
Tling … tling … tling Ponsel Lea berdering.
Saat ia akan menjawabnya, panggilan terhenti.
“Siapa?’ tanya Raymond.
“Nina,” sahut Lea ragu. Ia masih memandangi layar ponselnya yang telah gelap.
Tling … tling … tling
Saat Lea baru saja akan menekan nomer untuk menghubungi Nina kembali, ponsel Raymond berganti berdering.
“Siapa?’ Lea balik bertanya.
“Lukman,” sahut Raymond tak kalah herannya. Ia menunjukan nama Lukman pada layar ponselnya.
Lea memberi kode pada Raymond, agar segera menjawab panggilan Lukman sebelum terputus seperti panggilan Nina barusan.
“Halo.” Raymond menjawab panggilan Lukman dengan dahi berkerut.
“Ray, Lea ada di dekatmu?"
“Ada, kenapa?” Raymond melirik istrinya yang sedang menatapnya lekat.
“Bisa agak menjauh dikit?”
“Ada apaan sih?!” sungut Raymond sudah mulai tak sabar, tapi ia tetap mengikuti permintaan Lukman.
Ia membawa ponselnya keluar dari kamar. Memakai bahasa isyarat bibir, ia mengatakan pada Lea bahwa ini hanyalah urusan pekerjaan.
“Ray … Erik kecelakaan,” ucap Lukman pelan, setelah Raymond meyakinkan bahwa ia dalam posisi yang aman jauh dari Lea.
“Bagaimana kondisinya sekarang?” Raymond mengusap wajahnya kasar. Erik memang rivalnya, namun pria itu mempunyai posisi penting di kehidupan Lea dan Maura.
“Sekarang kritis, Ray. Kalian bisa kesini?”
“Maksudnya aku dan Lea kesana?”
“Iya, Ray.”
“Untuk apa?!” seru Raymond dengan suara tertahan, khawatir jika istrinya ikut mendengar pembicaraanya.
“Kami tidak tahu apakah Erik berhasil melewati masa kritisnya malam ini atau tidak. Kalau malam ini dia tidak bisa bertahan … setidaknya Lea tahu kondisinya dan ada di dekatnya, itu jika dia mau.”
“Ghea?” tanya Raymond berbisik.
“Ada … dia seperti mayat hidup. Nina sedang menemaninya.”
__ADS_1
Raymond menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras. Cukup lama ia berpikir lalu akhirnya ia menyanggupi permintaan Lukman.
Ia sedikit keberatan jika Lea ikut mendampingi Erik bukan karena ia cemburu, tapi karena ia khawatir tidak mampu menenangkan istrinya jika histeris di rumah sakit.
“Ada berita penting apa, Bang?” Baru saja pintu kamar terbuka dan Raymond baru selangkah masuk ke dalam kamar, Lea sudah melontarkan pertanyaan, "Nina dari tadi aku telpon juga ga ngangkat,” lanjutnya kesal.
“Yang … ikut yuk.” Raymond memandangnya dengan tersenyum kaku.
“Kemana?” Tatapannya mulai menyiratkan kekhawatiran.
“Jalan aja. Yuk.” Raymond mengulas senyum semakin lebar karena Lea menatapnya curiga.
“A-aku siapkan anak-anak dulu.” Entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdegub lebih kencang. Firasatnya mengatakan ada yang sedang tidak baik-baik saja di luar sana.
“Anak-anak biar sama Mama aja di rumah. Aku pingin jalan berdua aja sama kamu … Aku tunggu di luar ya.” Tanpa menunggu Lea menjawab, Raymond segera keluar dari kamar.
Ia takut jika lebih lama di kamar berdua dengan Lea, istrinya itu dapat berhasil mengorek informasi sebelum mereka tiba di rumah sakit.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Lea sudah keluar dari kamar siap untuk berangkat. Wajahnya suram tidak seperti akan pergi untuk bersenang-senang.
“Sudah siap?” tanya Raymond. Ia hanya melapisi kaos polosnya dengan jaket bomber warna coklat.
“Ma, aku titip anak-anak. Aku sama a---“
“Iya … iya. Berangkat aja, anak-anak biar sama Mama.” Ibu mertuanya langsung cepat menimpali sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
“Oww, anak cantik. Mimpi yaa, tidur sama Oma yaa. Cup … cup … cup.” Ibu mertuanya segera menggendong Maura sebelum bocah kecil itu menarik baju Mamanya.
