Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Kenangan


__ADS_3

Lea masih terdiam memikirkan jawaban yang tepat untuk wanita di hadapannya.


"Willi ...." Dea tersenyum lebar menatap ke arah lantai dua. Lea mengangkat kepalanya, William berlutut sedang mengintip mereka dari balik pilar pembatas lantai dua.


"William, ini mami." Dea berdiri dan berjalan ke arah tangga.


Lea dengan cepat menghalangi langkah mantan istri suaminya itu, sebelum kakinya menjejakan di anak tangga pertama rumah mereka.


"Kenapa kamu!" seru Dea merasa di halangi.


"Maaf bukan saya menghalangi ibu bertemu dengan William, tapi saya belum dapat informasi apapun dari suami saya." Lea merentangkan kedua tangannya, menghalangi jalan Dea.


"Saya hanya mau bertemu anak saya ... William, sini Nak." Dea menengadahkan kepalanya meminta William untuk turun, tanpa di duga William justru berbalik masuk menuju kamarnya dan membanting pintunya dengan keras.


"Kamu pengaruhi apa sama anak saya!!" Dea memandang Lea dengan penuh amarah.


"Saya tidak mengatakan apapun, mungkin William belum siap bertemu dengan anda." Lea berkata dengan sangat pelan. Ia masih berusaha menghormati mantan istri suaminya itu.


"Omong kosong!, tidak ada anak yang tidak mau bertemu dengan ibunya. Pasti kamu yang sudah mempengaruhi pikirannya!," tuduh Dea sambil mengarahkan telunjuknya tepat di depan wajah Lea.


"Sekali lagi, saya tidak mengatakan apapun. Sebaiknya anda meminta ijin dulu dengan Papinya untuk mengatur waktu anda bertemu dengan William."


"Saya sudah meminta ijin, dan tentunya Ray mengijinkan saya bertemu dengan buah hati kami." Dea sengaja menyebutkan nama Raymond dengan mesra dan juga menegaskan kata buah hati kami.


"Tapi jika suami saya belum memberi informasi, mohon maaf saya tidak bisa melangkahinya." Lea tetap bertahan di bawah tangga.


"Oww, jadi kamu butuh bukti jika Ray, sudah memberi saya ijin?" Dea mengambil ponselnya dan membuka data percakapan.


Dea menunjukan data percakapannya dengan Raymond tadi pagi, di sana tercantum ada beberapa panggilan dan ada satu catatan mereka berbincang cukup lama sekitar tiga puluh menit lebih.


Kening Lea mengkerut melihat data panggilan di ponsel Dea, suaminya itu berbincang dengan mantan istrinya. Selama itu kira-kira apa yang mereka bicarakan, mengapa Raymond tidak memberitahunya jika sudah mengijinkan Dea bertemu dengan William.


"Maaf, bukan tidak percaya saya harus mendengar sendiri." Lea memberi isyarat pada Mbok Nah yang sedari tadi berdiri di ambang pintu dapur dengan waspada, untuk mengambilkan ponselnya yang tertinggal di dapur.


"Silahkan," Dea tersenyum penuh arti saat Lea berulang kali mencoba menghubungi Raymond, tapi tidak ada jawaban.


Ia tahu ponsel Raymond pasti rusak karena ia sempat mendengar ponsel itu terbanting jatuh sebelum panggilan terputus.


"Bagaimana?" tanyanya saat wajah Lea dipenuhi kecemasan.

__ADS_1


"Sudahlah, saya hanya ingin bertemu anak saya." Dea mencoba melangkah maju, namun tangannya dicekal Lea.


"Maaf sebelum suami saya mengijinkan, saya tetap tidak bisa membiarkan anda bertemu dengan William."


"Siapa kamu berani menghalangi saya?!, saya ibunya William!, kamu tidak ada hak melarang saya bertemu dengan anak saya, kamu hanya ibu tiri!" Dea terus berkata dengan suara yang nyaring, berteriak di depan wajah Lea.


"Saya memang tidak punya hak, tapi Papi dari William punya hak dan beliau memberikan amanah pada saya untuk menjaga anaknya."


"Minggir!" Dea berusaha mendorong tubuh Lea ke samping. Lea dengan susah payah bertahan dengan berpegangan pada ujung pegangan anak tangga.


"Nyaa ... Nyonyaaa, aduuh jangan kasar gituu. Nanti tuan marah, kalau ribut-ribut malah Nyonya ga bisa ketemu William kan gawat. Di sini ada cicitipinya loh." Mbok Nah menahan tangan Dea yang sudah memegang bahu Lea.


Sengaja ia menakuti Dea tentang adanya CCTV di dalam rumah, padahal alat itu belum sempat terpasang karena rumah masih baru.


