambarkan bagaimana perih rasa hatinya saat melihat wanita yang di pujanya, bahkan sampai detik ini sedang berc*iuman dengan pria lain di depan matanya.

__ADS_1


Dulu saat mereka masih sah berstatus sebagai suami istri, Lea tidak dapat tersentuh olehnya meski sehari-hari mereka sangat dekat secara fisik. Sekarang di depan matanya ia melihat Lea memasrahkan diri pada pria lain.


Cemburu?, pasti. Erik memalingkan wajahnya berbalik siap pergi menjauh dari ruangan, sebelum ia bertindak nekat memukul suami sah Lea.


"Paa ... Papaaaa ...." Suara Maura yang memanggilnya menghentikan langkah Erik.


Maura berlari mengulurkan tangan ingin memeluk Erik.


"Heeii sayang, anak Papa," Erik berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Maura.


"Papa kangen sayang," Erik terus menciumi wajah putrinya. Maura sedikit mencebik dengan tetesan air mata di pipinya.


"Paapaa ... ayo pulang huuhuuu ...." Dengan terbata-bata khas anak kecil yang baru belajar berbicara, Maura memeluk Erik erat.


"Nanti pasti papa pulang ya, Maura di rumah jangan nakal papa harus kerja biar bisa beli boneka yang Maura mau kan?" Erik terus membelai rambut putrinya dan menyembunyikan air matanya di pundak Maura.


Beni memandang kedekatan Erik dan Maura dengan perasaan iri. Ingin ia mengambil Maura dari pelukan pria itu, tapi ia sadar putrinya itu belum mengenal siapa dia.


"Papa kerja dulu ya, Maura sekarang sama Mama nanti pasti Papa pulang bawa boneka untuk gadis cerewet ini." Erik mencubit hidung Maura, hingga bocah itu terkikik geli.


Erik menyerahkan Maura ke pelukan Lea dengan rasa nyeri, "Kak ... sering-seringlah datang. Kak Erik tetap papa yang tak tergantikan untuk Maura." Lea berkata pelan setengah berbisik karena takut menyinggung dua pria di sisinya.


"Datanglah kapan saja, jangan sungkan," ucap Raymond sambil menepuk bahu Erik.


Saat Erik pergi, Beni masih termangu di tempatnya menatap Maura di pelukan Lea.


"Jangan mengacaukan suasana, bersabarlah sedikit atau anakmu akan semakin membencimu," cetus Raymond penuh penekanan pada Beni.


...❤❤...


Haaii maap di ingatkan lagi yaa jangan lupa like, komen, rating, vote, favorite dan bunga atau kopinya jika ga keberatan 🙏😁


karena sentuhan jempol teman-teman sumber semangat kami 💪🥰


Saya berterima kasih sekali bagi teman-teman yang sudah mempromokan dan merekomendasikan cerita receh akuuu 🥺 terima kasih banyak yaa 🙏


Promo lagiiii kali ini punya Kak Nadziroh judulnya Berbagi cinta : kisah pilu istri pertama


ramaikan juga yaa 🥰

__ADS_1



__ADS_2