Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Shopping time


__ADS_3

Mendapat lirikan tajam dari Raymond, Lea memilih beringsut mundur ke arah belakang tubuh Kinanti.


"Team kami sudah siap pak," jawab Kinanti dengan tegas. Raymond menimpali hanya dengan mengangguk sedikit tak acuh.


Ia melangkahkan kakinya menyusuri sela-sela mobil dan motor CBU (completely built up) yang akan di pamerkan dalam minggu ini.


Beberapa gadis SPG terlihat mengikuti langkah Raymond berharap sang bos membutuhkan sesuatu, dan mereka berlomba paling terdepan untuk membantu.


"Itu siapa Kin?" bisik Lea.


"Pak Raymond, bos kita. Duda anak satu yang jadi topik obrolan di mobil tadi," jelas Kinanti sambil merapikan tumpukan brosur.


"Oww yang dibilang AC DC, ga ada goa sumur pun jadi?" Lea terkikik geli mengingat pembicaraan saat di mobil tadi, tapi tidak dengan Kinanti yang memasang wajah datar menatap lurus ke arah belakang punggung Lea.


Seketika punggung Lea terasa dingin seperti ada bongkahan es batu yang mengalir di kulitnya.


Bibir Lea bergerak tanpa suara bertanya pada Kinanti 'Siapa?, Pak Raymond?' Kinanti mengangguk halus hampir tak terlihat.


Lea menegakan badannya berjalan maju perlahan menjauhi sosok yang ada di balik punggungnya saat ini.


"Kamu." Suara Raymond memanggil seseorang. Lea terus berjalan merasa bukan dia yang di maksud.


"Lea." Kali ini suara Kinanti memanggilnya. Lea berhenti lalu berbalik menghadap Kinanti dan Raymond yang sedang menatapnya.


Kinanti memberikan kode agar kembali berjalan mendekat padanya.


"Ini karyawan baru yang akan membantu saya, namanya Bin--" Telapak tangan Raymond terangkat menghentikan ucapan Kinanti.


"Saya ga butuh namanya, saya hanya tidak suka penampilannya. Kamu perbaiki dia kalau tetap ingin dia kerja di sini." Raymond berkata datar tanpa melihat pada Kinanti maupun Lea.


"Baik Pak," sahut Kinanti sopan.


Raymond berlalu pergi dengan gumaman 'Bikin sakit mata aja' yang masih sempat terdengar oleh Kinanti dan Lea.


"Baru permulaan, anggap saja yang tadi itu pemanasan." Kinanti tersenyum kecut sambil merangkul bahu Lea.


Lea terduduk lemas, setelah sepuluh menit yang menegangkan tadi.


Aura Pak Raymond terlalu kuat dan mengintimidasi baginya, belum saja berbicara secara langsung tapi sudah sangat menguras tenaganya.


"Besok pakai baju yang sedikit menarik ya. Kita kan kerjanya di tempat umum memasarkan produk yang mahal dan limited, jadi penampilan harus menyesuaikan."


"Aku bukan bilang pakaianmu jelek, bagi aku sih sudah cukup bagus seperti ini tapi yaah ... dengar sendiri kemauan bos." Kinanti merasa tidak enak dengan perubahan wajah Lea.


Lea memperhatikan pakaian yang digunakannya saat ini. Kemeja formal lengan panjang warna putih polos, rok pensil warna hitam di bawah lutut dan sepatu hak datar warna hitam.


Masih terlihat normal sih untuk karyawan yang baru masuk di hari pertama, tapi jika dibandingkan dengan rekan sekerjanya penampilannya seperti anak culun yang baru magang kerja.

__ADS_1


Hhhhh ... sekarang kan ibaratnya memang baru magang. Mau beli baju baru ga punya dana lebih. Pinjam baju sama Nina jelas ga mungkin bentuk tubuh saja sudah beda, pakai uang Kak Erik ... jangan aah. Lamunan Lea terhenti saat Kinanti menepuk pundaknya.


"Ayo." Kinanti mengambil tasnya lalu berjalan menjauhi lokasi pameran.


"Kemana Kin?, terus ini?" Lea menunjuk area pameran yang sudah semakin ramai oleh pengunjung.


"Sebentar aja, ga perlu khawatir mereka sudah biasa. Ayo buruan mumpung Pak Bos ga ada." Kinanti mulai berjalan cepat.


Langkah Kinanti berhenti di salah satu toko yang menjual baju wanita. Tangannya dengan lincah membuka deretan baju beraneka model yang tergantung.



"Coba ini ... ini, lalu ini." Kinanti memberikan tiga pasang baju kerja yang terlihat fashionable.


"Buat apa?" tanya Lea heran.


"Buat kamu pakailah, buruan waktu kita tidak banyak." Kinanti sedikit mendorong Lea menuju kamar pas yang ada di pojok ruangan.