"Lihat saja, kamu akan menyesal sudah melarang aku untuk bertemu dengan anakku," ancam Dea sebelum pergi berlalu dari rumah mereka.


Lea terduduk lemas di anak tangga setelah suara mobil Dea terdengar menjauh.


"Mbok, tolong lihatkan William di kamar ya." Lea ingin segera naik melihat kondisi William, tapi tiba-tiba perutnya nyeri seperti ditusuk.


Selang beberapa menit kemudian Mbok Nah turun dari lantai dua, "Ga dibuka pintunya, saya sudah ngetok bolak-balik tetap aja."


"Kenapa Nya?, mungkin kaget gara-gara kelahi sama bu Dea. Nyonya istirahat aja di kamar, nanti saya bawakan teh hangat ya." Mbok Nah menuntun Lea hingga sampai di lantai dua.


"Terima kasih ya Mbok."


Setelah memastikan Maura tetap terlelap di kamarnya tidak terganggu dengan suara keras Dea, Lea menuju ke kamar William.


"Will ... William, ini Mama jangan takut. William baik-baik aja kan?, kalau cari Mama, Mama ada di kamar ya." Setelah mendengar sahutan dari dalam kamar, Lea menuju kamarnya dan berbaring di ranjangnya.


Lea terbangun saat ada tangan kecil yang merangkulnya dari belakang. Rupanya ia tertidur setelah meminum secangkir teh hangat yang dibawakan oleh Mbok Nah ke dalam kamar.


"William?" Lea berbalik, menghadap putra sambungnya. Wajah William sembab dengan mata yang masih merah.


"Kenapa?" Lea mengusap rambut William dengan sayang.


"Takut ... aku takut." William kembali menangis, wajahnya ia sembunyikan di balik bantal.


"Willi takut apa?, mau cerita?, Mama mau kok dengarkan," dengan sabar Lea menunggu hingga isakan William sedikit mereda.

__ADS_1


"Aku ga mau dengar Papi dan Mami bertengkar ... aku takut. Suaranya keras sekali." William menutup kedua telinganya.


"Papi sama Mami William ga bertengkar kok, ga ada kan Papi marah-marah tadi?"


"Tadi Mami mau ketemu sama William ... Willi, mau ketemu sama Mami?" tanya Lea perlahan. William mengangkat wajahnya.


Ia mengangguk pelan, "Tapi takut."


"Takut sama siapa?"


"Nanti Papi marah, aku juga ga suka sama teman Mami." Wajahnya mengeras, persis seperti Raymond jika sedang menahan amarah.


"Teman Mami jahat, dia pukul Papi sampai mukanya berdarah. Mami ga nolongin Papi tapi malah tolongin temannya. Aku ga suka!" William kembali histeris.


Lea mengerti kenangan masa lalu yang buruk walaupun singkat, sangat membekas di ingatan anak saat mereka masih belia.


William hanya tahu malam itu Papi dan Maminya bertengkar hebat, saling memaki dan berteriak. Papinya saling memukul dengan teman Maminya, dan Maminya hanya menolong temannya bukan Papinya.


Setelah itu yang dia ingat Papinya mengusir Maminya, tanpa memberi kesempatan sekalipun untuk memeluk dan menciumnya. Hanya itu yang melekat di ingatannya, soal apa dan penyebabnya ia sama sekali belum mengerti.


"William ga perlu takut, sekarang ada Mama. Kalau William takut nanti sembunyi di belakang Mama oke?" Lea tersenyum sambil menyodorkan jari kelingkingnya yang disambut William dengan tersenyum.


"William kan sekarang dah gede, dah delapan tahun loh. Katanya mau kuat seperti spiderman, kalau masih takut dan nangis seperti ini siapa yang lindungin Mama sama adek Maura." Lea memasang wajah sedih.


"Aku janji ga takut lagi, sekarang aku kuat karena harus bisa jaga adek Maura sama Mama." William duduk dan bersandar di bantal yang ditumpuk lalu mengusap linangan air mata di pipinya.


"Naah gitu dong." Lea mengacak rambut coklat William.


"Ma," panggil William ragu.


"Jangan bilang Papi ya kalau tadi ada Mami ke sini. Aku ga mau lihat Papi sama Mami bertengkar lagi." Sesaat Lea tercenung mendengar permintaan William, setelah itu ia mengangguk setuju.


...❤❤...


Yeaaii ga terlalu malam seperti kemarin yaa 🤗


Ingatkan lagi jangan lupa like, komen dan Votenya temaannn 🙏❤🥰


Ini ada promo novel punya teman sesama author. Meski judulny Reymond tapi bukan Raymond milik Lea ya 😅

__ADS_1



__ADS_2