“Sudah kalian jalan aja sekarang, ini sudah malam. Jangan khawatirkan anak-anak, ada Papa sama Mbok Nah yang bantuin Mama,” usir Ibu mertuanya saat melihat Lea tidak tega untuk meninggalkan Maura yang masih meronta di gendongan Omanya.
Di dalam mobil Raymond masih diam tidak berkata apapun. Lea terus memandangnya dengan lekat, berusaha mencari jawaban dari raut wajah suaminya.
“Kita mau kemana sih, Bang. Ini udah jam delapan lebih loh, ga biasanya Abang ngajakin keluar jam segini.” Lea memandangnya menyelidik.
Perasaannya benar-benar tidak tenang, belum lagi Nina tidak mengangkat dan cepat membalas pesannya. Firasatnya semakin kuat ada yang terjadi karena situasinya sangat tidak biasa.
“Sabar dulu ya.” Hanya itu yang bisa Raymond katakan untuk menenangkan istrinya.
“Siapa yang sakit?” tanya Lea terkejut, saat Raymond mengarahkan mobilnya masuk ke dalam area parkir rumah sakit.
Raymond masih diam belagak sibuk mencari tempat parkir. Ia tidak menghiraukan rentetan pertanyaan yang keluar dari bibir istrinya.
“Ayo, turun dulu.” Raymond membuka pintu mobil di sisi Lea, saat istrinya itu masih duduk diam tidak bergerak.
“Ga mau, Abang bilang dulu siapa yang sakit. Aku ga suka loh main rahasia-rahasiaan gini.” Suaranya sudah mulai serak menahan tangis. Dalam pikirannya melintas bayangan yang tidak-tidak tentang Nina, sahabatnya.
“Ya makanya kamu turun dulu, kita masuk sama-sama. Aku juga ga tahu keadaan di dalam.” Raymond semakin tidak sabar. Lukman dari tadi mengiriminya pesan, menanyakan mereka sudah sampai di mana.
__ADS_1
Lea dengan berat hati turun dan berjalan di sisi suaminya. Langkahnya yang ragu dan melambat, terpaksa harus agak ditarik oleh Raymond agar sedikit lebih cepat.
Dari jauh mereka melihat Lukman yang berdiri dengan gelisah di ujung lorong. Mata Lea mencari-cari keberadaan Nina di sekitar Lukman.
Saat mereka sudah agak lebih dekat, Lea menarik nafas lega saat melihat sahabatnya itu duduk di kursi panjang khusus untuk menunggu pasien.
Seorang wanita berbaju kebaya pengantin putih dengan bekas darah yang berlumuran di tangan serta gaunnya, duduk di sisi Nina. Wajahnya yang pucat dan sembab masih terus meneteskan air mata.
"Ghea?" panggil Lea lirih. Matanya kembali mencari-cari sosok pria yang disebutnya sebagai Papa Maura, tapi ia tidak menemukan Erik ada di antara mereka.
“Kak Erik kenapa, Bang?!” Lea mencengkram jaket dan kaos Raymond lalu mengguncang tubuh suaminya.
Ia tahu suaminya pun mungkin tidak mengerti apa yang sudah terjadi, tapi ia butuh sesuatu untuk melampiaskan rasa khawatirnya.
“Kamu tenang dulu.” Raymond merengkuh tubuh istrinya yang sudah bergetar.
Ghea menoleh ke arah Raymond dan Lea, Ia mulai menyadari kehadiran mantan istri dari calon suaminya.
“Lea ….” Ghea berjalan pelan ke arah Lea yang masih menangis di pelukan suaminya.
Ini pertemuan mereka yang pertama, sejak Lea datang ke kantor mereka dan secara terang-terangan menyerahkan suaminya ke tangannya.
“A-aku minta … aku minta ma-maaf," ucap Ghea terbata-bata. Ucapan maaf untuk yang pertama kalinya setelah Erik dan Lea resmi bercerai.
...❤❤...
Maaf 2hari ga up, saya sempat bingung untuk menulis part ini karena ga nyangka masih banyak yang sayang sama Erik meski sudah menyakiti Lea.
Saya pun baru sadar video promo yang saya buat di IG hampir semua tentang Erik, malah Raymond ga ada 🥺
follow ig : ave_aveeii
Ingatkan lagi aahh ..
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol 👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
__ADS_1