Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Bonchap : Bulan madu modal pinjaman


__ADS_3

"Ada apa ketawa-ketawa?" tanya Lea curiga.


Malam ini mereka menginap di hotel setelah acara pernikahan Lukman dan Nina.


Lukman memberi tiga kamar dalam satu hotel yang sama untuk sahabatnya menginap malam ini. Raymond bersama Lea dan Kanaya, sedangkan Kinanti dan Gilang karena belum menikah harus rela berpisah kamar. Mereka berdua ditemani masing-masing oleh Maura dan William.


Lea yang baru dari kamar Kinanti melihat Maura, memandang curiga pada suaminya yang tersenyum dan tertawa sembari melihat ponselnya.


"Ga. Ga ada apa-apa," sahut Raymond penuh arti.


"Pi, epon om ukman," celetuk Kanaya.


"Ssstttt," Raymond menutup mulut putrinya.


"Bang, usil banget sih. Mereka lagi berduaan kok diganggu," protes Lea.


Ia mengambil ponsel suaminya dan melihat banyaknya panggilan keluar dari Raymond ke ponsel Lukman.


"Ga apa-apa. Biar berkesan."


"Kasian tau."


"Kita juga berkesan malam pertamanya," ujar Raymond seraya menarik istrinya ke dalam pelukan.


"Jangan diingatkan," Lea tersenyum malu. Malam pertamanya bukan cerita yang mengesankan untuk diceritakan malah memalukan baginya.


"Jangan mau kalah sama Lukman dan Nina yuk," bisik Raymond.


"Mama." Saat bibir mereka hampir bertemu, Kanaya bergerak mendekat.


"Tidurkan dulu," bisik Raymond.

__ADS_1


Namun sepertinya putri kecilnya itu, jauh lebih pintar dari Papinya. Raymond lebih dulu terlelap setelah dua jam bosan menunggu Kanaya tertidur.


...❤...


"Hati-hati ya, Nin. Have fun kalian di sana," Lea memeluk sahabatnya dengan erat.


"Jangan lupa oleh-olehnya," pesan Kinanti.


Mereka sedang mengantar Lukman dan Nina yang akan berangkat berbulan madu ke tiga negara selama satu bulan.


"Mau bulan madu kok sedih, Man?" sindir Raymond.


Lukman menarik nafasnya berat, "Ga. aku ga sedih. Cuman mikir kerjaan aja, tapi ga masalah asistenku sudah siap. Ada dokter pengganti juga selama aku ga ada di sini," ucap Lukman.


"Alaah, pasti mikirin budget bulan madu kan?" goda Raymond, "Pasti kamu lagi berharap banyak orang yang depresi, lalu pergi kosultasi di tempatmu supaya pasienmu bertambah. Ckckckck," Raymond menggelengkan kepalanya.


"Aku ga segila itu, Ray. Ada kode etiknya, jangan mengada-ada," sergah Lukman.


Ia mulai kesal dengan tingkah sahabatnya itu. Belum lagi semalam malam pertamanya hampir gagal, karena ponselnya terus berdering. Ia tidak bisa mematikan ponselnya, karena sebagai dokter ia harus siap dalam segala situasi.


"Hmmm, sombong." Raymond mencibirkan bibir.


"Iya, dong. Lagian aku ga ambil pusing dengan semua biayanya, karena dana pinjamanku sudah disetujui," ujar Lukman seraya tersenyum cerah.


"Pinjam di mana? masak mau bulan madu pake pinjaman, yang bener aja, Man."


"Ini pinjaman spesial. Aku ajukan di kantormu." Lukman tersenyum simpul.


"Hei, sejak kapan kantorku terima peminjaman dana??" Mata Raymond membesar.


"Tenang, hanya aku nasabahnya. Ibu bos yang tanda tangan." Lukman melirik pada Lea yang sedang bergurau dengan kedua sahabatnya.

__ADS_1


Raymond mendengus kesal. Ia selalu kalah taktik dengan Lukman yang terlihat tenang, "Jangan lama-lama pinjamnya," ujarnya kesal


"Beres, apa kata ibu bos aja," sahut Lukman tersenyum penuh arti.


Panggilan keberangkatan pesawat Lukman dan Nina terdengar. Keduanya segera bersiap lalu berjalan masuk ke ruang tunggu sembari melambaikan tangan.


"Kami berangkat dulu. Ray, terima kasih banyak, ya," ujar Lukman bersemangat, "Kamu mau titip oleh-oleh apa? ... ah, ga perlu lah ya, kamu sudah punya segalanya," potong Lukman sebelum Raymond sempat mengeluarkan suaranya.


"Sayang, kamu kasih pinjaman sama Lukman untuk bulan madu mereka?" tanya Raymond saat perjalanan pulang.


"Iya, tapi itu bukan pinjaman."


"Lantas??"


"Hadiah perkawinan," ucap Lea seraya tersenyum lebar.


"Hadiah gimana maksudnya? Maksud kamu Lukman ga usah kembalikan pinjamannya?" Raymond mulai panik.


"Iyaa, emang kenapa? ga besar kok."


"Leaaa, mereka itu tour tiga negara ... sebulan."


"Iyaaa aku tau kan aku yang tanda tangan. Abang kok perhitungan gitu sih buat sahabat dekat sendiri. Usaha Abang ga bakal bangkrut, hanya karena kasih kado untuk bulan madu mereka."


"Tapi Lea ...." Raymond merengek sedih.


"Apa?!"


"Ga apa-apa," lanjut Raymond pasrah. Ia membayangkan Lukman sedang menikmati uang ratusan juta miliknya selama satu bulan penuh, dengan senyuman penuh kemenangan.


...❤❤...

__ADS_1


Bonchap tiga pria gagal dewasa selesai sampai di sini dulu ya, lumayan pengobat rindu 🥰


Nantikan Bonchap selanjutnyaa


__ADS_2