Lea mulai mencoba satu persatu pakaian yang diberikan Kinanti. Tidak hanya satu atau dua pasang tapi berpasang-pasang baju di masukan ke dalam ruang pas untuk dicoba Lea.


Setelah memilih beberapa pasang baju, Lea keluar dari toko dengan menenteng dua tas belanja yang besar.


Kakinya kembali mengikuti Kinanti yang saat ini memasuki toko tas dan sepatu.


"Kin ...." panggil Lea dari pintu toko. Ia enggan mengikuti Kinanti karena tadi di toko baju sudah merasa cukup banyak uang yang keluar.



Kinanti memilihkan beberapa pasang sepatu dan memberikannya pada Lea.


"Terlalu tinggi Kin aku ga biasa." Lea menggeleng.


"Dari sekarang dibiasakan, ini ga terlalu tinggi kok, cuman lima senti coba dulu deh." Kinanti memaksa.


"Tuuh cakep kan." Kinanti tersenyum puas dengan pilihannya.


"Ini sama aja belum gajian sudah numpuk hutang," keluh Lea sambil menenteng beberapa tas belanja di tangannya yang semakin banyak.


"Yup memang betul, tidak ada yang gratis nona." Kinanti tersenyum simpul.


"Astaga, kamu dan Nina ternyata sama saja." Kinanti semakin tergelak melihat wajah putus asa Lea.


"Kamu ga mau kan penampilanmu besok di cecar lagi sama Pak Ray?, pakaian yang tadi kita beli cukup untuk kamu pakai berganti-ganti dalam seminggu. Untuk membayarnya potong gaji tiap bulan, dengan begitu apapun yang terjadi wajib betah kamu kerja di sini titik no debat." Kinanti tersenyum penuh kemenangan.


Lea yang semula cemberut kembali tersenyum lepas, "Terima kasih banyak ya Kin, kita belum lama kenal tapi kamu sudah banyak bantu aku."


"Teman Nina, temanku juga. Aku sudah tahu dari Nina tentang kondisi rumah tanggamu saat ini, dulu sebelum seperti ini aku juga susah dan punya masalah seperti kamu. Jadi apa salahnya kita saling membantu."

__ADS_1


...🔹️🔹️🔹️...


"Kamu belanja Lea?" Erik melebarkan matanya melihat banyaknya tas belanja yang tersusun di lantai kamar.


"Baju kerja kak, dibelikan dulu sama atasan aku nanti potong gaji." Perlahan Lea menyusun barang belanjaannya. Pulang kerja tadi ia tidak sempat merapikan karena masih harus mengurus Maura terlebih dahulu.


"Kamu jadi kerja?" Intonasi Erik sedikit meninggi.


"Sepertinya aku sudah cerita deh. Kak Erik aja yang kurang perhatian akhir-akhir ini."


"Ya benar kamu pernah bilang kamu mau kerja, tapi aku kan belum mengijinkan kamu kerja Lea."


Lea diam tidak merespon, bukan karena tidak bisa menjawab hanya saja merasa malas dan habis tenaga untuk berdebat.


"Kembalikan semua barang-barang itu, dan kamu tidak perlu kembali bekerja," lanjut Erik dengan tegas.


"Ga bisa dong kak, ini kan sudah dibeli dan sesuai ukuran aku masak dikembalikan. Ga sopan namanya." Emosi Lea mulai tersulut.


"Siapa atasanmu?, kenapa dia baik sekali mau membelikan banyak barang mahal seperti ini, dia suka sama kamu?, kamu ada main sama dia?" Erik berjalan mendekat dengan mata mengancam.


"Apa-apaan sih, atasanku namanya Kinanti dari namanya jelas kan dia wanita. Aku ga seperti Kak Erik gampang banget cinta lokasi."


Plaaakk!


Telapak tangan Erik mendarat sempurna di pipi kiri Lea.


"Kak Erik kenapa jadi kasar gini sih?" Lea memandang Erik tidak percaya.


"Aku begini juga karena kamu!"


...🔹️🔹️🔹️...


Terima kasih like, komen dan votenya 🙏🥰


Yang tanyain abang Raymond bentar lagi sering muncul tuh 🤗


Note :


CBU :  merupakan singkatan dari completely built up. Mobil dengan label CBU adalah yang diimpor langsung dari negara asal dalam kondisi utuh, lengkap. Harga mobil CBU relatif lebih mahal di pasar, karena biaya masuk (ekspor-impor) yang tinggi untuk mengimpor kendaraan secara utuh. (info dari google)


Limited : Terbatas


Fashionable : Modis


Mau kenalkan lagi nih karya teman aku Nazwa Talita dengan judul "Mati Rasa"


__ADS_1


__ADS_2